Thursday, December 17, 2009

Asal Mula Cerita Duyung

Kita tentu pernah mendengar tentang kisah putri duyung. Ya.. kisah tentang wanita cantik separuh manusia dan separuh ikan yang hidup di lautan.

Tidak hanya di Indonesia, kisah duyung dikenal luas di seluruh dunia. Tapi tahukah kalian dari mana awal cerita tentang Duyung?

Di tanah air dongeng kisah duyung berasal dari Sulawesi Tengah.

Diceritakan hiduplah sepasang suami istri bersama tiga orang anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sang ayah menanam sayuran dan umbi-umbian di ladang dan mencari ikan di laut. Setiap pagi sebelum berangkat ke ladang, ayah selalu sarapan bersama istri dan ketiga anaknya.

Suatu pagi seperti biasanya keluarga itu sarapan bersama dengan lauk ikan hasil tangkapan ayah mereka. Daging ikan sangat jarang mereka rasakan, hingga menjadi sesuatu yang istimewa. Karena ikan berlebih, ayah berpesan kepada istrinya untuk menyimpan sisa ikan untuk lauk siang nanti.

Menjelang siang hari, si bungsu merengek meminta makan. Sang ibu segera memberinya sepiring nasi bersama secuil lauk ikan. Karena sangat kelaparan setelah seharian bermain, dalam waktu singkat, ikan yang diberikan ibu langsung dihabiskannya. Masih merasa lapar bungsu minta tambah.

‘Ibu aku minta tambah ikannya’.

Tapi sedikit saja ya anakku, sisanya buat lauk ayah nanti siang’.

Mendengar itu bungsu tidak puas. Ia ingin menghabiskan semua lauk ikan. Ia mulai menangis.

‘Berhentilah anakku, Sisa ikan ini untuk ayah nanti. Sekarang kau cukuplah dengan
sedikit saja. Besok biar ayah cari ikan lebih banyak’.

Bujukan sang ibu tidak membuat bungsu berhenti menangis, bahkan semakin parah berguling-guling di tanah. Ibu yang tidak sampai hati melihat anaknya akhirnya memberikan semua sisa ikan. Setalah di beri, barulah bungsu berhenti menangsi.
Siang harinya ayah pulang kembali dari ladang. Istrinya segera menyiapkan makan siang. Namun melihat yang disajikan hanya sayur tanpa lauk ikan, ayah bertanya.

‘Mana sisa lauk ikan pagi tadi?’

‘Habis dimakan si bungsu’, jawab Ibu.

‘Lho bukannya tadi aku berpesan agar disisakan utuk lauk makan siang, kenapa kau berikan semua pada si bungsu?’

‘Akupun bermaksud begitu, namun bungsu tidak mau kalau hanya sedikit, ia merengek menangis bergulingan meminta semua lauk ikan. Aku tidak sampai hati melihatnya. Lalu kuberikan semua ikan yang ada’.

Ayah tidak mau mengerti dengan alasan ibu, ia pun marah. Karena merasa sedih, bersalah, dan bingung dimarahi suaminya, malam harinya saat semua tidur ibu pergi meninggalkan rumah.

Keesokan paginya ayah terkejut ibu tidak ada dirumah.

“Ibumu kemana..?”, Tanyanya pada anak tertua.

Tidak tahu ayah..’

‘Ah.. mungkin ibumu pergi ke laut mencari ikan. Lauk ikan kita sudah habis.’, katanya singkat.

‘Baiklah kalau begitu ayah pergi ke ladang, kalian pergilah cari ibumu ke laut, dan minta untuk disiapkan makan siang’. Katanya kepada anak-anak .

Ketiga bersaudara itu lalu pergi ke laut mencari ibu mereka. Tiba di laut mereka tidak melihat kehadiran ibu, mereka terus mencari dan mencari. Menjelang siang karena lelah dan putus asa mereka menangis sambil memanggil-manggil ibu mereka.

‘Ibu..ibu.. pulanglah.. ibu..ibu..’, suara mereka menyayat hati. Tiba-tiba dari arah laut datang sosok ibu menghampiri mereka. Ketiga bersaudara itupun langsung menghambur menghampiri.

‘Ibu.. kemana saja, kami mencari ibu dari tadi.’

‘Ibu mencari ikan buat kalian anakku. Ini ibu mendapat banyak ikan. Pulanglah dan masak untuk lauk makan siang nanti.’


‘Mari ibu, kita pulang bersama’, anak tertua berkata.

‘Tidak. Kalian pulanglah dulu, ibu masih ingin mencari ikan lebih banyak untuk ayah dan kalian.’.

Dan ketiga bersaudara itu pun berjalan pulang.

Saat siang hari, ayah kembali dari ladang. Makanan telah siap di meja berikut lauk ikan.

’Mana ibu kalian?’


‘Betul kata ayah bahwa ibu tadi mencari ikan di laut’.


‘ Lalu sekarang mana?’

‘Tadi kata ibu ia akan menyusul pulang, ia masih ingin mencari ikan lebih banyak.’


‘Ya sudah kita tunggu sebentar lagi’.

Sudah satu jam lebih mereka menunggu tapi ibu belum kelihatan. Ayah yang sudah sangat lapar akhirnya memulai makan siang.

‘Ibu kalian lama sekali, ya sudah mari kita makan duluan saja’.


‘Tapi ayah.. ibu bagaimana? kita tunggu sebentar lagi saja, kita makan bersama ibu’.


‘Ayah sudah lapar, nanti juga bila ibumu sudah lelah dan lapar, ia akan pulang. Kita makan dulu saja’.

Dan merekapun makan tanpa menunggu ibu.

Menjelang petang ibu masih belum pulang. Anak-anak semakin cemas. ‘Ayah, bagaimana ini, ibu belum juga pulang. Sementara hari sudah gelap’.

‘Ya sudah. Cari sana ibu kalian’.

Mereka bertiga bergegas menuju laut mencari ibu. Mencari kesana kemari ibu tidak kelihatan. Setelah lama mencari akhirnya mereka bertiga kelelahan dan menangis putus asa sambil memanggil-manggil ibu.

‘Ibu.. ibu... pulanglah ibu. Ibu..ibu.. ‘, rintihan mereka begitu menyayat hati.
Sesaat kemudian muncul sosok ibu dari arah laut. Ketiga anak beranak tersebut langsung berlari menghampiri.

‘Ibu.. ibu kemana saja, kami sedari tadi menunggu ibu pulang’.


‘Ibu mencari ikan untuk kalian dan ayah nak, ini ibu membawa ikan banyak’.


‘Ikan tadi siang masih ada ibu. Sekarang mari kita pulang. Ayah menunggu ibu’.


‘Tidak bisa anakku. Ibu tidak bisa pulang. Lihatlah ibu’.

Mereka memperhatikan sosok ibu dengan lebih seksama. Dan kagetlah ketiganya begitu mengetahui bahwa separuh tubuh ibu dari pinggang ke bawah berubah bersisik dan menyerupai wujud ikan.

‘Ibu kenapa, ibu kenapa…?’, teriak mereka serempak.

Tidak apa2 anakku. Dengan begini ibu akan lebih mudah mencari ikan untuk kalian. Setiap hari kapanpun kalian ingin ikan datanglah ke laut dan panggillah ibu, ibu akan membawakan ikan yang banyak. Sekarang pulanglah..’

Setelah memeluk ketiga anaknya, ibu perlahan berjalan menuju ke tengah laut, kemudain sosoknya menghilang menyelam ke dalam laut.

Diceritakan kembali dari http://melayuonline.com/


Read more...

Wednesday, November 4, 2009

Pengobatan Baru Lemah Syahwat

Ada kabar bagus nih buat para pria yang menderita impotensi. Atau yang lebih dikenal dengan ‘lemah syahwat’. Penyakit yang konon dapat mengakibatkan hilangnya kejantanan yang memicu jatuhnya harga diri seorang pria dihadapan para wanita. Bahkan namanya saja sudah mendiskreditkan, memberi kesan mengejek dan melecehkan. Lemah syahwat. Syahwat yang lemah, tidak kuat, memble.. Syahwat pecundang.. !!.  :))

Tidak heran bila banyak penderita ‘lemah syahwat’ atau erectile dysfunction (ED) berusaha sekuat tenaga untuk mengobati penyakitnya ini. Dari mulai obat medis, jamu herbal, pijat, sampai dukun spiritual-pun rela disambangi.

Naahhhh... Sekarang anda-anda penderita ‘memble syahwat’ sudah tidak perlu khawatir lagi. sebuah tehnik pengobatan modern telah dikembangkan untuk mengatasi penyakit ‘sensitif’ kaum adam ini


Sebuah tabung mini berukuran biji beras yang ditanamkan pada daerah tulang panggul bisa membantu pria yang menderita gangguan ereksi. Tak perlu menggunakan obat-obatan seperti viagra, karena peneliti meyakinkan bahwa teknik ini jauh lebih efektif.

Aliran darah yang terhambat pada organ seks pria dianggap sebagai faktor utama penyebab impotensi. Teknik implan (penanaman) tabung atau pembuluh kecil yang terbuat dari metal ini banyak digunakan juga untuk memperlancar aliran darah pada penderita jantung yang mengalami hambatan aliran darah akibat lemak dalam darah.

Keberhasilan teknik tersebut pada penderita jantung membuat peneliti tertarik untuk mengembangkan teknik serupa bagi penderita disfungsi ereksi, yang umumnya menggunakan viagra.

Meskipun viagra dan obat-obat sejenisnya sudah digunakan lebih dari sepuluh tahun, namun tingkat keberhasilannya mengatasi masalah ED dirasa belum efektif. Diperkirakan setengah dari pria yang berumur 40 tahun ke atas mengalami masalah impotensi dan ED.

Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari diabetes, gangguan hormon, stres dan juga depresi. Bahkan, studi terkini menemukan ada hubungan antara gangguan ereksi dengan penyakit jantung.

Layaknya jantung yang butuh suplai darah, alat kelamin pria pun demikian, terutama pada saat terdapat rangsangan. Aliran darah yang terhambat ke daerah penis bisa terjadi karena diet kurang nutrisi, merokok dan kurang olahraga. Prinsipnya sama dengan melancarkan aliran darah pada pembuluh arteri yang mengalirkan darah ke jantung.

Beberapa kardiolog percaya bahwa gangguan ereksi adalah pertanda awal penyakit jantung yang tersembunyi.

Tim dari University Hospital of Wales pun melakukan studi untuk mengetahui pengaruh implan tersebut terhadap 50 pria yang gagal mengobati penyakit disfungsi ereksinya menggunakan obat-obatan.

Pembuluh mini ditanamkan pada bagian dimana aliran darah terhambat, umumnya di bagian iliac artery yang mentransfusikan darah ke hampir setengah dari anggota badan. Dan hasilnya, peneliti menemukan efek positif dan peningkatan kemampuan ereksi penis pada partisipan.

Meskipun teknik implan ini diyakini bisa mengatasi disfungsi ereksi lebih efektif, namun para ahli lainnya khawatir dengan efek reaksi berlebih yang mungkin terjadi akibat goresan metal dalam pembuluh darah yang bisa menutup kembali aliran darah.

Untuk itu, obat pendamping pun perlu digunakan untuk untuk mengimbangi reaksi balik dari penanaman pembuluh mini dari metal tersebut.

Read more...

Wednesday, October 28, 2009

Minyak Telon dan Minyak Kayu Putih

Pernah suatu ketika saya diminta istri untuk membeli minyak gosok khusus bayi. Sebagai seorang suami yang baik dan bertanggung jawab segeralah saya meluncur ke mini market terdekat. Dengan tangkas saya mengambil sebotol minyak kayu putih yang kualitasnya paling baik (setidaknya menurut saya). Yang botol kemasannya berwarna hijau.

Sampai rumah langsung saya serahkan permintaan istri terkasih sembari berlutut di depannya, layaknya seorang pangeran menyerahkan setangkai bunga mawar pada seorang putri. “As you wish..”, ucap saya.

Istri tidak menyahut. Tidak juga mengambil minyak gosok dari tangan saya. Saya yang menunduk segera mendongak. Istri diam tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Matanya menatap wajah saya yang sedikit bingung.

Ini sih bukan minyak bayi..!”, ujarnya sambil mengambil minyak dari genggaman saya. “Ini minyak kayu putih..!!”, tambahnya.

Lha.. memangnya beda..??”, tanya saya yang mungkin terlihat o’on saat itu.

“Ya beda donk mas, dari baunya kan jelas beda. Minyak bayi itu minyak telon. Beda sama minyak kayu putih.”, tambahnya.

“oo.. ya maaf. Sini, biar diganti dengan minyak telon”.

“Nggak usah. Udah gak papa pake ini juga”. Jawab istri. Dia memang lebih senang menggunakan minyak telon untuk bayi ketimbang minyak kayu putih. “Baunya lebih enak..”, katanya ketika ditanya kenapa lebih suka minyak telon.

Naah.. dari sinilah rasa penasaran saya muncul. Apa iya minyak bayi itu bukan minyak kayu putih. Bagi saya koq terlihat sama ya.

Yuk.. mari kita lihat lebih jauh perbedaan minyak telon bayi dengan minyak kayu putih. Yah.. siapa tau anda-anda para pria dan suami muda juga mendapat permintaan yang sama dari istri. Diminta untuk membeli minyak telon bayi. Kan peristiwa di atas tidak terulang pada anda. Haha..

Minyak telon. Pertama kali mendengar namanya saja saya merasa asing. Aneh. Koq ya ada orang yang memberi nama ‘telon’.

Pada umumnya nama minyak-kan berasal dari nama sumber asal-nya. Minyak kayu putih, jelas berasal dari kata ‘kayu putih’. Nama tanaman asal minyak tersebut.
Minyak cendana juga berasal dari nama tanaman penghasil minyak tersebut. Kayu Cendana.
Minyak sereh dari tanaman sereh.
Minyak cengkeh, minyak melati, dan lainnya.

Lha kalau minyak telon? Apa berasal dari tanaman telon..? Atau bunga ‘telon’..?

Ternyata kata ‘telon’ bukan nama sejenis tanaman, kayu,atau bunga. ‘Telon’ merupakan bahasa jawa untuk ‘tiga’. Ya.. ‘tiga’ yang itu!!.
Satu.. dua.. tiga.

Hal ini karena minyak telon terdiri dari tiga bahan utama. Minyak kayu putih, minyak adas, dan minyak kelapa. Karena campuran dari tiga bahan inilah maka diberi nama telon yang berarti tiga.

Aroma khas bayi pada minyak telon berasal dari aroma minyak adas. Minyak yang ditambahkan untuk mengatasi perut kembung. Semakin kuat aroma bayi, semakin banyak campuran minyak adas pada minyak telon. Sementara minyak kelapa ditambahkan sebagai pelembut. Minyak kayu putih mempunyai aroma yang kuat dan rasa yang panas. Karena kulit bayi masih sensitif maka ditambahkan minyak kelapa sebagai pelembut dan pelumas. Bila kandungan minyak kelapa terlalu banyak, minyak telon akan terasa lengket.

Yang perlu diperhatikan adalah expire date. Minyak kelapa mudah teroksidasi dengan udara. Dan seiring waktu minyak menjadi tengik dan mempengaruhi aroma minyak telon.

Naah.. ternyata memang benar minyak telon berbeda dengan minyak kayu putih.

"Oh istriku.. lain kali kalau diminta membeli minyak bayi, suamimu ini tak akanlah salah lagi. hehe.."

Semoga artikel ringan ini bisa membantu anda untuk membedakan minyak telon dan minyak lainnya.

Oh ya, tambahan informasi lagi. sekarang ini minyak telon sudah dicampur dengan minyak sereh. Hal ini membuat minyak telon selain sebagai minyak gosok untuk mengobati kembung dan pemberi rasa hangat, juga bermanfaat sebagai minyak pengusir nyamuk.


Read more...

Wednesday, October 21, 2009

UU Lalulintas No 22 tahun 2009; Belok Kiri Tidak Boleh Langsung

Pada perempatan jalan, para pengguna kendaraan dapat langsung belok kiri meskipun saat itu lampu lalulintas menunjukkan warna merah. Hal ini tentunya sudah diketahui secara umum.

Naahh... sekarang ini hal itu tidak diperbolehkan. Dalam undang-undang lalulintas baru no 22 tahun 2009, belok kiri tidak boleh langsung. Harus mengikuti lampu lalulintas. Bagi pelanggar akan ditilang dan dikenakan denda sebesar 250 ribu rupiah.

Undang-undang baru ini memang dibuat untuk menggantikan undang undang lalulintas sebelumnya, pada undang undang yang lama (UU no 14 tahun 1992), kendaraan yang akan belok kiri pada persimpangan jalan diperbolehkan untuk terus jalan. Undang-undang yang baru hal tersebut dianggap melanggar dan ditilang.

Selain itu besarnya denda bagi pelanggaran lalulintas juga mengalami kenaikan. Secara rata-rata denda tilang pada undang-undang baru naik 4 kali lipat dari undang-undang yang lama.

Peraturan ini memang belum disosialisasikan. Namun perubahan ini sudah final dan pasti. Dalam waktu dekat akan diterapkan di lapangan. Oleh karena itu mulai saat ini harap diingat baik-baik bahwa belok kiri tidak boleh langsung. Jangan sampai anda di ‘peras’ oleh para oknum polisi karena kekurang hati-hatian..

Read more...

Tuesday, October 20, 2009

Prinsip Dasar Spektrofotometer Visible

Dalam dunia analisis kimia dikenal suatu alat yang bernama Spektrofotometer visible. Alat ini berdasar hukum Lambert-beer.

“Jumlah radiasi yang diserap proporsional dengan ketebalan sel (b), konsentrasi analit (c), dan koefisien absorptivitas molekuler (a) dari suatu spesi (senyawa) pada suatu panjang gelombang

Kalimat di atas terlihat sulit untuk dipahami. Dan memang sulit. Biasanya orang tidak mudah untuk mencermati dan memahami tiap kalimat pada hukum Lambert-beer (LB). Belum lagi istilah-istilah yang asing dan tidak biasa bagi kebanyakan orang. Plus persamaan-persamaan yang rumit dan njelimet.

Pada artikel kali ini saya akan menjelaskan sesederhana mungkin. Keluar dari belenggu teoritis dan matematis. Saya menitikberatkan pada prinsip aplikasi alat spektrofotometer ketimbang dasar teori yang melandasi. Istilah asing seperti ‘koefisien absorptivitas molar’, formula hubungan ketebalan media dengan intensitas sinar, tidak akan saya jelaskan detail. Saya mencoba menjelaskan secara sederhana prinsip dasar dari alat spektrofotometer visible (spektro-vis).

Logika prinsip dari alat spektro-vis adalah intensitas warna dari suatu larutan sebanding dengan jumlah cahaya yang serap. Semakin pekat warna, semakin banyak cahaya yang di serap.

Sekarang anda bayangkan sebuah gelas. Gelas tersebut di isi dengan air mineral yang jernih. Kemudian anda lewatkan seberkas sinar melalui gelas tersebut, misalnya dengan lampu senter. Cahaya sinar lampu senter akan lewat dengan mudah bukan..? menembus melalui gelas.

Sekarang coba anda ganti isi air mineral dengan air sirup yang berwarna, katakanlah coklat (sirup rasa coklat). Sekarang coba anda lewatkan cahaya lampu senter melalui gelas tersebut. Apa yang terjadi..? Sinar sulit melewati air sirup berwarna. Memang ada yang lewat, tapi tidak semuanya. Sebagian sinar ada yang di serap oleh warna coklat sirup.

Semakin pekat warna pada sirup, sinar lampu senter akan semakin sedikit yang menembus gelas. Dengan kata lain semakin banyak cahaya yang diserap. Jumlah cahaya yang di serap berbanding lurus dengan intensitas warna. Hal inilah yang mendasari pengukuran spektro-vis.

Pengukuran kuantitatif

Apabila anda mempunyai larutan dengan deret warna yang semakin pekat. Kemudian anda mengukur absorbasinya (jumlah cahaya yang diserap). Maka akan didapatkan suatu kurva linier. Jumlah cahaya yang diserap semakin banyak seiring dengan intensitas warna yang semakin pekat. Deret warna ini dalam dunia analisis kimia di sebut sebagai deret standar. Dan jika suatu larutan telah diketahui absorbansinya, maka konsentrasinya-pun dapat diketahui dengan membandingkan terhadap deret standar. Inilah prinsip dasar pengukuran konsentrasi menggunakan spektro-vis.


Limitasi dalam Spketro-Vis

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah. Pada konsentrasi yang terlalu pekat, kurva deret standar menjadi tidak linier. Biasanya konsentrasi di atas 0.1 M. Hal ini karena pada konsentrasi yang tinggi, jarak antar partikel zat menjadi sangat rapat. Hal ini akan mempengaruhi distribusi muatan, dan mengubah cara molekul melakukan serapan. Oleh karena itu terkadang pada konsentrasi terlalu tinggi kurva tidak linier. Itulah sebabnya pada pembuatan deret standar, absorbansi dianjurkan tidak melebih 1. Jadi absorbansi deret standar ada di dalam range 0-1.


Perbedaan kuvet sangat berpengaruh. Harap selalu gunakan satu kuvet yang sama untuk mengukur absorbansi. Apabila anda terlibat dengan sample yang jumlahnya banyak, dan anda menggunakan kuvet disposable, gunakan kuvet maksimal tiga kali pemakaian. Setelah itu pakai kuvet baru.

Terkadang senyawa analat mengalami reaksi kimia yang lambat dan memerlukan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Hal ini menyebabkan penyimpangan yang signifikan bila pembacaan absorbansi tidak dilakukan bersamaan.

Lakukan pengukuran absorbansi pada panjang gelombang maksimal. Jangan sungkan untuk mencari terlebih dulu pada panjang gelombang berapa sample memberikan absorbansi maksimal. Hal ini untuk meningkatkan sensitifitas analisa.

Read more...

Uji Benedict, Uji Gula Pereduksi (Kualitatif)

Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa.

Nama Benedict merupakan nama seorang ahli kimia asal Amerika, Stanley Rossiter Benedict (17 Maret 1884-21 Desember 1936). Benedict lahir di Cincinnati dan studi di University of Cincinnati. Setahun kemudian dia pergi ke Yale University untuk mendalami Physiology dan metabolisme di Department of Physiological Chemistry.


Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict.

Satu liter pereaksi Benedict dapat dibuat dengan menimbang sebanyak 100 gram sodium carbonate anhydrous, 173 gram sodium citrate, dan 17.3 gram copper (II) sulphate pentahydrate, kemudian dilarutkan dengan akuadest sebanyak 1 liter.

Untuk mengetahui adanya monosakarida dan disakarida pereduksi dalam makanan, sample makanan dilarutkan dalam air, dan ditambahkan sedikit pereaksi benedict. Dipanaskan dalam waterbath selamaa 4-10 menit. Selama proses ini larutan akan berubah warna menjadi biru (tanpa adanya glukosa), hijau, kuning, orange, merah dan merah bata atau coklat (kandungan glukosa tinggi).

Sukrosa (gula pasir) tidak terdeteksi oleh pereaksi Benedict. Sukrosa mengandung dua monosakrida (fruktosa dan glukosa) yang terikat melalui ikatan glikosidic sedemikian rupa sehingga tidak mengandung gugus aldehid bebas dan alpha hidroksi keton. Sukrosa juga tidak bersifat pereduksi.

Uji Benedict dapat dilakukan pada urine untuk mengetahui kandungan glukosa. Urine yang mengandung glukosa dapat menjadi tanda adanya penyakit diabetes. Sekali urine diketahui mengandung gula pereduksi, test lebih jauh mesti dilakukan untuk memastikan jenis gula pereduksi apa yang terdapat dalam urine. Hanya glukosa yang mengindikasikan penyakit diabetes.

Read more...

Uji Kualitatif Karbohidrat

Karbohidrat adalah polisakarida, merupakan sumber energi utama pada makanan. Nasi, ketela, jagung adalah beberapa contoh makanan mengandung karbohidrat.

Penyusun utama karbohidrat adalah karbon, hidrogen, dan oksigen (C, H, O) dengan rumus umum Cn(H2O)n. Karena inilah maka nama karbohidrat diberikan. Karbohidrat berasal dari kata ‘karbon’ dan ‘hidrat’. Atom karbon yang mengikat hidrat (air).

Meskipun beberapa saat kemudian diketahui bahwa hidrogen dan oksigen berikatan bukan sebagai air, namun kata karbohidrat sudah terlanjur meluas dan tetap digunakan sampai sekarang.

Terdapat beberapa cara uji kimia untuk mengenali dan mengetahui adanya kandungan karbohidrat pada makanan (sample).


1. Uji Molisch

Prinsip reaksi ini adalah dehidrasi senyawa karbohidrat oleh asam sulfat pekat. Dehidrasi heksosa menghasilkan senyawa hidroksi metil furfural, sedangkan dehidrasi pentosa menghasilkan senyawa fulfural. Uji positif jika timbul cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan a-naftol dalam pereaksi molish. Uji ini untuk semua jenis karbohidrat. Mono-, di-, dan polisakarida akan memberikan hasil positif.

Cara kerja: sebanyak 5 ml larutan yang di uji (glukosa, fruktosa, sukrosa, laktosa, maltosa, dan pati) dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 2 tetes pereaksi molish (5% a-naphtol dalam 95% etanol), dicampur rata, kemudian ditambahkan 3 ml asam sulfat pekat secara perlahan-lahan melalui dinding tabung, warna violet (ungu) kemerah-merahan pada batas kedua cairan menunjukkan reaksi positif, sedangkan warna hijau menunjukan reaksi negatif.

2. Uji Benedict

Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat (gula) pereduksi (yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas), seperti yang terdapat pada glukosa dan maltosa. Uji benedict berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam suasana alkalis, biasanya ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO3. Uji positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata, kadang disertai dengan larutan yang berwarna hijau, merah, atau orange.

Cara kerja: sebanyak 5 ml reaksi Benedict dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 8 tetes larutan bahan yang diuji dicampur rata dan dididihkan selama 5 menit, biarkan sampai dingin kemudian diamati perubahan warnanya, jika terbentuk warna hijau, kuning atau endapan merah bata berarti positif.

3. Uji Seliwanof

Uji seliwanoff bertujuan untuk mengeahui adanya ketosa (karbohidrat yang mengandung gugus keton). Pada pereaksi seliwanoff, terjadi perubahan oleh HCl panas menjadi asam levulinat dan hidroksilmetil furfural. Jika dipanaskan karbohidrat yang mengandung gugus keton akan menghasikan warna merah pada larutannya.

Cara kerja: 5 ml peraksi dan beberapa tetes bahan percobaan dimasukkan ke dalam sebuah tabung reaksi, lalu dididihkan selama 30 detik, kemudian diamati warna yang terjadi.

4. Uji Iod

Pada uji iodine, kondensasi iodine dengan karbohidrat, selain monosakarida dapat menghasilkan warna yang khas. Amilum dengan iodine dapat membentuk kompleks biru, sedangkan dengan glikogen akan membentuk warna merah. Oleh karena itu uji iod ini juga dapat membedakan amilum dan glikogen.

Cara kerja:
pada papan uji diteteskan bahan yang akan diuji, kemudian ditambahkan dengan satu tetes iodium encer, dan dicampur merata.

Read more...

Monday, September 28, 2009

Mudik: Napak Tilas Kaum Urban


Hari ini hari pertama kembali pada rutinitas kerja. Kembali pada suasana sumpek dan semrawut kota Jakarta. Kembali pada kesunyian di tengah-tengah hiruk pikuk keramaian kota, di tengah ribuan manusia asing yang tak (mau) dikenal. Entah berapa lama nuansa kesegaran desa dan kampung halaman bertahan menghadapi ibu kota Jakarta ini.

Idul fitri kali ini, 1430 H. Merupakan hari raya pertama yang saya jalani sebagai seorang yang sudah berkeluarga. Dengan status baru ini, ritual mudik tetap dijalani. Pengaturan jadwal silaturahim menjadi lebih padat. Diatur sedemikian rupa agar pembagian kunjungan adil dan seimbang antara keluarga orang tua dan keluarga istri. Lelah namun bahagia.

Mudik merupakan fenomena hari raya yang hanya terjadi di Indonesia. Kondisi sentralisasi negara ini menjadikan ibukota sebagai tujuan utama para pencari penghidupan. Arus Urbanisasi tak terbendung. Kaum urban yang telah bertahun-tahun menetap dan menjelma menjadi masyarakat kota memanfaatkan moment idul fitri dan libur panjang untuk kembali menjenguk kampung halamannya. Silaturahim dengan keluarga di desa sekaligus mengenang dan mengingat asal usul mereka. Eksodus jutaan manusia meninggalkan ibukota keluar menuju ke kampung halaman bagai arus balik urbanisasi yang fenomenal. Walau hanya sesaat. Karena setelah musim mudik usai. Jutaan manusia tersebut kembali berbondong menuju ibukota.

Banyak yang memandang negatif kegiatan ini. Mereka beralasan mudik hanya aktivitas pemborosan tenaga, biaya, dan waktu.

Saya membaca satu artikel ulasan mudik yang apik. Saya tulis ulang artikel tersebut.

Mudik, Memasuki Time Tunnel
Oleh: Djoko Suud Sukahar


Jakarta - Hari-hari ini eksodus besar-besaran terjadi di kota. Jutaan orang berserak memenuhi jalanan. Dengan berbagai gaya dan sarana mereka pergi secara bersamaan. Akibatnya tidak hanya terminal, bandara dan stasiun yang sesak, tetapi juga jalan raya. Motor dan mobil dipacu tak istirah, dengan satu tujuan mudik ke kampung halaman. Ini ritus laten yang berlangsung tiap tahun.

Lebaran kian dekat, dan ritus macam itu juga terus terulang. Tidak ada yang merasa jenuh dan lelah menjalani. Suasana riuh-rendah dan crowded di mana-mana menjadi kenikmatan. Di hari menjelang Idul Fitri ini berjubel dalam antrean dan berarak ‘tak beraturan’ di tengah kemacetan bukan lagi beban.

Semua sukacita. Itu bukan prerogatif yang mapan dan kecukupan. Saudara-saudara kita yang tertimpa musibah gempa juga menyambut hari itu dengan batin yang sama. Itu karena di Idul Fitri ini keluarga yang terberai bertemu. Dan suka maupun duka menyatu dalam kisah yang melodramatik.

Menjelang lebaran situasi gabah diinteri memang bukan gambaran suram. Itu seperti surga yang lama dinanti-nanti. Tak hanya sebagai perayaan di hari kemenangan setelah berpuasa, tapi juga sebagai hari untuk berkaca diri dan melihat masalalu. Sekarang inilah saatnya pemudik memasuki ‘time tunnel’. Melakukan napak tilas, memutar ulang jalan setapak dari proses panjang sebuah perjalanan.

Suasana syahdu itu yang terbayang. Beban itu yang tersandang. Menumpuk di sebuah bab dalam buku catatan kegagalan dan keberhasilan dari orang-orang yang berasal dari desa itu. Diary ini tidak pernah dibuka dan tidak pernah diungkap. Kota yang kompetitif membuat semuanya soliter. Hidup sendiri. Langka manusia solider. Tak banyak yang rela berbagi telinga untuk mendengar kisah yang lain.

Di desa, telinga dan anggukan kepala melimpah. Kisah romantis dari kota, betul atau karangan, diamini setulus hati. Mereka bangga warganya berhasil di ‘negeri seberang’. Mereka respek dengan keberanian serta kegigihan siapa saja yang berhasil ‘menaklukkan’ kota besar. Bagi warga desa tidak ada lawan atau kompetitor. Yang ada, semuanya saudara, teman dan handai taulan.

Suasana yang memberi ruang untuk berbagi suka dan duka itu yang lama diidamkan. Salah dan benar tidak disoal, melebur dalam fitrah. Kalau salah dimaafkan,
syukur-syukur benar. Di desa manusia kembali ke asal. Alpa atau sadar semuanya dikemas jadi fitri, tanpa noda. Itu karena sikap tanpa pamrih dan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi soko guru masyarakatnya.

Suasana seperti itu yang paling mahal. Betapa kerinduan terhadap kampung halaman telah mengisi relung tersendiri dalam hati kecil tiap individu. Itu yang sering menggugah alam bawah sadar untuk kembali diputar ulang dan dikisahkan berulang-ulang. Tapi bagaimana mungkin ‘siksa’ menjadi surga hanya sekadar untuk berbagi kisah dan menengok masalalu di desa?

Ada seorang teman yang punya kebiasaan unik tatkala menjelang lebaran tiba. Menunggu berbuka puasa dia ‘ngabuburit’ di terminal. Melihat riuh orang mudik, dan mengamati ‘fashion pemudik’ dengan gaya khasnya membawa dos-dos besar terpanggul di pundak.

Menyaksikan para pemudik itu ‘perang’ berebut naik bus berjejal-jejalan, tiba-tiba airmata sang teman itu meleleh. Mulutnya mendesis pelan, dan dari mulutnya terlontar dzikrullah berulang-ulang. Allah, Allah, Allah, Alhamdulillah ya Allah !

Adakah asma Allah itu ditujukan untuk mendoakan agar sang pemudik selamat sampai tujuan? Ataukah itu lontaran belas kasih terhadap pemudik yang ‘kalah perang’ berjuang memperbaiki taraf hidup di perkotaan?

“Bukan, saya justru rindu menjadi mereka. Saya terharu dengan spirit mereka pulang kampung di hari raya Idul Fitri. Entah, saban tahun saya tak kuasa untuk tidak menangis melihat pemandangan itu. Adakah ini karena saya orang kota yang sudah kehilangan keluarga masalalu saya di desa?”

Subhanallah ! Pulang kampung memang surga. Selamat berlebaran di desa, saudaraku !

Read more...

Thursday, September 24, 2009

Mohon Maaf Lahir Batin..


Masih dalam suasana lebaran. Saya mengucapkan selamat idul fitri 1430 H. Mohon maaf bila ada kata-kata dalam artikel di blog ini yang kurang berkenan dan menyinggung perasaan.

Ini bukan hanya ucapan formalitas lebaran saja. Yang sekedar ucapan 'penggugur kewajiban' tanpa diresapi dan sambil lalu. Yang secara spontan diucapkan ketika bertemu dengan kawan dan tetangga.

Bersalaman, 'minal aidzin wal faidzin', tersenyum, kemudian berlalu begitu saja. Semuanya dilakukan tanpa kesadaran bahwa saat itu kita sedang meminta maaf dan menyesali atas semua kesalahan yang pernah dan mungkin terjadi. Semuanya terjadi tanpa ada peresapan makna bahwa saat itu kita sedang memberikan maaf ikhlas atas semua tindakan dan kesalahan yang orang lain lakukan. Semuanya sekali lagi hanya formalitas dan tindakan rutinitas lebaran belaka. Seperti yang saat ini umum terjadi.

Sekali kali tidak. Saya secara sungguh-sungguh meminta maaf, secara sadar memohon di bukakan pintu maaf. Bila ada kata-kata dalam blog ini yang menyinggung dan menyakiti.


Sekali lagi, selamat idul fitri 1430 H, mohon maaf lahir dan batin..


Read more...

Wednesday, September 16, 2009

Streaming CCTV Jalur Mudik Pantura dan Selatan

Bagi saudara semua yang akan melaksanakan mudik entah itu dengan mobil atau sepeda motor, harus memilih jalur mudik untuk menghindari kemacetan dan hambatan lainnya. Berikut saya berikan link streaming CCTV yang di pasang di beberapa titik di sepanjang jalur mudik di pulau jawa. Semoga bermanfaat.


http://rttmc-hubdat.web.id/rttmc2009/kamera/kamera-peta.htm

Read more...

Friday, August 14, 2009

Efisiensi Sistem Denda Tilang

Seorang kawan baru saja pulang dari tugas luar kota. Di pesawat dia terlibat percakapan menarik dengan seorang penumpang. Berikut cerita kawan saya, sengaja saya menggunakan kalimat langsung orang pertama agar lebih mudah dibaca dan dimengerti.


Di dalam pesawat saya langsung duduk. Di sebelah saya seorang bapak berpakaian batik rapi dan necis. Sekilas wajahnya tampak familiar, tapi saya tak dapat mengingat dimana pernah melihatnya.

Setelah duduk saya mengeluarkan isi saku jaket sekedar merapikan. Karcis tol, tiket pesawat, uang, struk belanja alfamart dan ah ya.. surat tilang. ‘Surat cinta’ dari pak polisi tadi pagi. Sangat menyebalkan.

“Surat tilang..??!”, Bapak berbatik di sebelah saya bertanya dengan senyum manisnya.

Ya. Tadi saat ke bandara buru-buru sampai lupa memakai seat belt”.

Ah ya.. hal yang sering terjadi. Jadi.. Mas-nya lebih memilih untuk di tilang dan ikut pengadilan ketimbang membayar di tempat??, haha.. warga yang baik”.

Saya tidak menjawab. Tak yakin apakah dia tulus atau hanya pernyataan sarkastik belaka.


Tak lama kemudian pesawat lepas landas.

“Sistem yang amat tidak efisien..!!”, Bapak berbatik tiba-tiba bicara setelah hening sesaat.

Apa??”

Itu. Coba pikir, Mas tidak menabrak mobil lain. Tidak melukai orang lain. Tidak mabuk, dan tidak membahayakan orang lain. Mas hanya lupa menggunakan seat belt. Kesalahan kecil yang tak disengaja. Tapi mereka tetap menahan SIM dan Mas harus ke pengadilan untuk membayar denda dan mendapatkan SIM kembali.

Bayangkan berapa banyak orang yang harus terlibat. Polisi harus memproses surat tilang tersebut, kemudian menyerahkannya ke pengadilan, di pengadilan akan semakin banyak orang yang ‘direpotkan’ dan sibuk menyelesaikan berkas-berkas dan urusan administratif lainnya.

Semua orang ini. Sibuk menggeluti sebuah kertas, menghabiskan banyak waktu dan tenaga Untuk apa? Semuanya hanya karena Mas lupa memakai seat belt”.

Bapak itu benar. Saya bahkan tidak berpikir sejauh itu.

“Akan dimengerti jika Mas melakukan suatu kesalahan serius. Namun hanya karena lupa menggunakan seat belt, melanggar marka jalan, salah berputar.. apakah perlu sampai pergi ke pengadilan dan ‘membuang’ waktu semua orang??. Bayangkan semua produktivitas yang hilang. Sekarang Mas harus ke pengadilan dan berada di sana seharian penuh. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja dan kegiatan produktif lainnya”.

“Benar. Lalu apa saran Bapak?”, saya bertanya padanya. Penasaran apa pendapat Bapak sebelah saya itu.

“Idealnya, mereka tidak menahan SIM milik Mas. Hanya memberikan surat tilang dan membiarkan Mas pergi. Mas bisa membayar tilang di Bank manapun, dan selesai. Seharusnya simple saja. Tidak perlu harus berlarut-larut”.

“Tapi..”, Bapak berbatik melanjutkan, “Apakah Mas tau apa yang terjadi kalau hal seperti tadi dilakukan?”

“Sebagian orang akan tidak peduli dan tidak mau membayar denda”, sambar saya.

“Tepat! Dan kenapa bisa begitu?”, tanya Bapak berbatik. Senang karena saya mau mengikuti ‘permainannya’ sejauh ini.

“Karena polisi tidak mempunyai alat untuk memaksa kita membayar. Alasan polisi menahan SIM saya adalah agar saya mau membayar denda tilang”.

“Betul! Tapi bukankah polisi mencatat no kendaraan dan bisa melacak bila Mas tidak mau membayar denda?”.

“Ya, tapi tidak semua kendaraan ter-registrasi dengan nama pemiliknya. Kendaraan saya contohnya. Saya membelinya second dari tangan kedua, dan belum balik nama. Masih atas nama pemilik sebelumnya. Maka jika polisi melacak kendaraan saya, yang mereka dapat adalah nama pemilik sebelumnya”.

“Tepat. Kita semakin dekat dengan akar masalah. Sekarang.. kenapa Mas-nya tidak segera balik nama dan meregistrasi kendaraan atas nama sendiri?”.

“Hmm.. sebetulnya lebih karena biaya yang mahal.. dan teman-teman bilang kalau prosesnya sangat birokratik. Sejujurnya, saya belum pernah melakukan hal-hal seperti itu sendiri”.

“Maka kita harus membuatnya menjadi lebih MUDAH.. dan MURAH..”.

“Sulit dilakukan. Pemerintah ingin mendapat pemasukan sebesar mungkin”, jawab saya.

“Ah.. anak muda. Coba lihat seperti ini. Katakanlah pemerintah membuat proses registrasi balik nama menjadi sangat mudah, hanya 10 menit. Dan biaya dipangkas setengahnya. 50 %. Saya berani bertaruh, orang yang merubah nama kepemilikan kendaraannya akan bertambah signifikan. Mungkin tiga kali lipat. Potong biaya setengahnya, dan pemerintah akan mendapat tiga kali lipat. Dan sebetulnya pemerintah akan mendapat lebih banyak lagi.

Jika semua kendaraan telah ter-registrasi atas nama pemilik sesungguhnya, maka jika ada kasus tidak membayar denda tilang, kepolisian akan dapat melacak mereka melalui no kendaraan, dan memberikan denda berkali lipat. Tambahan uang untuk pemerintah”.

Saya mengangguk. Masuk akal.

Bapak tersebut meneruskan.

“Dengan uang lebih, kita dapat menggunakan sebagian untuk memperbaiki kesejahteraan bapak-bapak polisi kita. Mereka ini bekerja siang malam di jalanan penuh polusi. Juga penuh bahaya. Dengan uang tersebut juga kita dapat melakukan perbaikan peralatan kepolisian. Alat komunikasi lebih canggih, komputer, kamera, mobil yang lebih baik, dan motor. Pada akhirnya mereka akan bekerja lebih baik dan mampu menangkap lebih banyak pelanggar lalu lintas dan membawa lebih banyak rupiah pada pemerintah.

Dan kita. Sebagai warga masyarakat. Bila melakukan pelanggaran dan terpaksa harus membayar denda tilang, akan dengan senang hati membayar karena:
Satu, kita tidak perlu membuang waktu dengan pergi ke pengadilan, dan kedua, kita tau pasti bahwa uang yang kita bayarkan akan betul-betul masuk ke negara bukan ke kantong-kantong pribadi para oknum polisi guna memperbesar perut mereka.

Kepolisian dan pengadilan juga akan senang. Sedikit kasus tilang, berarti semakin banyak waktu untuk mengerjakan kasus-kasus yag lebih penting, seperti korupsi contohnya”.

“Kedengarannya bagus”, kata saya. “Lalu kenapa hal itu tidak segera dilakukan?, kenapa kita masih saja terjebak dengan sistem yang tidak efisien ini?”.

“Coba pikir seperti ini. Ini seperti fenomena reformasi kita”.

“Reformasi?”

“Ya. Sebelum kita mendapatkan reformasi, sebagian orang sangat nyaman dibawah Soeharto. Mereka banyak mendapat harta. Membangun lebih banyak bisnis dan mendapat lebih banyak uang. Maka, ketika Soeharto turun, mereka resistant. Hidup sudah bagus, kenapa di rubah?? Ini dapat dimengerti. Mereka tidak ingin kehilangan investasinya, bisnisnya, semuanya yang telah diperoleh di masa Soeharto.

Persis sama dengan yang terjadi pada sistem perundangan lalulintas kita. Kita perlu membuka mata mereka. Kita perlu meminta mereka, jikapun dengan memaksa seperti pada reformasi kita!!. Suatu mimpi yang indah bukan?”.

“Ya..”, jawab saya.

Orang tua yang sangat mempesona.

(Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI. Mencoba memberi alternatif ide untuk memperbaiki negara tercinta ini)



Artikel terkait : Undang-undang pelanggaran lalulintas No 14 tahun 1992

Read more...

Wednesday, August 5, 2009

Manusia; debu alam semesta

Salah satu cita-cita saya dulu adalah menjadi astronot. Hihi.. cita-cita standar anak zaman saya kalau tidak dokter, presiden, insinyur, ya astronot..

Salah satu motivasi adalah jalan-jalan ke luar angkasa. Saya sering merasa kagum dan takjub melihat foto-foto luar angkasa. Terutama foto-foto planet bumi. Sangat indah menakjubkan..

Membuat kita berpikir tentang kebesaran sang maha Pencipta. Tentang Luasnya jagat raya. Dan tentang betapa kecilnya manusia..

Coba anda perhatikan gambar berikut. Gambar yang membandingkan bumi dengan planet-planet lainnya. Yang menggambarkan bahwa bumi, planet indah yang kita diami ini, sangat amat kecil bagai setitik noktah tak berarti.






Bumi bersama planet-planet saudaranya


Disandingkan dengan matahari kita

Coba perhatikan betapa kecilnya bumi dibanding matahari. Bayangkan kalau bumi saja bagai sebuah titik, apalagi manusia. Ah.. betapa kecil kita.

Masih ingat artikel saya tempo hari. Matahari adalah sebuah bintang. Dan ternyata matahari bukan satu-satunya bintang di alam ini. Masih ada bintang-bintang lain yang ukurannya jauh lebih besar dari matahari kita. Berikut perbandingan matahari dengan beberapa bintang lainnya.



Matahari kita hanya sebesar bola kelereng dibandingkan dengan bintang Arcturus. Dan Arcturus hanya sebesar biji gotri. Antares adalah bintang paling terang ke 15 di langit. Jaraknya sekitar 1000 tahun cahaya dari sistem tata surya kita.

Terdapat ribuan bahkan jutaan galaxy di alam ini. Dan kita, manusia yang menempati setitik 'debu' planet bumi, tak terlihat dan tak berarti tergeletak di sudut alam semesta.

Dan saya heran dengan pertikaian dan perselisihan antar manusia hanya karena perbedaan letak geografis. Beda negara. Beda suku, etnis, agama.. Padahal kita semua menempati satu planet yang sama. Padahal kita semua sama-sama penduduk bumi. Padahal kita semua sama-sama kecil dan tidak berarti dibanding besarnya Sang maha pencipta.

Site terkait: http://forthardknox.com/

Read more...

Monday, August 3, 2009

Selamat tinggal Mbah surip..



Innalillahi wa innalillahi roji'un..

Turut berbela sungkawa atas meninggalnya Mbah Surip (Urip Ariyanto) pada hari Selasa tanggal 04 Agustus 2009 sekitar pukul 10.30 pagi. Semoga semua kebaikan dan amal ibadah di terima di sisi-Nya. Amiinnn..

Selamat jalan, I lo ve u full..

'Ta gendong kemana-mana..
'



NB: Penyanyi fenomenal ini akan dimakamkan di TPU Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedek, Kabupaten Mojokerto.

Read more...

Thursday, July 30, 2009

'Life will find a way..'


Banyak anak banyak rejeki. Demikianlah pameo yang dipercaya masyarakat jawa. Dahulu tingkat kematian bayi saat proses melahirkan masih tinggi. Bayi yang bertahan hidup-pun masih belum sepenuhnya aman dari kematian masa kanak-kanak karena kesehatan yang belum semaju seperti sekarang. Oleh karena itu para orang tua waktu itu berlomba-lomba membuat banyak anak sebagai serep dan usaha ‘menaklukkan alam’. Jikalau satu harus meninggal, toh masih ada yang lain. Masih ada cadangan. Malah tak jarang dari sepuluh anak, yang mampu bertahan hidup hingga dewasa kurang dari setengahnya.

Sekarang pemahaman diatas sudah berubah. Banyak anak tak lagi banyak rejeki, justru sebaliknya, banyak pengeluaran. Banyak kesulitan. Pemerintah bersama masyarakat secara sadar sudah membatasi jumlah anak guna meningkatkan taraf hidup dan yang terpenting guna mengontrol laju populasi. Salah satu masalah utama manusia adalah laju populasi yang terus membengkak sementara bahan makanan semakin terbatas. Dikhawatirkan suatu saat nanti bahan makanan di bumi ini sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan manusia.

Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri kesadaran perlunya upaya mengontrol laju populasi sudah lama berkembang. Sejak tahun 1979, Pemerintah China memberlakukan kebijakan satu anak dalam keluarga di perkotaan. Untuk keluarga di pedesaan dan suku-suku minoritas, mereka diperbolehkan memiliki anak lebih dari satu. Keluarga yang mengabaikan kebijakan satu anak harus membayar denda tinggi, bahkan terkadang mengalami diskriminasi di tempat kerja.

Namun ternyata semua usaha tersebut tidak begitu berhasil. Seperti semua usaha rekayasa terhadap kehidupan, alam pasti tidak akan tinggal diam dan bereaksi guna mencapai keseimbangan. Seperti perkataan Dr Malcolm dalam Jurassic Park, ‘Life will find a way..’


Setelah berjalan, kebijakan itu menimbulkan masalah baru. Proporsi penduduk usia tua dengan usia produktif tidak seimbang. Hal itu juga menimbulkan ketidakseimbangan jender karena secara tradisi anak lelaki lebih disukai sehingga janin anak perempuan kadang dikorbankan. Karena hanya diberi jatah memiliki satu orang anak, maka para orang tua sangat memilih membesarkan anak terbaik. Akibatnya janin perempuan tidak mendapat tempat. Mereka disia-siakan. Tingkat aborsi pun meningkat. Para orang tua lebih memilih menunggu mendapatkan janin laki-laki.

Masalah lain, anak tunggal dalam keluarga cenderung egois dan manja. Banyak anak dijuluki ”Kaisar Kecil”. Selain itu, pendidikan anak dalam keluargapun tidak sehat. Tumbuh jadi anak tunggal juga tak selalu mudah. Banyak orangtua yang menginginkan anak mereka hebat dalam segala hal. Maka, anak satu-satunya harapan keluarga itu harus mengikuti seabrek kegiatan dan tekanan. Orangtua cenderung berharap terlalu tinggi kepada anak semata wayangnya.

Belakangan ini, kebijakan satu anak itu tampaknya akan dikendurkan. Pemerintah malahan mendorong pasangan orangtua agar memiliki anak kedua. Hal itu sebenarnya sejalan dengan harapan para perempuan di China yang menginginkan anak lebih dari satu. China Daily menyatakan, 70,7 persen perempuan China menginginkan anak lebih dari satu, 83 persen menginginkan seorang anak perempuan dan seorang anak lelaki.

Pemerintah Kota Shanghai sangat mendukung kebijakan dua anak. Kota itu memiliki penduduk paling padat di dataran China, 20 juta jiwa. Sebanyak 3 juta di antaranya berusia 60 tahun, sekitar 22 persen dari populasi. Tahun 2020, pangsa itu akan naik jadi 34 persen.

Kebijakan satu anak ini sudah menuai banyak kontroversi baik di dalam maupun di luar negeri karena penegakannya menggunakan kekerasan, seperti aborsi dan kekerasan lain.
Walaupun ada pelonggaran aturan, China tetap bertekad mencapai target menjaga jumlah penduduknya sebanyak 1,36 miliar tahun depan.

Artikel terkait: Kompas, Sabtu 25 juli 2009

Read more...

Friday, July 17, 2009

Demokrasi Spesial Edition


Seorang teman tergopoh-gopoh berangkat ke terminal Kp rambutan mengejar bis damri menuju bandara. Dia harus tiba di bandara sebelum jam 6 pagi guna mengejar pesawat yang akan berangkat jam 06.15.

Sampai di terminal bis bandara masih ngetem menunggu jam keberangkatan. Teman saya segera masuk ke dalam bis. Hampir semua kursi terisi penuh. Suasana begitu dingin dan sepi. Kurang tidur karena harus mengejar bis pagi-pagi sekali, banyak penumpang yang memilih diam dan tidur sejenak sampai bis tiba di bandara.

Sesaat kemudian dua orang laki-laki masuk ke dalam bis. Mereka berjalan menuju kursi belakang sambil mengobrol dengan suara cukup keras. Hal ini mengagetkan beberapa penumpang yang sedang terlelap. Suasana yang semula tenang kini gaduh penuh suara kedua lelaki tadi. Saking serunya topik pembicaraan, mereka tidak menyadari kalau suaranya telah mengganggu penumpang lain.

Bis-pun mulai bergerak maju.

Dua orang lelaki di belakang masih terus berbicara. Bahkan suara mereka semakin keras berusaha mengatasi deruman mesin bis yang sedang melaju.
Beberapa penumpang menengok ke belakang dan menatap kedua lelaki tadi untuk mengekspresikan rasa terganggu mereka. Namun keduanya, entah karena tidak mengerti atau memang tidak peduli, terus saja berbicara dengan suara keras.

Yang menarik, tidak ada satupun penumpang yang berdiri dan memperingatkan kedua lelaki itu untuk diam. Tidak ada. Para penumpang hanya memandang satu sama lain, menggelengkan kepala, dan menengok ke belakang untuk menunjukkan bahwa mereka terganggu. Tapi tak ada satupun yang berdiri untuk menyampaikan ketidaknyamanan mereka.

Mungkin karena para penumpang hanya ingin dibiarkan sendiri. ‘Saya tidak menggangu anda, anda tidak mengganggu saya, kita sampai di bandara, habis cerita..! Kita tidak ingin masalah. Hidup sudah sulit, kenapa harus ditambah sulit dengan masalah baru’.

Apabila kita anggap bis sebuah demokrasi, para penumpang dapat mencari seorang kandidat, seseorang yang mereka pikir dapat merepresentasikan dan mewakili mereka mengatasi situasi tersebut. Yang atas nama mereka, dengan berani berdiri dan menjelaskan pada dua lelaki di belakang bahwa suara mereka telah mengganggu penumpang lain.

Kedua lelaki tersebut akan mengerti, dan paham.. bahwa meskipun teguran itu datang dari satu orang, namun itu mencerminkan keinginan semua penumpang. Kemudian mereka akan mengecilkan suaranya, dan semua penumpang dapat kembali melanjutkan istirahatnya. Dan semua senang.. Hidup demokrasi..!!

Namun sebagaimana demokrasi di Indonesia, demokrasi di bis tadi bisa saja membawa beberapa kemungkinan lain.

Kemungkinan pertama:
Para penumpang akan memilih satu orang wakilnya untuk diberi wewenang atas nama mereka, lalu sang wakil akan pergi ke belakang untuk memberitahu kedua lelaki agar diam. Tapi bukannya memberi peringatan, sang wakil malah ikut bergabung mengobrol dengan kedua lelaki tadi. Suasana menjadi makin berisik. Sekarang para penumpang terjebak dalam situasi yang lebih parah. Tiga orang bersuara keras..!!

Atau kemungkinan lainnya:
Para penumpang memilih wakil mereka, namun tidak ada satupun yang bersedia dan mau mengambil resiko. Tidak ada kandidat..!
Pada akhirnya, satu-satunya orang yang mau untuk dipilih hanyalah kedua lelaki bersuara keras di belakang..!

Read more...

Thursday, July 16, 2009

Macam Spektrofotometri dan Perbedaannya (Vis, UV, dan IR)

Pada artikel tempo hari telah dibahas tentang perbedaan antara spektrometri dan spektrofotometri, serta beberapa istilah yang sering digunakan dalam dunia spektrometri.

Kali ini akan dibahas mengenai jenis spektrofotometri dan perbedaannya. Spektrofotometri terdiri dari beberapa jenis berdasar sumber cahaya yang digunakan. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Spektrofotometri Vis (Visible)
2. Spektrofotometri UV (Ultra Violet)
3. Spektrofotometri UV-Vis
4. Spektrofotometri IR (Infra Red)



1. Spektrofotometri Visible (Spektro Vis)


Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380 sampai 750 nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita, entah itu putih, merah, biru, hijau, apapun.. selama ia dapat dilihat oleh mata, maka sinar tersebut termasuk ke dalam sinar tampak (visible).

Sumber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro visible adalah lampu Tungsten. Tungsten yang dikenal juga dengan nama Wolfram merupakan unsur kimia dengan simbol W dan no atom 74. Tungsten mempunyai titik didih yang tertinggi (3422 ºC) dibanding logam lainnya. karena sifat inilah maka ia digunakan sebagai sumber lampu.

Sample yang dapat dianalisa dengan metode ini hanya sample yang memilii warna. Hal ini menjadi kelemahan tersendiri dari metode spektrofotometri visible.

Oleh karena itu, untuk sample yang tidak memiliki warna harus terlebih dulu dibuat berwarna dengan menggunakan reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagent yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat yang akan dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan harus benar-benar stabil.

Salah satu contohnya adalah pada analisa kadar protein terlarut (soluble protein). Protein terlarut dalam larutan tidak memiliki warna. Oleh karena itu, larutan ini harus dibuat berwarna agar dapat dianalisa. Reagent yang biasa digunakan adalah reagent Folin.

Saat protein terlarut direaksikan dengan Folin dalam suasana sedikit basa, ikatan peptide pada protein akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna biru yang dapat dideteksi pada panjang gelombang sekitar 578 nm. Semakin tinggi intensitas warna biru menandakan banyaknya senyawa kompleks yang terbentuk yang berarti semakin besar konsentrasi protein terlarut dalam sample.


2. Spektrofotometri UV (ultraviolet)

Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium.

Deuterium disebut juga heavy hidrogen. Dia merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah di laut dan daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron, sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki neutron. Nama deuterium diambil dari bahasa Yunani, deuteros, yang berarti ‘dua’, mengacu pada intinya yang memiliki dua pertikel.

Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. Bening dan transparan.

Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagent tertentu. Bahkan sample dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sample keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau centrifugasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sample harus jernih dan larut sempurna. Tidak ada partikel koloid apalagi suspensi.

Sebagai contoh pada analisa protein terlarut (soluble protein). Jika menggunakan spektrofotometri visible, sample terlebih dulu dibuat berwarna dengan reagent Folin, maka bila menggunakan spektrofotometri UV, sample dapat langsung dianalisa.

Ikatan peptide pada protein terlarut akan menyerap sinar UV pada panjang gelombang sekitar 280 nm. Sehingga semakin banyak sinar yang diserap sample (Absorbansi tinggi), maka konsentrasi protein terlarut semakin besar.

Spektrofotometri UV memang lebih simple dan mudah dibanding spektrofotometri visible, terutama pada bagian preparasi sample. Namun harus hati-hati juga, karena banyak kemungkinan terjadi interferensi dari senyawa lain selain analat yang juga menyerap pada panjang gelombang UV. Hal ini berpotensi menimbulkan bias pada hasil analisa.


3. Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible. Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah menggunakan hanya satu sumber sinar sebagai sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang dilengkapi dengan monokromator.

Untuk sistem spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan paling populer digunakan. Kemudahan metode ini adalah dapat digunakan baik untuk sample berwarna juga untuk sample tak berwarna.


4. Spektrofotometri IR (Infra Red)

Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi infra merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah pada spektrofotometri adalah infra merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 μm.

Pada spektro IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun biasanya lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektro IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa, terutama senyawa organik. Setiap serapan pada panjang gelombang tertentu menggambarkan adanya suatu gugus fungsi spesifik.



Hasil analisa biasanya berupa signal kromatogram hubungan intensitas IR terhadap panjang gelombang. Untuk identifikasi, signal sample akan dibandingkan dengan signal standard. Perlu juga diketahui bahwa sample untuk metode ini harus dalam bentuk murni. Karena bila tidak, gangguan dari gugus fungsi kontaminan akan mengganggu signal kurva yang diperoleh.

Terdapat juga satu jenis spektrofotometri IR lainnya yang berdasar pada penyerapan sinar IR pendek. Spektrofotometri ini di sebut Near Infrared Spectropgotometry (NIR). Aplikasi NIR banyak digunakan pada industri pakan dan pangan guna analisa bahan baku yang bersifat rutin dan cepat.

Read more...

Tuesday, July 14, 2009

Rahasia Kembang api..

Minggu kemarin keponakan saya rewel minta kembang api. Awalnya dia hanya berdiri diam di depan si penjual. Matanya tek berkedip memperhatikan deretan berbagai kembang api yang dipajang. Sementara kedua tangannya memegang Hp mainan yang sepertinya sekarang sudah tidak menarik lagi.


Celakanya si penjual paham situasi. Dia mendekat sambil menyodorkan satu pak kembang api besar yang langsung diterima oleh ponakan saya yang baru berusia 3 tahun itu. ‘M’acih..’.

Kucing dikasih ikan, Ya jelas senang..!’ pikir saya.
Yah.. mau tak mau akhirnya saya bayar. 15 ribu rupiah..


Meski bulan ramadhan masih lama, namun penjual kembang api sudah banyak berkeliaran. Kalau di jaman saya kecil dulu, kembang api kurang populer. Petasan yang mendominasi. Mercon kalau istilah jawanya. Namun karena sekarang mercon sudah tidak diperbolehkan, maka kembang api semakin berkibar. Dan semakin beragam. Dari mulai yang hanya dibakar dan memancarkan percikan bunga api. Sampai yang bisa melontar ke atas layaknya roket, meledak dan mengeluarkan bunga api warna-warni.

Kembang api selalu mempesona, dengan cahaya, warna, dan suaranya. Tapi tahukan anda untuk pesonanya itu, kembang api menggunakan ramuan bahan yang kedengarannya ganjil, mulai Alumunium, Vaselin sampai racun tikus.

Ramuan serbuk hitam dari Cina digunakan untuk membantu setiap kembang api melesat di udara lewat tekanan dalam gas yang terperangkap dalam tabung atau mortir yang diciptakannya. Dua sumbu dinyalakan sekaligus, satu memicu serbuk hitam, dan yang kedua, yang terbakar lebih lambat, menciptakan ledakan pada waktunya ketika roket sudah membawanya tinggi di udara.

Tabung, bola hampa, dan pembungkus kertas digunakan sebagai bantalan untuk melokalisasi efek dalam setiap kompartemennya. Roket yang lebih kompleks terbagi-bagi menjadi beberapa kompartemen untuk membuat dan mengendalikan ledakan-ledakan sekunder.

Dentuman besar dihasilkan dari flash powder. Serbuk yang pernah marak digunakan untuk kilatan cahaya dalam fotografi ini dibuat dari logam mirip bahan bakar dan bahan kimia yang memungkinkan oksigen membakar bahan bakar.

Para kimiawan biasanya masih menambahkan bismut trioksida, produk kecantikan di masa Yunani dan Romawi kuno, pada ramuan flash powder untuk mendapatkan efek gemericik, yang dikenal dengan sebutan ‘telur naga’. Sedangkan lengkingan peluti membutuhkan racikan dari empat macam bahan, termasuk pengawet makanan dan vaselin.

Warna warni kembang api bergantung pada logam yang digunakan. Tembaga, misalnya, menghasilkan letupan biru. Campuran garam Stronsium dan garam Litium, dan beberapa linnya digunakan untuk menghasilkan rona merah.

Bintang-bintang putih di langit malam adalah produk dari Alumunium dan Titanium. Sedangkan Barium, yang ada dalm racun tikus dan dibutuhkan dalam membuat gelas, berperan untuk pesona hijau. Apabila ingin menciptakan kesan orange dan kuning, dapat ditambahkan Kalium dan Natrium.

Read more...

Friday, July 10, 2009

Bukti rakyat sudah cerdas..

Dimana-mana tema dan topik yang dibicarakan tak jauh dari seputar pemilu pilpres. Televisi, koran, blog.. semuanya membicarakan pilpres. Postingan saya terakhir-pun berkutat di tema itu.

Bagi yang rajin blogwalking pasti sudah jenuh overdosis membaca berita pilpres yang terserak di berbagai blog. Naah.. karena anda sudah sampai di sini, akan saya tambah kejenuhan saudara dengan tulisan berikut, masih dengan tema pilpres. Hihi..

Karena topik ini berat, sedangkan otak saya yang sempit ini tak mampu mengeluarkan wacana sedahsyat ini, khawatir pesan yang
mau disampaikan malah jadi bias, maka maafkan kalau hanya copas dari http://www.ahmadheryawan.com/.


PEMILIHAN PRESIDEN DAN POLITIK PRIMORDIAL
Friday, 10 July 2009 13:28
Oleh: Saiful Mujani

Politik primordial adalah politik yang tumbuh dan berkembang atas nama asal-usul sosial individu atau kelompok, seperti ras, suku, kedaerahan, agama, dan lain-lain. Semua orang punya asal-usul ini bukan karena pilihan, melainkan merupakan takdir hidup. Orang atau kelompok mengejar kekuasaan atas dasar kesamaan asal-usul atau secara sadar mengakui keberagaman asal-usul tersebut dan kemudian menghimpunnya menjadi kekuatan bersama. Bukan atas pertimbangan kemampuan, tanpa mempertimbangkan asalusul itu sebagai faktor utama (meritokratisme).

Dalam masyarakat kita, salah satu bentuk politik primordial adalah politik aliran: sikap dan perilaku politik yang tumbuh dan hidup dari keyakinan atau paham keagamaan. Diyakini bahwa dalam masyarakat kita ada dua aliran keagamaan (Islam) utama: santri dan abangan. Yang pertama dinilai taat menjalankan perintah agama Islam; yang kedua dinilai tidak atau kurang.
Politik elektoral

Pada 1950-an, kaum santri membangun dan mendukung partai-partai Islam, seperti Partai NU dan Masjumi; kaum abangan partai-partai “nasionalis”, seperti PNI dan PKI. Tema dikotomis “Islam” vs “nasionalis” mungkin kurang pas. Yang lebih pas mungkin “partai-partai sekuler” versus “partai-partai Islam”. Pada 1950-an, kekuatan partai Islam sekitar 43 persen di tengah- tengah penduduk yang hampir semuanya beragama Islam. Ini mengindikasikan bahwa, sejak awal politik kepartaian, umat Islam umumnya berorientasi politik sekuler. Setelah 44 tahun (pada Pemilu 1999), dukungan terhadap partai-partai Islam menurun menjadi sekitar 37 persen. Ini pun kalau PKB dan PAN dimasukkan dalam kelompok partai Islam. Dalam Pemilu 2004, kekuatan partai Islam tidak banyak berbeda dengan hasil Pemilu 1999. Tapi, pada Pemilu 2009, kekuatan partai Islam merosot cukup tajam, menjadi sekitar 26 persen.

Politik Islam/santri semakin menurun dalam 60 tahun perjalanan bangsa kalau dilihat dari perkembangan politik kepartaian. Politik aliran menjadi semakin tidak penting di tengah-tengah umat Islam yang kelihatan semakin taat menjalankan agamanya, di tengah-tengah jilbab dan baju koko.

Semakin tidak signifikannya politik santri ini terlihat lebih jelas dalam politik presidensial, yakni pilihan warga atas caloncalon presiden dalam pemilihan presiden. Pada pemilihan presiden 2004, ada dua calon yang biasa diidentifikasi sebagai calon santri, yakni Amien Rais dan Hamzah Haz. Dalam pemilu tersebut, Hamzah Haz mendapat suara sekitar 5 persen, dan Amien Rais sekitar 14 persen. Keduanya tersisih di putaran pertama. Yang masuk putaran kedua, SBY dan Megawati, biasa dianggap sebagai tokoh dari kaum abangan. Sekali lagi, politik Indonesia dikuasai oleh tokohtokoh abangan di tengah-tengah lautan jilbab dan baju koko.

Tapi, menjelang pemilu presiden 2009, sejumlah elite dan partai berusaha melawan arus politik elektoral Indonesia yang semakin menjauh dari konsep politik aliran tersebut. Amien Rais, misalnya, menjelang deklarasi calon presiden- wakil presiden SBY-Boediono, secara terangterangan menolak Boediono sebagai calon wakil presiden bagi SBY karena pilihan terhadap ekonom ini bertentangan dengan pakem klasik politik Indonesia. Memilih Boediono berarti mengabaikan aspirasi umat Islam dan representasi luar Jawa. Sejumlah elite PKS juga beretorika dengan bahasa yang sama. Dikatakan bahwa pemilihan Boediono sebagai calon wakil SBY tidak menampung aspirasi politik umat Islam.

Menjelang pemilu presiden

Tidak sedikit pula pengamat sosial-politik yang masih terpaku pada konsep politik aliran ini. Tiap calon presiden dan wakil presiden dipreteli asal-usulnya, bahkan anak-istrinya, apakah mencerminkan kombinasi aliran atau tidak. JK, misalnya, ditafsirkan lebih mewakili umat Islam karena lebih santri, pernah menjadi aktivis HMI, misalnya. Asal sukunya Bugis dan daerahnya wilayah timur Indonesia. Istrinya berasal dari wilayah barat Indonesia. Wakilnya, Wiranto, lebih mewakili kaum abangan dan etnis Jawa. Tapi istrinya dari daerah timur Indonesia (Gorontalo) dan mencerminkan kaum santri. Karena kombinasi- kombinasi seperti ini dalam pasangan JK-Wiranto, tim suksesnya menyebut pasangan ini “Pasangan Nusantara”.

Justifikasi bahwa perilaku keagamaan masyarakat sangat penting dalam menentukan pilihan, Wiranto secara eksplisit menyatakan bahwa istri pasangan JK-Wiranto ini berbeda dengan istri pasangan SBYBoediono, karena istri JK-Wiranto berjilbab, sedangkan istri SBY-Boediono tidak. Apa yang diharapkan dari ungkapan itu adalah menarik pemilih muslim, karena jilbab dinilai positif dan penting secara politik. Jilbab sebagai bahasa politik juga digunakan sebagian elite PKS ketika mereka melakukan bargaining untuk menolak Boediono sebagai calon wakil presiden bagi SBY.

Walaupun tidak bertumpu pada konsep aliran, pasangan Mega-Prabowo dinilai cukup mencerminkan keberagaman Nusantara. Keduanya dinilai abangan, tapi masingmasing berasal-usul dari suku bangsa dan daerah yang cukup beragam. Mega adalah seorang putri dari pasangan Jawa- Bali (ayahnya) dan Bengkulu (ibunya). Sedangkan Prabowo berasal dari seorang ayah Jawa dan ibu Manado, abangan dan Katolik. Jadi lebih mencerminkan keberagaman dibandingkan dengan pasangan SBY-Boediono.

Pasangan SBYBoediono dinilai sangat homogen dari sisi aliran politik, suku bangsa, dan kedaerahan. Keduanya dianggap berasal dari kaum abangan, etnis Jawa, dan daerah Jawa Timur. Bahkan Jawa Timur “pedalaman” atau “Majapahitan”. Pilihan SBY terhadap Boediono, menurut Amien Rais, bertentangan dengan pandangan yang sudah baku atau klasik tentang pembelahan politik Indonesia.

Indonesia. Amien dan politikus-politikus lain, serta para pengamat politik yang berkacamata politik primordial, mungkin benar bahwa pasangan SBY-Boediono mengabaikan pakem klasik politik Indonesia. Namun, validitas klaim tersebut tidak terlihat dalam politik kepartaian dan dalam pemilu presiden 2004.

Apa yang dianggap sebagai pakem klasik politik Indonesia mungkin sudah luntur; tak mampu lagi menangkap dinamika sosial-politik yang sedang terjadi di masyarakat kita. Sekularisasi politik sedang berlangsung dalam masyarakat. Pada 1950-an, sekularisasi ini belum sekuat sekarang meskipun mayoritas kekuatan politik di parlemen sekuler (PNI, PKI, PSI, dan sejumlah partai kecil lain). Sekularisasi pada 1950-an lebih ideologis, terutama karena pertarungan ideologi politik yang tajam dalam konteks Perang Dingin, terutama antara Islam dan PKI. Pengaruh pertentangan ideologi ini berakar kuat dalam masyarakat, di mana santri versus abangan sangat kuat, setidaknya kalau kita baca karya tahun-tahun itu.

Sekarang sekularisasi politik berlangsung dalam pengertian bahwa masyarakat membedakan kehidupan individual dan sosial dari kehidupan politik. Polarisasi politik kurang ideologis. Ideologi politik sudah mati. Sejak Orde Baru hingga sekarang kita tidak bisa membedakan ideologi partai-partai politik tersebut. Deideologisasi politik ini dipercepat oleh Orde Baru, yang pada dasarnya anti-ideologi dan antipolitik dalam arti tidak menoleransi kebebasan dan keberagaman kekuatan politik. Tapi, di sisi lain, Orde Baru mendorong pembangunan kehidupan keagamaan di tingkat individu, keluarga, dan organisasi sosial. Berhenti sampai di situ. Maka kesalehan individual berkembang dan terpisah dari kekuatan politik.

Tempaan Orde Baru ini membentuk sekularisasi politik sekarang. Kita melihat muslimah-muslimah seperti istri Wiranto atau JK yang berkerudung. Tapi partai mereka bukan PKS atau PPP, melainkan Hanura atau Golkar, yang bukan partai Islam; tidak banyak berbeda dengan Demokrat atau PDI Perjuangan. SBY-Boediono, yang dianggap kurang santri, justru didukung oleh partai-partai Islam (PKS, PPP, PKB, PAN, PBB, PBR, dan lain-lain). Pertimbangan politik murni, misalnya keyakinan akan peluang menang lebih besar, lebih dikedepankan.

Bila pemilu presiden 2009 dimenangi pasangan SBY-Boediono, politik aliran dan lebih luas lagi politik primordial akan menjadi semakin tidak penting. Polarisasi agama, etnik, dan wilayah tidak lagi menjadi basis sosial untuk kepemimpinan nasional. Mungkin ia telah digeser oleh wawasan baru tentang makna agama dan wawasan Nusantara. Saleh secara individual dan sosial, dan tetap menjaga semangat kedaerahan secara sosial, tapi lebih mengedepankan pertimbangan yang lebih inklusif, beyond primordialisme, adalah faktor-faktor dalam menentukan kepemimpinan nasional. Memilih SBY-Boediono mungkin bukan karena sentimen kejawaan atau kejawen menguat, melainkan mungkin karena persepsi pemilih bahwa pasangan ini lebih baik untuk memimpin Indonesia menurut meritokratisme. Apakah akan begitu pemilih kita pada pemilu presiden 2009? Kita lihat.

Read more...

Wednesday, July 8, 2009

Rakyat Indonesia memang 'Over Kreatif..'


Hasil pilpres kali ini saya betul-betul kaget..get..get..!!
Bukan kaget mengenai siapa pemenang pilpres. Kalau itu sih saya sudah bisa menebak. Bahkan saya yakin, semua, baik kawan maupun yang bukan kawan, jauh di lubuk hati terdalam pasti sudah bisa memperkirakan siapa yang akan menang dalam pilpres kali ini. Tanda tandanya sudah jelas. Namun saya kaget justru pada hasil di posisi kedua dan ketiga. Kaget..! koq bisa ya..?

Sebelumnya saya perkirakan yang berada pada posisi kedua adalah pasangan JK-Wiranto. Dan jika seandainya terjadi pilpres dua putaran, yang akan maju melawan esbeye adalah capres no urut tiga ini. Tapi ternyata.. sungguh diluar dugaan. Tidak hanya JK-Wiranto berada pada posisi terakhir, namun selisih peroleh suarapun berbeda amat signifikan. Ck..ck..

Kalau saya saja bisa kaget dengan hasil pilpres ini, bagaimana dengan JK-Wiranto berikut tim suksesnya ya..?? apa ndak stress mereka. Atau para pendukung setia mereka seperti mas Harun ini. Apa ndak kecewa? Tapi.. itulah kenyataan bro. Terima saja. Haha..
Pak JK, selamat pulang kampung, hati-hati di jalan.. Pisss...

Saya ndak ngerti pulitik. Gelap. Maka saya tak berbicara banyak tentang kenapa fenomena ini bisa terjadi. Kenapa JK memperoleh suara sangat sedikit. Kenapa di Aceh 90% justru memilih SBY, bukan JK yang notabene berperan banyak dalam perdamaian di negeri serambi mekah itu.



Apa karena JK berpasangan dengan Wiranto, sehingga rakyat Aceh tidak memilih beliau karena trauma akan era zaman DOM dulu. Atau JK kalah karena sikapnya di masa kampanye dan debat presiden yang terlalu biyayakan.. terlalu agresif, ofensif dan sedikit narsis..? Sementara kultur kita masih belum bisa menerima sikap yang demikian. Budaya kita lebih toleran terhadap sikap yang rendah hati, kalem, bersahaja dan tidak terlalu menunjukkan ingin berkuasa dan menang. Yah.. mungkin karena itu.

Saya perhatikan juga banyak kejadian-kejadian yang sedikit nyeleneh di lapangan. Tentang pencontrengan surat suara. Tidak banyak surat suara yang tidak sah. Itupun tidak secara prinsip, hanya karena ketidaktahuan dan sikap iseng nyeleneh tadi.

Misalnya, ada yang mencontreng dua kali dalam satu kotak salah satu no urut capres, mencontreng capresnya, juga mencontreng cawapresnya. Meskipun sangat jelas maksud si pencontreng memilih yang mana, tapi tetap dianggap tidak sah.

Atau mencontreng satu kali, namun di atas gambar capres dia menulis 'I love you', pun.. ini dianggap tidak sah. Meskipun secara jelas dan gamblang tersirat siapa yang di pilih. Atau ada kejadian yang lebih nyeleneh lagi. Dia sudah mencontreng satu kali pada salah satu capres, tapi di atas kertas suara dia menulis, “Ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Michael Jackson”, ini juga dianggap tidak sah. Ya.. banyak fenomena alasan tidak sahnya surat suara hanya karena perilaku yang nyeleneh kalu tidak dibilang iseng.

Kenapa ini bisa terjadi..? jawab saya cuma satu. Karena orang Indonesia terlalu kreatif. Dalam bahasa lain di sebut iseng. Ya.. ISENG.

Ketika di dalam bilik suara terdapat pulpen/spidol dan kertas. Otak kita langsung bereaksi. Imaginasi kita mengembang memunculkan hasrat keisengan. Tangan kita gatal untuk menggunakan alat tulis lebih dari perlu. Hasilnya seperti yang saya sebut di atas. Menulis 'I love U', menulis pesan bela sungkawa untuk MJ.. Masih untung tidak ada yang mencoret-coret gambar para capres cawapres. Menambahkan kumis.. menambahkan janggut.. kacamata.. memberi anting-anting.. memberi taring.. haha.
Semuanya karena rakyat Indonesia adalah rakyat yang kreatif.

Mari kita terima hasil pilpres ini dengan lapang dada, kita jaga kedamaian, dan kita jaga dan kawal siapapun pemenangnya untuk mewujudakan semua program dan janjinya di masa kampanye.

Sekali lagi, atas kemenangan SBY-Boediono (versi quick count), saya ucapkan selamat.. semoga hal ini adalah yang terbaik untuk bangsa dan rakyat Indonesia. Amiinn...

Read more...

Monday, July 6, 2009

Pilih yang mana..?


Besok kita melaksanakan pemilihan presiden 2009-2014. Mungkin diantara kita ada yang sudah menentukan pilihan.. ada yang masih bingung.. atau ada yang sudah diniatkan untuk tidak memilih.

Yang menarik adalah teman saya. Seminggu sebelum hari H, dia masih belum menentukan pilihan. Bingung katanya. Untuk hal ini, dia bertanya pada mantan dosen kalkulus-nya. Saya sempat heran kenapa harus mantan dosennya?

Sebab karena dia aku mesti ngulang Kalkulus sampai tiga kali. Dan tetap saja mendapat C minus..”, jawabnya. Hah.. nyambung gak sih..? Seingat saya memang betul dia sempat mengulang kalkulus sampai tiga kali. Karena saking seringnya, sampai akhirnya akrab dengan dosennya itu. Tapi ya sudahlah.. Teman saya itu memang suka begitu, sedikit gemblung.. dan kalau diladeni malah tambah gak nyambung. Akhirnya dengan penasaran saya tanyakan bagaimana jawab dosennya.

Kata dosenku, pilihlah calon yang bisa memajukan bangsa dan mensejahterakan rakyat..”. Ya.. masuk akal..!

Setelah itu dia rajin sekali mengikuti acara debat capres cawapres. Rajin mengamati berita yang mengungkapkan visi dan misi masing-masing capres. Semuanya untuk mengetahui mana capres yang bisa memajukan bangsa dan mensejahterakan rakyat. Mana capres yang paling tepat untuk menjadi presiden bangsa ini. Salut dengan tekadnya. Niat kuatnya untuk ikut berpartisipasi dalam pilpres nanti.

Dua hari sebelum hari H saya tanya bagaimana haslinya, apakah sudah menentukan pilihan? “Tuambah bingung..”, jawabnya. “Semua capres mempunyai tujuan untuk memajukan bangsa, mensejahterakan rakyat, petani, guru, nelayan, menaikkan pertumbuhan ekonomi, bla..bla..bla... Memang waktu acara debat kemaren SBY paling baik cara penyampaiannya, JK paling narsis dan Mega ndledeh kemana-mana. Namun intinya semuanya sama, memajukan bangsa dan mensejahterakan rakyat. Yah.. entahlah nanti aku diskusi lagi dengan Pak Manto..”. Betul.. Pak Manto adalah mantan dosennya.

Sampai sekarang, H-1, saya belum bertemu lagi dengannya. Entahlah apakah dia sudah mempunyai pilihan atau belum. Atau malah memutuskan tidak memilih saking bingungnya..

Mendekati hari pemilihan dan memasuki masa tenang tidak berarti kampanye berhenti dilakukan. Memang di media sudah betul-betul tenang, namun dalam kesunyian ternyata kampanye masih terus berlangsung. Pagi ini saya mendapatkan suatu rumus matematika yang katanya mampu menunjukkan pilihan yang tepat berdasarkan usia. Hah.. apalagi ini.

Rumus tersebut adalah:

(U x 2) + 15 – 11 / 2 – U = No urut capres

Dimana, U adalah Usia.

Katanya hasil perhitungan rumus ini menunjukkan angka yang diperoleh adalah no urut capres yang paling sesuai. Entah benar atau tidak. Tapi lumayanlah untuk sekedar guyon ringan.

Baru saja saat menulis ini, saya mendapat email dari seorang kawan tentang guyon capres lainnya. Mudah-mudahan tidak kena UU ITE atau apalah namanya. Hihi..
(mau ikutan jadi seleb... siapa dikau..??)

Mega, JK, SBY dan seorang siswa sekolah sedang berada dalam pesawat yg sedang mengalami gangguan mesin. Hanya ada 3 parasut tersedia dalam pesawat.

Mega mengambil 1 tas parasut dan berkata: "Ladies first, saya satu2nya calon presiden wanita disini, wong cilik menantikan saya!" [Megapun] lalu melompat keluar.

JK cepat juga mengambil satu tas dan berkata: "Lebih cepat, lebih baik, siapa cepat, dia dapat, he he he" lalu melompat keluar.

SBY: "Nak, engkau masih muda, masa depanmu masih cerah. Saya sudah berbakti untuk negara, rakyat sudah sejahtera dan tenang, meskipun saya masih tidak puas, namun kamu generasi muda penerus bangsa, lanjutkanlah! Ambillah parasut terakhir"

Si anak sekolah menjawab: "Pak SBY presidenku, masih ada cukup parasut untuk kita berdua, Pak JK tadi mengambil tas sekolah saya". Mendengar kata-kata itu, SBY langsung tersedu haru. Begitu lama sampai akhirnya pesawat keburu menabrak gunung.



Hehe.. Piss....

Read more...

Monday, June 29, 2009

Uneg-uneg blogger kutu kupret..

Menyebalkan juga bila belanja ke suatu toko namun barang yang dicari tidak ada. ‘Sedang kosong mas..’, jawab sang pramuniaga. Satu dua kali masih bisalah dimaklumi. Namun ketika kembali untuk yang ketiga kali dan ternyata jawaban yang didapat masih sama, saya yakin, pada kesempatan berikutnya, anda tidak akan pergi ke toko tersebut. Rasa getun dan kecewa yang terakumulasi menyebabkan pilihan hijrah ke toko sebelah yang barang dagangannya lengkap dan selalu up to deit.

Mungkin seperti itulah yang dirasakan siapapun yang berkunjung ke blog ini. Entah itu manusia atau demit sekalipun. Waktu yang dikorbankan terasa sia-sia.. Mubajir.. “cape-cape sowan ke sini, ternyata masih itu-itu juga. Wiss.. Kapokkk..!!”. Mungkin begitulah perasaan mereka. Maaf dari saya..

Memang sudah lama saya tidak mengotak-ngatik gubuk saya ini. Banyak alasan. Dari mulai kesibukan kantor, persiapan pernikahan, proyek bersama yang sampai sekarang tak juga jelas juntrungannya, launching website sciencebiotech, sampai aktivitas di tempat tidur yang sekarang terasa menjadi sangat berharga untuk dilewatkan.

Setali tiga uang dengan terbengkalainya blog, jumlah pengunjung-pun menurun. Dari yang semula rata-rata 200 per hari, kini tinggal 50%-nya.

Ya.. blog ecek-ecek ini masih di seputaran 200/hari. Jangan ngece.. beruntung masih ada yang sudi berkunjung. Meski lebih karena kesasar ketimbang sengaja sowan. Mereka datang karena dituntun mesin pencari yang masih rela menempatkan blog ini pada urutan lima besar untuk keyword tertentu. Singgah sesaat dan langsung pergi setelah mengetahui tempat yang disinggahinya hanya kuburan suwung tanpa aktivitas. Blog ini pun semakin terjerembab ke sudut dunia maya yang sunyi dan tidak pernah dilintasi siapapun. Alhasil.. blog yang menurut pakar ideologi blog memenuhi syarat sebagai blog kutu kupret, sekarang makin turun peringkatnya menjadi blog kutunya kutu kupret. Makin kecil dan makin tak berarti..

Saya paham.. untuk menjadi blogger sejati yang mumpuni, tidak hanya cukup dengan niat. Parameter lain yang sangat penting adalah waktu luang (dan koneksi internet pribadi tentunya, malu rasanya kalau masih menumpang fasilitas kantor. Atau ngeblog dari warnet.. ck..ck..Parahh..!!). Sedangkan saya, waktu amat minim, malas berkunjung ke tetangga blogger, tidak aktif bertukar link, ditambah koneksi pribadi masih belum stabil. Semuanya menciptakan lingkungan yang kurang kondusif untuk memacu motivasi dan gairah.

Untuk rutin menulis postingan, membalas komen yang masuk, berkunjung ke sesama blogger lalu meninggalkan jejak dengan harapan dikunjungi balik, tebar pesona sana sini. Semuanya menguras waktu dan energi yang lumayan.

Saya salut dengan para blogger yang juga mempunyai pekerjaan di dunia nyata namun masih mampu mengurus blog yang top markotop.

Seorang blogger yang juga seorang pengajar SMA. Begitu aktif.. Setiap hari tulisan baru meluncur, semua komen di balas, selalu ‘membayar’ tunai kunjungan, lengkap dengan satu paket komen tanda apresiasi, satu aturan tak tertulis dunia blogosphere. Padahal.. pengunjungnya hampir sepuluhratus per hari. Sementara dia pun mempunyai tugas dan tanggungjawab di dunia nyata.

Bukan bermaksud berpikiran buruk, su'uzon, sekali-kali tidak..
Hanya penasaran bagaimana cara mengatur, misalnya, kapan kegiatan belajar mengajar, kapan waktu mempersiapkan bahan ajar, mengoreksi jawaban, membuat soal-soal.. Sungguh manajemen waktu yang hebat. Saluut...!

Postingan ini sebetulnya kurang tepat bila di bilang tulisan, artikel. Karena tulisan ini hanya limpahan rasa mangkel tehadap ketidakproduktifan saya dalam menulis blog, sekaligus rasa iri terhadap keberhasilan teman para blogger kelas kakap, pada pak marsudiyanto dengan daya kreatifitas yang tak habis-habis, bung suryaden yang selalu berapi-api dalam setiap tulisannya, dan blogger-blogger kelas atas lainnya (dua pertama saya sebut karena sudah bertukar link, haha..)

Saya juga malu dengan om Noe yang selalu mengintip ke sini namun menemukan blog yang belum juga up date, sementara miliknya makin terus eksis dan makin populer. Terlebih saat Guskar mampir, beliau memberi komen yang saat tulisan ini diposting, komentnya yang membuat muka saya merah masih dapat dilihat di shoutbox sebelah.

Oleh karena itu, meskipun tanpa bahan dan konsep yang jelas, akhirnya saya tulis semua ini sebagai bahan posting anyar. Sebagai curahan ketidakbecusan saya, sebagai ungkapan rasa iri dan kesal pada diri ini, sebagai alasan pembenaran kevakuman saya, dan sebagai awal tulisan sebagai pribadi yang baru..

Read more...