Sunday, November 23, 2008

Barrack Obama Indonesia

Ada satu blog yang menarik. Indonesia-anonymus.blogspot. Blog ini telah menjadi langganan bermain saya. Namun sayang, karena sibuknya si empunya blog, tulisan dalam blog jarang di update. Mekipun begitu, saya rutin berkunjung berharap menemukan tulisan terbaru. Bagi saya bagus tidaknya blog tidak dilihat dari banyaknya postingan yang di update secara rutin dan sering. Namun lebih pada kualitas dari tulisan tersebut. Pengelola blog tidak menulis identitas secara detail. Hanya mengaku sebagai sekelompok orang Indonesia yang peduli terhadap negera ini.

'We are a group of Indonesians, ranting about our beloved country. This blog is a result of many people grumbling about many things in many ways.'

Sekarang telah ada ‘saudara kembar’ blog ini dalam bahasa. http://indonesia-anonymus.com. Tapi entah mengapa, versi Inggris lebih menarik bagi saya ketimbang versi bahasa. Padahal isi tulisan sama persis hanya bahasa yang berbeda.

Namun ini tetap merupakan hal yang positif. Ide-ide dan diskusi mereka dapat di akses dan di mengerti oleh pengunjung yang kesulitan berbahasa inggris sehingga cakupan kalangan pembaca lebih luas.

Ada satu artikel menarik. Tenang 'khayalan' mereka. Tentang ‘Barrack obama’ Indonesia. Apakah Indonesia sudah se-demokrasi Amerika berani memilih presiden-nya tanpa melihat latar belakang, etnis keturunan, asal daerah, agama. Apakah Indonesia berani memilih 'Barrack obama' yang cerdas, menarik, muda, dari kaum minoritas, namun memilki latar belakang yang ‘tidak umum’ dan berasal dari minoritas?

Berikut saya kutip khayalan mereka. Versi Indonesia bisa dilihat di sini.


Barack Obama has an African name. That name is not very common in the US and even Obama himself frequently refers to himself as a person 'with a funny name'.
So let's give our 'obama' a name that is not originally Indonesian. Let's call him Vincent Tjoa. (this is just an imaginary name. A mere example).


Barack Obama is a christian, while his father is a muslim. Christianity is the major religion in the US. So In Indonesia, this would make our Vincent a muslim (the majority), but with a christian father.

Vincent Tjoa, a muslim, mother from Solo, and christian father originally from Fujian, China. Picture it yet?

Let's build up our Vincent character some more using our imagination:
Just like Obama, our Vincent is young, patriotic and full of idealism. His life has not been easy. His father abandoned him when he was small and he was mostly raised by his grandparents in Solo, far from richness. Yet through his own perseverence he managed to graduate first from one of the top school in the country. (Let's say he graduated from ITB or UI).
Soon after he graduated, instead of taking a high-paying job in Jakarta, he chose to work in his community helping the poor.

He then went into politics, and became a member of parliament. He is new, with more idealism than experience, yet wildly popular. He has many supporters among young people, who are tired looking at Indonesia's same old corrupt politics. The young people think Vincent understands them. Understands their aspirations. Their ideals. They believe Vincent will be able to lead Indonesia to the better.

Two years later Vincent decided to run for the presidency.

He runs a grass root, efficient, discipline campaign, offering to bring change to Indonesian politics: He promised to end the divisive politics based on religion, race and ethnicity in Indonesia. "There is no javanese Indonesia. there is no chinese Indonesia, there is no muslim Indonesia, there is no christian Indonesia. There is only one Indonesia! Bhinneka Tunggal Ika, unity in diversity".

Vincent makes beautiful speeches. A great orator. He inspires. He has the ability to move people. Give them hope.
And to top it up, he has an incredibly structured, detailed plan on how to bring Indonesia to a brighter future. "Our prosperity is within reach", he said, "if only we can all work together. It is not about me, it is about you. About Indonesia."

His opponent is an old timer yet a very popular Indonesian politician. A native Indonesian, a devout muslim, a former Indonesian military man who has been in politics for a very long time and part of the political establishment. He is incredibly wealthy and his campaign is run by old faces of the establishment's political machine. Unfortunately, this is the same establishment that some Indonesian people view as the status quo: tolerating the corrupt culture and too slow to move the country forward.

Now, here's the question: Given the story above, will we, Indonesians, vote for our Vincent Tjoa to be Indonesia's next president ? Or will we vote for his opponent?

Can we get past his background, his christian father from Fujian province, his name, and his half chinese ethnicity, and vote for him?

Khayalan menarik bukan? Jadi apa pilihan anda??!!


Untuk Indonesia-anonymus, sukses dan terus menulis demi kemajuan bangsa.


11 comments:

wisnoe said...

Sekarang pertanyaannya lebih cenderung diarahkan ke orang ya, mas.
Sistem kita sudah mendukung, siapa saja asal punya KTP, bisa menjadi presiden. Nah, pemerintah sudah memberi dasar2 legalnya, tinggal manusia Indonesianya sendiri pegimana?
Kalo aku sendiri sih, siapa yang jadi pemimpin ndak masalah, selama programnya tidak merugikan kepulan asap dapurku. Halah... memasak aja ga pernah, bagaimana bisa ada asap... :-D

wahyu said...

betul mas.
secara sistem pemerintahan memang sudah bisa. tinggal masyarakat siap atau belum.

kepulan asap rokok mungkin ya mas..
:D

gasgus said...

Kayaknya, khayalan akan tinggal khayalan mas. Jauh panggang dari api. Bagai pungguk merindukan bulan...

Negara kita sebenarnya banyak figur ‘Obama’, sebut saja di antaranya Rizal Mallarangeng, M Fadjroel Falaakh, Yuddy Chrisnandi yang jauh-jauh hari sudah memproklamirkan diri maju jadi Capres 2009.

Tapi ibarat syair sebuah lagu lawas : bunga layu sebelum berkembang. Begitu juga lah para 'Obama' kita.

Mereka keburu layu karena terganjal UU Pilpres 2009 yang 29 Oktober lalu disahkan.

Dominasi para elite politik dan parpol besar yang bercokol saat ini di DPR kita, sepertinya memang sangat tidak menghendaki munculnya ‘Obama Obama’ baru di Indonesia.

UU Pilpres 2009 mensyaratkan seorang kandidat dinyatakan sah menjadi Capres 2009 kalau didukung 20 persen kursi legislatif dan 25 persen suara pemilih Pemilu 2009.

Itu sebuah syarat yang mustahil bisa dipenuhi 'Obama-Obama' di negeri ini.

Akhirnya, gampang ditebak. Dengan UU tersebut, muka-muka yang muncul sebagai capres 2009, bakalan itu-itu saja! SBY, Jusuf Kalla, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, Wiranto.

Kalaupun ada yang baru, seperti Prabowo, Yusril, Hidayat Nurwahid, dan Sultan HB X politik Prabowo mereka tidak mewakili figur 'Obama' dan peluang mereka pun diperkirakan sangat kecil karena hanya berangkat dengan 'perahu kecil'.

Padahal masyarakat sangat menghendaki ada muka-muka baru yang lebih fresh sebagai alternatif pilihan dalam pilpres 2009.

Yah, apa boleh buat, kita harus terima kenyataan pahit ini, 'Obama'...

wisnoe said...

Obama pun berangkat dengan kapal induk, bukan perahu dayung.
Aku pikir tinggal bagaimana perjuangan orang perorangnya karena sedikit banyak sistem perpolitikan kita sudah bertransformasi dari sesuatu yg mustahil menjadi nyata meski masih sulit, khususnya dari calon independen.
Sisi positifnya adalah kestabilan pemerintahan krn ada dukungan kuat dari legislatif, atau bolehlah dibaca sebagai kongkalikong bandot2 politisi di atas sana jika kita negatif thinking.
Justru di sini letak kesiapan obama2 kita yg di dalamnya terdapat trik dan intrik bagaimana bisa menyeruak di tengah kerumunan manusia lama.

Wahyu Riyadi said...

kalau bicara soal calon independen sih sulit sekali. sekarang pertanyaannya apa bisa calon independen memenuhi syarat yang ditentukan untuk dapat maju sebagai capres?
hil yang mustahal. kecuali bila sang calon sangat amat populer sekali.

wisnoe said...

Mungkin yang dimaksud Mas Gasgus lebih ke calon independen, soale UU Pilpres memang tidak memihak kepada kontestan ini.
Tapi bayangkan saja jika ada seseorang yang sangat populer di masyarakat kemudian menjadi presiden karena pilpres langsung, padahal dia tidak mempunyai dukungan di legislatif. Tunggu hitungan hari saja deh pemerintahannya bisa bertahan. Minimal terjadi gonjang ganjing selama pemerintahan dia.
Memang terpaksanya calon independen harus memakai kendaraan partai agar bisa kuat nantinya.
Saat ini, selama para politisi busuk masih bercokol di legislatif, sistem ini merupakan jalan tengahnya.
Mau radikal atau revolusioner? Jadi inget asap dapur lagi. :-D

gasgus said...

Iya neh mas wisnoe, mas wahyu, ruwet mikirin nasib si mas 'Obama', mending mikirin dapur dulu biar terus ngepul, kekekekeke...

Wahyu Riyadi said...

betul mas.
seberapa keras usaha untuk menciptakan sistem yang ideal berikut good governance-nya. akhir-akhirnya sampai juga ke urusan dapur.

hi.hi..

mingto said...

bagus benar yah!!! salam kenal z nih!!!!

mingto said...

bagus benar yah!!! salam kenal z nih!!!!

Ian said...

kapan kira" Indonesia benar-benar punya Barrack Obama? Sayang juga dia gak nyalonin--pergi ke salon? mank mau potong rambut :) -- diri jadi presiden indonesia ya? Secara dia tinggal disini cukup lama...