Showing posts with label cuap-cuap. Show all posts
Showing posts with label cuap-cuap. Show all posts

Tuesday, July 20, 2010

Mualaf.. Shalat Jum'at.. Pemilukada Gila..


Ada satu cerita menarik tentang seorang yang menjadi mualaf karena shalat jumat.

Alkisah, seorang expatriate yang sudah lama tinggal di Indonesia mempunyai satu masalah yang teramat mengganggu. Insomnia. Penyakit ini telah menghantuinya selama 5 tahun terakhir. Kurang tidur menyebabkan tubuhnya kurus, gelisah, sulit konsentrasi, dan emosi mudah meledak.

Karena alasan terakhir inilah ia harus berpisah dengan istri tercinta.
Sudah berbagai metode pengobatan dicoba. Pengobatan modern, pijat refleksi, obat china, yoga, pijat plus plus.. semuanya nihil. Hanya obat tidur jualah andalan pamungkasnya. Itupun makin lama makin bertambah dosisnya.

Satu ketika saat makan siang dengan beberapa kolega yang pribumi muslim, ia mendengar obrolan mereka tentang shalat jumat.

Besoknya ia memutuskan menjadi mualaf. Ya.. langsung besoknya. Tentu saja ini mengejutkan semua teman kantor. Sejak saat itu ia berubah tenang, lebih segar, emosi lebih terkontrol. Luar biasa. Dan satu lagi perubahan lain. Ia sangat kecanduan shalat jumat. Sangat.

Hari Rabu ia sudah gelisah tak sabar menanti jumat datang. Hari Kamis ia sudah mengenakan sorban dan kupiah. Jumat tiba, jam 9 pagi ia sudah berwudhu, jam 10 pergi ke mesjid yang berjarak 300 meter dari kantor. Teman-teman bingung dan kagum. Hebat sekali semangatnya melakukan ibadah jumat.

Hal ini terus berlangsung. Dan obsesinya terhadap shalat jumat masih terus konsisten. Karena rasa penasarannya yang tak tertahankan, akhirnya teman sesama ekspatriat bertanya.

‘My brother, honestly.. I really couldn’t understand how you decided to become a Muslim. And you.. You are extremely changes. You more.. fresh’

‘Hmm.. Actually.. ini karena saya tak sengaja mendengar cerita tentang shalat jumat’. Jawab si ekspatriat mualaf.
‘shalat jumat..?’
‘Ya.. mereka bilang khutbah jumat bisa membuat tidur. Dan setelah saya coba, its work..!! luar biasa.. baru pertama kali dalam 5 tahun terakhir saya bisa merasakan saat-saat dimana saya bisa tidur dengan nikmat dan lelap. Amazing..’.


*****




Haha.. cerita di atas tentunya hanyalah fiktif dan guyon belaka. Namun ini memang menggambarkan realita yang ada. Terlepas dari tidur saat khutbah jumat adalah tidak baik, namun itu adalah hal yang secara factual memang terjadi. Dan saya alami sendiri. Mungkin anda semua merasa hal yang sama.

Dan yang hebatnya. Kantuk secara kilat akan datang, bahkan baru 2 menit pertama khutbah dimulai. Saking hebatnya kantuk menyerang, kita sanggup tertidur dengan posisi duduk bersila. Suara khatib lantang memekakkan telinga, justru menjadi dendangan nina bobo yang mujarab. Dan kita baru tersentak bangun ketika khatib membacakan doa terakhir penutup khutbah. Dibangunkan oleh gema ‘amiin..’ para jamaah.

Ya, itu yang saya rasa. Tentunya tidak setiap jumat saya tertidur. Usaha susah payah menahan kantuk berhasil menjaga mata ini agar tetap terbuka.

Tapi jumat kemarin terasa beda. Kantuk tak sempat datang. Khatib mengajak jamaah ikut berpikir dan merenung. Khatib menghadirkan satu tema yang menarik. Tentang Negara. Tentang bangsa yang semakin tak karuan. Tentang fenomena Pemilukada yang gila.

Nah.. sekarang ganti saya yang ingin mengajak anda merenung. Sebentar saja, so jangan khawatir membuat pusing lan mumet.

Mari kita berpikir. Para calon bupati, walikota, yang ikut dalam Pemilukada, sudah menjadi rahasia umum kalau mereka harus mengeluarkan kocek hingga miliaran rupiah. Untuk kampanye, Tim Sukses, untuk partai pengusung, sogok sana sogok sini, serangan fajar, dan tetek bengek lainnya.

Modal yang diperlukan berbeda tergantung daerah masing-masing. Daerah yang surplus dan penghasilan daerahnya besar, akan membutuhkan modal kampanye yang juga besar. Begitu juga sebaliknya.

Sebagai contoh saja. Modal kampanye untuk menjadi gubernur pada salah satu pemilukada adalah 11 miliar. Wow.. 11 miliar. Tak heran kalau banyak calon pemimpin daerah yang gagal hilang akal dan harus mondok di pesantren kejiwaan alias RSJ.

11 miliar, ck..ck..

Sekarang coba kalkulasi yuk. Gaji gubernur terkait contoh di atas adalah 8,95 juta/bulan. Ya.. mungkin ada tunjangan ini itu sehingga total 15 juta/bulan. Anggap saja begitu. Dalam setahun ada 12 bulan. Plus 1 bulan dari gaji ke-13. Sehingga total pendapatan setahun 15 x 13 = 195 juta. Masa jabatan gubernur adalah 5 tahun, sehingga total pendapatan selama masa jabatan adalah 975 juta.

Coba lihat. 975 juta. Bahkan 1 miliarpun tidak ada. Sangat jauh dibandingkan dengan modal kampanye yang dikeluarkan sampai 11 miliar. Dan ingat, pendapatan tadi belum dikurangi biaya hidup. Sehingga dengan kalkulasi sederhana ini saja sudah bisa dilihat bahwa pekerjaan menjadi gubernur adalah pekerjaan yang rugi dan tidak menguntungkan. Tapi kenyataannya, banyak yang berebut ingin menjadi gubernur. Dan anehnya, banyak para gubernur tadi yang bertambah kaya raya setelah menjabat.

Padahal secara hitung-hitungan harusnya merugi. Hebat bukan..!

Tentu saja kita sudah mahfum bahwa ‘pendapatan’ mereka bukanlah dari gaji bulanan sebagai pejabat. Namun penghasilan lain di balik jabatan itu. Uang proyek, sogokan pelicin para pengusaha, hasil korupsi, dan lain-lain.

Jika betul demikian, maka betul-betul gila dan gila betul. Itu berarti mereka para calon pemimpin daerah memang sudah berniat untuk melakukan korupsi. Sekali lagi, memang sudah berniat. Pantas saja negeri ini tak bisa maju.

Gila..

Dan jumat kali itu, saya tidak bisa tidur.. Gila..


Read more...

Tuesday, June 22, 2010

Perbedaan Sirloin dan Tenderloin

Setelah sekian lama blog ini tidak di maintain dan disia-siakan, akhirnya terbitlah posting terbaru saya. 

Kemarin bersama istri saya refreshing jalan berdua. Lama kami tidak pernah pergi bersama. Pertama karena memang sibuk urusan pekerjaan, dan kedua karena anak pertama kami yang baru lahir dan tidak mungkin untuk ditinggal.

Namun hari itu kami memang sengaja untuk pergi dalam rangka survey mencari calon tempat tinggal. Ya.. kami memang merencanakan untuk segera memiliki rumah. Dan karena akan ditempati selamanya, maka haruslah betul-betul dipilih dan ideal sebagai tempat tinggal.

Dalam perjalanan istri mengajak mampir di sebuah rumah makan favorite yang khusus menyajikan aneka jenis steak yang merupakan makanan favoritnya.

Ada beragam menu dan aneka jenis steak. Saya memesan sirloin steak dan istri tenderloin steak. Dua jenis steak ini sebetulnya sudah familiar bagi saya. Namun entah kenapa saat itu saya begitu penasaran ingin mengetahui perbedaan antara sirloin steak dan tenderloin steak.

Dari segi rasa menurut saya tak ada beda. Semuanya sama-sama daging sapi. Semuanya sama-sma enak. Lantas apa perbedaan keduanya..??

Penasaran sayapun googling. Dan inilah hasil penelusuran saya. Mudah-mudahan dengan berbagi artikel ini dapat memberi manfaat dan informasi baru.

1. Sirloin steak
Steak ini berasal dari daging Sirloin, yaitu daging yang berasal dari bagian belakang sapi. Daging ini bekerja lebih berat daripada bagian lain yang umum dipakai untuk steak sehingga agak lebih keras dibandingkan yang lain.


Konon kata ‘Sirloin’ berasal dari kata ‘Sir’ dan ‘loin’. ‘Sir’ adalah panggilan untuk laki-laki dalam bahasa inggris. Laki-laki cenderung keras. Oleh karena itu sirloin memiliki tekstur lebih keras dari Tenderloin.


Saya kurang tahu apakah pengertian ini benar atau hanya cara agar mudah mengingat tentang daging sirloin.
Sirloin memiliki kelebihan dalam ukuran, yaitu bisa dipotong lebih besar daripada bagian sapi lainnya yang lebih lembut. Harga Sirloin umumnya lebih murah dibandingkan daging steak lainnya.


2. Tenderloin Steak
Sementara Tenderloin adalah daging yang berada di depan sirloin dan di belakang tulang rusuk (rib). Daging tenderloin tidak bekerja keras sehingga tenderloin adalah bagian sapi yang paling lembut. Tenderloin berbentuk memanjang seperti ular dan untuk steak biasanya dipotong secara diagonal.


Kata tenderloin berasal dari kata ‘tender’ dan ‘loin’. ‘tender’ berarti empuk. Maka daging tenderloin memiliki tekstur yang lebih empuk daripada sirloin.


Untuk lebih jelasnya silahkan perhatikan gambar berikut.




Coba perhatikan dimana letak perbedaan antara daging sirloin dan tenderloin.


Tapi bagi saya, hampir tidak ada perbedaan antara daging sirloin dan tenderloin. Bagi saya keduanya sama-sama empuk dan keduanya sama-sama enak. Saya juga tidak begitu peduli daging tersebut posisinya ada di sebelah mana pada tubuh sapi. Yang penting bisa dan enak di santap. Hehe..


Dan favorit saya sebetulnya bukan daging sapi. Tapi, daging kambing. Apalagi dihidangkan sebagai Sop buntut goreng. Hmmm...



Read more...

Wednesday, October 28, 2009

Minyak Telon dan Minyak Kayu Putih

Pernah suatu ketika saya diminta istri untuk membeli minyak gosok khusus bayi. Sebagai seorang suami yang baik dan bertanggung jawab segeralah saya meluncur ke mini market terdekat. Dengan tangkas saya mengambil sebotol minyak kayu putih yang kualitasnya paling baik (setidaknya menurut saya). Yang botol kemasannya berwarna hijau.

Sampai rumah langsung saya serahkan permintaan istri terkasih sembari berlutut di depannya, layaknya seorang pangeran menyerahkan setangkai bunga mawar pada seorang putri. “As you wish..”, ucap saya.

Istri tidak menyahut. Tidak juga mengambil minyak gosok dari tangan saya. Saya yang menunduk segera mendongak. Istri diam tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Matanya menatap wajah saya yang sedikit bingung.

Ini sih bukan minyak bayi..!”, ujarnya sambil mengambil minyak dari genggaman saya. “Ini minyak kayu putih..!!”, tambahnya.

Lha.. memangnya beda..??”, tanya saya yang mungkin terlihat o’on saat itu.

“Ya beda donk mas, dari baunya kan jelas beda. Minyak bayi itu minyak telon. Beda sama minyak kayu putih.”, tambahnya.

“oo.. ya maaf. Sini, biar diganti dengan minyak telon”.

“Nggak usah. Udah gak papa pake ini juga”. Jawab istri. Dia memang lebih senang menggunakan minyak telon untuk bayi ketimbang minyak kayu putih. “Baunya lebih enak..”, katanya ketika ditanya kenapa lebih suka minyak telon.

Naah.. dari sinilah rasa penasaran saya muncul. Apa iya minyak bayi itu bukan minyak kayu putih. Bagi saya koq terlihat sama ya.

Yuk.. mari kita lihat lebih jauh perbedaan minyak telon bayi dengan minyak kayu putih. Yah.. siapa tau anda-anda para pria dan suami muda juga mendapat permintaan yang sama dari istri. Diminta untuk membeli minyak telon bayi. Kan peristiwa di atas tidak terulang pada anda. Haha..

Minyak telon. Pertama kali mendengar namanya saja saya merasa asing. Aneh. Koq ya ada orang yang memberi nama ‘telon’.

Pada umumnya nama minyak-kan berasal dari nama sumber asal-nya. Minyak kayu putih, jelas berasal dari kata ‘kayu putih’. Nama tanaman asal minyak tersebut.
Minyak cendana juga berasal dari nama tanaman penghasil minyak tersebut. Kayu Cendana.
Minyak sereh dari tanaman sereh.
Minyak cengkeh, minyak melati, dan lainnya.

Lha kalau minyak telon? Apa berasal dari tanaman telon..? Atau bunga ‘telon’..?

Ternyata kata ‘telon’ bukan nama sejenis tanaman, kayu,atau bunga. ‘Telon’ merupakan bahasa jawa untuk ‘tiga’. Ya.. ‘tiga’ yang itu!!.
Satu.. dua.. tiga.

Hal ini karena minyak telon terdiri dari tiga bahan utama. Minyak kayu putih, minyak adas, dan minyak kelapa. Karena campuran dari tiga bahan inilah maka diberi nama telon yang berarti tiga.

Aroma khas bayi pada minyak telon berasal dari aroma minyak adas. Minyak yang ditambahkan untuk mengatasi perut kembung. Semakin kuat aroma bayi, semakin banyak campuran minyak adas pada minyak telon. Sementara minyak kelapa ditambahkan sebagai pelembut. Minyak kayu putih mempunyai aroma yang kuat dan rasa yang panas. Karena kulit bayi masih sensitif maka ditambahkan minyak kelapa sebagai pelembut dan pelumas. Bila kandungan minyak kelapa terlalu banyak, minyak telon akan terasa lengket.

Yang perlu diperhatikan adalah expire date. Minyak kelapa mudah teroksidasi dengan udara. Dan seiring waktu minyak menjadi tengik dan mempengaruhi aroma minyak telon.

Naah.. ternyata memang benar minyak telon berbeda dengan minyak kayu putih.

"Oh istriku.. lain kali kalau diminta membeli minyak bayi, suamimu ini tak akanlah salah lagi. hehe.."

Semoga artikel ringan ini bisa membantu anda untuk membedakan minyak telon dan minyak lainnya.

Oh ya, tambahan informasi lagi. sekarang ini minyak telon sudah dicampur dengan minyak sereh. Hal ini membuat minyak telon selain sebagai minyak gosok untuk mengobati kembung dan pemberi rasa hangat, juga bermanfaat sebagai minyak pengusir nyamuk.


Read more...

Monday, September 28, 2009

Mudik: Napak Tilas Kaum Urban


Hari ini hari pertama kembali pada rutinitas kerja. Kembali pada suasana sumpek dan semrawut kota Jakarta. Kembali pada kesunyian di tengah-tengah hiruk pikuk keramaian kota, di tengah ribuan manusia asing yang tak (mau) dikenal. Entah berapa lama nuansa kesegaran desa dan kampung halaman bertahan menghadapi ibu kota Jakarta ini.

Idul fitri kali ini, 1430 H. Merupakan hari raya pertama yang saya jalani sebagai seorang yang sudah berkeluarga. Dengan status baru ini, ritual mudik tetap dijalani. Pengaturan jadwal silaturahim menjadi lebih padat. Diatur sedemikian rupa agar pembagian kunjungan adil dan seimbang antara keluarga orang tua dan keluarga istri. Lelah namun bahagia.

Mudik merupakan fenomena hari raya yang hanya terjadi di Indonesia. Kondisi sentralisasi negara ini menjadikan ibukota sebagai tujuan utama para pencari penghidupan. Arus Urbanisasi tak terbendung. Kaum urban yang telah bertahun-tahun menetap dan menjelma menjadi masyarakat kota memanfaatkan moment idul fitri dan libur panjang untuk kembali menjenguk kampung halamannya. Silaturahim dengan keluarga di desa sekaligus mengenang dan mengingat asal usul mereka. Eksodus jutaan manusia meninggalkan ibukota keluar menuju ke kampung halaman bagai arus balik urbanisasi yang fenomenal. Walau hanya sesaat. Karena setelah musim mudik usai. Jutaan manusia tersebut kembali berbondong menuju ibukota.

Banyak yang memandang negatif kegiatan ini. Mereka beralasan mudik hanya aktivitas pemborosan tenaga, biaya, dan waktu.

Saya membaca satu artikel ulasan mudik yang apik. Saya tulis ulang artikel tersebut.

Mudik, Memasuki Time Tunnel
Oleh: Djoko Suud Sukahar


Jakarta - Hari-hari ini eksodus besar-besaran terjadi di kota. Jutaan orang berserak memenuhi jalanan. Dengan berbagai gaya dan sarana mereka pergi secara bersamaan. Akibatnya tidak hanya terminal, bandara dan stasiun yang sesak, tetapi juga jalan raya. Motor dan mobil dipacu tak istirah, dengan satu tujuan mudik ke kampung halaman. Ini ritus laten yang berlangsung tiap tahun.

Lebaran kian dekat, dan ritus macam itu juga terus terulang. Tidak ada yang merasa jenuh dan lelah menjalani. Suasana riuh-rendah dan crowded di mana-mana menjadi kenikmatan. Di hari menjelang Idul Fitri ini berjubel dalam antrean dan berarak ‘tak beraturan’ di tengah kemacetan bukan lagi beban.

Semua sukacita. Itu bukan prerogatif yang mapan dan kecukupan. Saudara-saudara kita yang tertimpa musibah gempa juga menyambut hari itu dengan batin yang sama. Itu karena di Idul Fitri ini keluarga yang terberai bertemu. Dan suka maupun duka menyatu dalam kisah yang melodramatik.

Menjelang lebaran situasi gabah diinteri memang bukan gambaran suram. Itu seperti surga yang lama dinanti-nanti. Tak hanya sebagai perayaan di hari kemenangan setelah berpuasa, tapi juga sebagai hari untuk berkaca diri dan melihat masalalu. Sekarang inilah saatnya pemudik memasuki ‘time tunnel’. Melakukan napak tilas, memutar ulang jalan setapak dari proses panjang sebuah perjalanan.

Suasana syahdu itu yang terbayang. Beban itu yang tersandang. Menumpuk di sebuah bab dalam buku catatan kegagalan dan keberhasilan dari orang-orang yang berasal dari desa itu. Diary ini tidak pernah dibuka dan tidak pernah diungkap. Kota yang kompetitif membuat semuanya soliter. Hidup sendiri. Langka manusia solider. Tak banyak yang rela berbagi telinga untuk mendengar kisah yang lain.

Di desa, telinga dan anggukan kepala melimpah. Kisah romantis dari kota, betul atau karangan, diamini setulus hati. Mereka bangga warganya berhasil di ‘negeri seberang’. Mereka respek dengan keberanian serta kegigihan siapa saja yang berhasil ‘menaklukkan’ kota besar. Bagi warga desa tidak ada lawan atau kompetitor. Yang ada, semuanya saudara, teman dan handai taulan.

Suasana yang memberi ruang untuk berbagi suka dan duka itu yang lama diidamkan. Salah dan benar tidak disoal, melebur dalam fitrah. Kalau salah dimaafkan,
syukur-syukur benar. Di desa manusia kembali ke asal. Alpa atau sadar semuanya dikemas jadi fitri, tanpa noda. Itu karena sikap tanpa pamrih dan apresiasi terhadap nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi soko guru masyarakatnya.

Suasana seperti itu yang paling mahal. Betapa kerinduan terhadap kampung halaman telah mengisi relung tersendiri dalam hati kecil tiap individu. Itu yang sering menggugah alam bawah sadar untuk kembali diputar ulang dan dikisahkan berulang-ulang. Tapi bagaimana mungkin ‘siksa’ menjadi surga hanya sekadar untuk berbagi kisah dan menengok masalalu di desa?

Ada seorang teman yang punya kebiasaan unik tatkala menjelang lebaran tiba. Menunggu berbuka puasa dia ‘ngabuburit’ di terminal. Melihat riuh orang mudik, dan mengamati ‘fashion pemudik’ dengan gaya khasnya membawa dos-dos besar terpanggul di pundak.

Menyaksikan para pemudik itu ‘perang’ berebut naik bus berjejal-jejalan, tiba-tiba airmata sang teman itu meleleh. Mulutnya mendesis pelan, dan dari mulutnya terlontar dzikrullah berulang-ulang. Allah, Allah, Allah, Alhamdulillah ya Allah !

Adakah asma Allah itu ditujukan untuk mendoakan agar sang pemudik selamat sampai tujuan? Ataukah itu lontaran belas kasih terhadap pemudik yang ‘kalah perang’ berjuang memperbaiki taraf hidup di perkotaan?

“Bukan, saya justru rindu menjadi mereka. Saya terharu dengan spirit mereka pulang kampung di hari raya Idul Fitri. Entah, saban tahun saya tak kuasa untuk tidak menangis melihat pemandangan itu. Adakah ini karena saya orang kota yang sudah kehilangan keluarga masalalu saya di desa?”

Subhanallah ! Pulang kampung memang surga. Selamat berlebaran di desa, saudaraku !

Read more...

Thursday, September 24, 2009

Mohon Maaf Lahir Batin..


Masih dalam suasana lebaran. Saya mengucapkan selamat idul fitri 1430 H. Mohon maaf bila ada kata-kata dalam artikel di blog ini yang kurang berkenan dan menyinggung perasaan.

Ini bukan hanya ucapan formalitas lebaran saja. Yang sekedar ucapan 'penggugur kewajiban' tanpa diresapi dan sambil lalu. Yang secara spontan diucapkan ketika bertemu dengan kawan dan tetangga.

Bersalaman, 'minal aidzin wal faidzin', tersenyum, kemudian berlalu begitu saja. Semuanya dilakukan tanpa kesadaran bahwa saat itu kita sedang meminta maaf dan menyesali atas semua kesalahan yang pernah dan mungkin terjadi. Semuanya terjadi tanpa ada peresapan makna bahwa saat itu kita sedang memberikan maaf ikhlas atas semua tindakan dan kesalahan yang orang lain lakukan. Semuanya sekali lagi hanya formalitas dan tindakan rutinitas lebaran belaka. Seperti yang saat ini umum terjadi.

Sekali kali tidak. Saya secara sungguh-sungguh meminta maaf, secara sadar memohon di bukakan pintu maaf. Bila ada kata-kata dalam blog ini yang menyinggung dan menyakiti.


Sekali lagi, selamat idul fitri 1430 H, mohon maaf lahir dan batin..


Read more...

Friday, August 14, 2009

Efisiensi Sistem Denda Tilang

Seorang kawan baru saja pulang dari tugas luar kota. Di pesawat dia terlibat percakapan menarik dengan seorang penumpang. Berikut cerita kawan saya, sengaja saya menggunakan kalimat langsung orang pertama agar lebih mudah dibaca dan dimengerti.


Di dalam pesawat saya langsung duduk. Di sebelah saya seorang bapak berpakaian batik rapi dan necis. Sekilas wajahnya tampak familiar, tapi saya tak dapat mengingat dimana pernah melihatnya.

Setelah duduk saya mengeluarkan isi saku jaket sekedar merapikan. Karcis tol, tiket pesawat, uang, struk belanja alfamart dan ah ya.. surat tilang. ‘Surat cinta’ dari pak polisi tadi pagi. Sangat menyebalkan.

“Surat tilang..??!”, Bapak berbatik di sebelah saya bertanya dengan senyum manisnya.

Ya. Tadi saat ke bandara buru-buru sampai lupa memakai seat belt”.

Ah ya.. hal yang sering terjadi. Jadi.. Mas-nya lebih memilih untuk di tilang dan ikut pengadilan ketimbang membayar di tempat??, haha.. warga yang baik”.

Saya tidak menjawab. Tak yakin apakah dia tulus atau hanya pernyataan sarkastik belaka.


Tak lama kemudian pesawat lepas landas.

“Sistem yang amat tidak efisien..!!”, Bapak berbatik tiba-tiba bicara setelah hening sesaat.

Apa??”

Itu. Coba pikir, Mas tidak menabrak mobil lain. Tidak melukai orang lain. Tidak mabuk, dan tidak membahayakan orang lain. Mas hanya lupa menggunakan seat belt. Kesalahan kecil yang tak disengaja. Tapi mereka tetap menahan SIM dan Mas harus ke pengadilan untuk membayar denda dan mendapatkan SIM kembali.

Bayangkan berapa banyak orang yang harus terlibat. Polisi harus memproses surat tilang tersebut, kemudian menyerahkannya ke pengadilan, di pengadilan akan semakin banyak orang yang ‘direpotkan’ dan sibuk menyelesaikan berkas-berkas dan urusan administratif lainnya.

Semua orang ini. Sibuk menggeluti sebuah kertas, menghabiskan banyak waktu dan tenaga Untuk apa? Semuanya hanya karena Mas lupa memakai seat belt”.

Bapak itu benar. Saya bahkan tidak berpikir sejauh itu.

“Akan dimengerti jika Mas melakukan suatu kesalahan serius. Namun hanya karena lupa menggunakan seat belt, melanggar marka jalan, salah berputar.. apakah perlu sampai pergi ke pengadilan dan ‘membuang’ waktu semua orang??. Bayangkan semua produktivitas yang hilang. Sekarang Mas harus ke pengadilan dan berada di sana seharian penuh. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja dan kegiatan produktif lainnya”.

“Benar. Lalu apa saran Bapak?”, saya bertanya padanya. Penasaran apa pendapat Bapak sebelah saya itu.

“Idealnya, mereka tidak menahan SIM milik Mas. Hanya memberikan surat tilang dan membiarkan Mas pergi. Mas bisa membayar tilang di Bank manapun, dan selesai. Seharusnya simple saja. Tidak perlu harus berlarut-larut”.

“Tapi..”, Bapak berbatik melanjutkan, “Apakah Mas tau apa yang terjadi kalau hal seperti tadi dilakukan?”

“Sebagian orang akan tidak peduli dan tidak mau membayar denda”, sambar saya.

“Tepat! Dan kenapa bisa begitu?”, tanya Bapak berbatik. Senang karena saya mau mengikuti ‘permainannya’ sejauh ini.

“Karena polisi tidak mempunyai alat untuk memaksa kita membayar. Alasan polisi menahan SIM saya adalah agar saya mau membayar denda tilang”.

“Betul! Tapi bukankah polisi mencatat no kendaraan dan bisa melacak bila Mas tidak mau membayar denda?”.

“Ya, tapi tidak semua kendaraan ter-registrasi dengan nama pemiliknya. Kendaraan saya contohnya. Saya membelinya second dari tangan kedua, dan belum balik nama. Masih atas nama pemilik sebelumnya. Maka jika polisi melacak kendaraan saya, yang mereka dapat adalah nama pemilik sebelumnya”.

“Tepat. Kita semakin dekat dengan akar masalah. Sekarang.. kenapa Mas-nya tidak segera balik nama dan meregistrasi kendaraan atas nama sendiri?”.

“Hmm.. sebetulnya lebih karena biaya yang mahal.. dan teman-teman bilang kalau prosesnya sangat birokratik. Sejujurnya, saya belum pernah melakukan hal-hal seperti itu sendiri”.

“Maka kita harus membuatnya menjadi lebih MUDAH.. dan MURAH..”.

“Sulit dilakukan. Pemerintah ingin mendapat pemasukan sebesar mungkin”, jawab saya.

“Ah.. anak muda. Coba lihat seperti ini. Katakanlah pemerintah membuat proses registrasi balik nama menjadi sangat mudah, hanya 10 menit. Dan biaya dipangkas setengahnya. 50 %. Saya berani bertaruh, orang yang merubah nama kepemilikan kendaraannya akan bertambah signifikan. Mungkin tiga kali lipat. Potong biaya setengahnya, dan pemerintah akan mendapat tiga kali lipat. Dan sebetulnya pemerintah akan mendapat lebih banyak lagi.

Jika semua kendaraan telah ter-registrasi atas nama pemilik sesungguhnya, maka jika ada kasus tidak membayar denda tilang, kepolisian akan dapat melacak mereka melalui no kendaraan, dan memberikan denda berkali lipat. Tambahan uang untuk pemerintah”.

Saya mengangguk. Masuk akal.

Bapak tersebut meneruskan.

“Dengan uang lebih, kita dapat menggunakan sebagian untuk memperbaiki kesejahteraan bapak-bapak polisi kita. Mereka ini bekerja siang malam di jalanan penuh polusi. Juga penuh bahaya. Dengan uang tersebut juga kita dapat melakukan perbaikan peralatan kepolisian. Alat komunikasi lebih canggih, komputer, kamera, mobil yang lebih baik, dan motor. Pada akhirnya mereka akan bekerja lebih baik dan mampu menangkap lebih banyak pelanggar lalu lintas dan membawa lebih banyak rupiah pada pemerintah.

Dan kita. Sebagai warga masyarakat. Bila melakukan pelanggaran dan terpaksa harus membayar denda tilang, akan dengan senang hati membayar karena:
Satu, kita tidak perlu membuang waktu dengan pergi ke pengadilan, dan kedua, kita tau pasti bahwa uang yang kita bayarkan akan betul-betul masuk ke negara bukan ke kantong-kantong pribadi para oknum polisi guna memperbesar perut mereka.

Kepolisian dan pengadilan juga akan senang. Sedikit kasus tilang, berarti semakin banyak waktu untuk mengerjakan kasus-kasus yag lebih penting, seperti korupsi contohnya”.

“Kedengarannya bagus”, kata saya. “Lalu kenapa hal itu tidak segera dilakukan?, kenapa kita masih saja terjebak dengan sistem yang tidak efisien ini?”.

“Coba pikir seperti ini. Ini seperti fenomena reformasi kita”.

“Reformasi?”

“Ya. Sebelum kita mendapatkan reformasi, sebagian orang sangat nyaman dibawah Soeharto. Mereka banyak mendapat harta. Membangun lebih banyak bisnis dan mendapat lebih banyak uang. Maka, ketika Soeharto turun, mereka resistant. Hidup sudah bagus, kenapa di rubah?? Ini dapat dimengerti. Mereka tidak ingin kehilangan investasinya, bisnisnya, semuanya yang telah diperoleh di masa Soeharto.

Persis sama dengan yang terjadi pada sistem perundangan lalulintas kita. Kita perlu membuka mata mereka. Kita perlu meminta mereka, jikapun dengan memaksa seperti pada reformasi kita!!. Suatu mimpi yang indah bukan?”.

“Ya..”, jawab saya.

Orang tua yang sangat mempesona.

(Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI. Mencoba memberi alternatif ide untuk memperbaiki negara tercinta ini)



Artikel terkait : Undang-undang pelanggaran lalulintas No 14 tahun 1992

Read more...

Thursday, July 30, 2009

'Life will find a way..'


Banyak anak banyak rejeki. Demikianlah pameo yang dipercaya masyarakat jawa. Dahulu tingkat kematian bayi saat proses melahirkan masih tinggi. Bayi yang bertahan hidup-pun masih belum sepenuhnya aman dari kematian masa kanak-kanak karena kesehatan yang belum semaju seperti sekarang. Oleh karena itu para orang tua waktu itu berlomba-lomba membuat banyak anak sebagai serep dan usaha ‘menaklukkan alam’. Jikalau satu harus meninggal, toh masih ada yang lain. Masih ada cadangan. Malah tak jarang dari sepuluh anak, yang mampu bertahan hidup hingga dewasa kurang dari setengahnya.

Sekarang pemahaman diatas sudah berubah. Banyak anak tak lagi banyak rejeki, justru sebaliknya, banyak pengeluaran. Banyak kesulitan. Pemerintah bersama masyarakat secara sadar sudah membatasi jumlah anak guna meningkatkan taraf hidup dan yang terpenting guna mengontrol laju populasi. Salah satu masalah utama manusia adalah laju populasi yang terus membengkak sementara bahan makanan semakin terbatas. Dikhawatirkan suatu saat nanti bahan makanan di bumi ini sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan manusia.

Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri kesadaran perlunya upaya mengontrol laju populasi sudah lama berkembang. Sejak tahun 1979, Pemerintah China memberlakukan kebijakan satu anak dalam keluarga di perkotaan. Untuk keluarga di pedesaan dan suku-suku minoritas, mereka diperbolehkan memiliki anak lebih dari satu. Keluarga yang mengabaikan kebijakan satu anak harus membayar denda tinggi, bahkan terkadang mengalami diskriminasi di tempat kerja.

Namun ternyata semua usaha tersebut tidak begitu berhasil. Seperti semua usaha rekayasa terhadap kehidupan, alam pasti tidak akan tinggal diam dan bereaksi guna mencapai keseimbangan. Seperti perkataan Dr Malcolm dalam Jurassic Park, ‘Life will find a way..’


Setelah berjalan, kebijakan itu menimbulkan masalah baru. Proporsi penduduk usia tua dengan usia produktif tidak seimbang. Hal itu juga menimbulkan ketidakseimbangan jender karena secara tradisi anak lelaki lebih disukai sehingga janin anak perempuan kadang dikorbankan. Karena hanya diberi jatah memiliki satu orang anak, maka para orang tua sangat memilih membesarkan anak terbaik. Akibatnya janin perempuan tidak mendapat tempat. Mereka disia-siakan. Tingkat aborsi pun meningkat. Para orang tua lebih memilih menunggu mendapatkan janin laki-laki.

Masalah lain, anak tunggal dalam keluarga cenderung egois dan manja. Banyak anak dijuluki ”Kaisar Kecil”. Selain itu, pendidikan anak dalam keluargapun tidak sehat. Tumbuh jadi anak tunggal juga tak selalu mudah. Banyak orangtua yang menginginkan anak mereka hebat dalam segala hal. Maka, anak satu-satunya harapan keluarga itu harus mengikuti seabrek kegiatan dan tekanan. Orangtua cenderung berharap terlalu tinggi kepada anak semata wayangnya.

Belakangan ini, kebijakan satu anak itu tampaknya akan dikendurkan. Pemerintah malahan mendorong pasangan orangtua agar memiliki anak kedua. Hal itu sebenarnya sejalan dengan harapan para perempuan di China yang menginginkan anak lebih dari satu. China Daily menyatakan, 70,7 persen perempuan China menginginkan anak lebih dari satu, 83 persen menginginkan seorang anak perempuan dan seorang anak lelaki.

Pemerintah Kota Shanghai sangat mendukung kebijakan dua anak. Kota itu memiliki penduduk paling padat di dataran China, 20 juta jiwa. Sebanyak 3 juta di antaranya berusia 60 tahun, sekitar 22 persen dari populasi. Tahun 2020, pangsa itu akan naik jadi 34 persen.

Kebijakan satu anak ini sudah menuai banyak kontroversi baik di dalam maupun di luar negeri karena penegakannya menggunakan kekerasan, seperti aborsi dan kekerasan lain.
Walaupun ada pelonggaran aturan, China tetap bertekad mencapai target menjaga jumlah penduduknya sebanyak 1,36 miliar tahun depan.

Artikel terkait: Kompas, Sabtu 25 juli 2009

Read more...

Friday, July 17, 2009

Demokrasi Spesial Edition


Seorang teman tergopoh-gopoh berangkat ke terminal Kp rambutan mengejar bis damri menuju bandara. Dia harus tiba di bandara sebelum jam 6 pagi guna mengejar pesawat yang akan berangkat jam 06.15.

Sampai di terminal bis bandara masih ngetem menunggu jam keberangkatan. Teman saya segera masuk ke dalam bis. Hampir semua kursi terisi penuh. Suasana begitu dingin dan sepi. Kurang tidur karena harus mengejar bis pagi-pagi sekali, banyak penumpang yang memilih diam dan tidur sejenak sampai bis tiba di bandara.

Sesaat kemudian dua orang laki-laki masuk ke dalam bis. Mereka berjalan menuju kursi belakang sambil mengobrol dengan suara cukup keras. Hal ini mengagetkan beberapa penumpang yang sedang terlelap. Suasana yang semula tenang kini gaduh penuh suara kedua lelaki tadi. Saking serunya topik pembicaraan, mereka tidak menyadari kalau suaranya telah mengganggu penumpang lain.

Bis-pun mulai bergerak maju.

Dua orang lelaki di belakang masih terus berbicara. Bahkan suara mereka semakin keras berusaha mengatasi deruman mesin bis yang sedang melaju.
Beberapa penumpang menengok ke belakang dan menatap kedua lelaki tadi untuk mengekspresikan rasa terganggu mereka. Namun keduanya, entah karena tidak mengerti atau memang tidak peduli, terus saja berbicara dengan suara keras.

Yang menarik, tidak ada satupun penumpang yang berdiri dan memperingatkan kedua lelaki itu untuk diam. Tidak ada. Para penumpang hanya memandang satu sama lain, menggelengkan kepala, dan menengok ke belakang untuk menunjukkan bahwa mereka terganggu. Tapi tak ada satupun yang berdiri untuk menyampaikan ketidaknyamanan mereka.

Mungkin karena para penumpang hanya ingin dibiarkan sendiri. ‘Saya tidak menggangu anda, anda tidak mengganggu saya, kita sampai di bandara, habis cerita..! Kita tidak ingin masalah. Hidup sudah sulit, kenapa harus ditambah sulit dengan masalah baru’.

Apabila kita anggap bis sebuah demokrasi, para penumpang dapat mencari seorang kandidat, seseorang yang mereka pikir dapat merepresentasikan dan mewakili mereka mengatasi situasi tersebut. Yang atas nama mereka, dengan berani berdiri dan menjelaskan pada dua lelaki di belakang bahwa suara mereka telah mengganggu penumpang lain.

Kedua lelaki tersebut akan mengerti, dan paham.. bahwa meskipun teguran itu datang dari satu orang, namun itu mencerminkan keinginan semua penumpang. Kemudian mereka akan mengecilkan suaranya, dan semua penumpang dapat kembali melanjutkan istirahatnya. Dan semua senang.. Hidup demokrasi..!!

Namun sebagaimana demokrasi di Indonesia, demokrasi di bis tadi bisa saja membawa beberapa kemungkinan lain.

Kemungkinan pertama:
Para penumpang akan memilih satu orang wakilnya untuk diberi wewenang atas nama mereka, lalu sang wakil akan pergi ke belakang untuk memberitahu kedua lelaki agar diam. Tapi bukannya memberi peringatan, sang wakil malah ikut bergabung mengobrol dengan kedua lelaki tadi. Suasana menjadi makin berisik. Sekarang para penumpang terjebak dalam situasi yang lebih parah. Tiga orang bersuara keras..!!

Atau kemungkinan lainnya:
Para penumpang memilih wakil mereka, namun tidak ada satupun yang bersedia dan mau mengambil resiko. Tidak ada kandidat..!
Pada akhirnya, satu-satunya orang yang mau untuk dipilih hanyalah kedua lelaki bersuara keras di belakang..!

Read more...

Friday, July 10, 2009

Bukti rakyat sudah cerdas..

Dimana-mana tema dan topik yang dibicarakan tak jauh dari seputar pemilu pilpres. Televisi, koran, blog.. semuanya membicarakan pilpres. Postingan saya terakhir-pun berkutat di tema itu.

Bagi yang rajin blogwalking pasti sudah jenuh overdosis membaca berita pilpres yang terserak di berbagai blog. Naah.. karena anda sudah sampai di sini, akan saya tambah kejenuhan saudara dengan tulisan berikut, masih dengan tema pilpres. Hihi..

Karena topik ini berat, sedangkan otak saya yang sempit ini tak mampu mengeluarkan wacana sedahsyat ini, khawatir pesan yang
mau disampaikan malah jadi bias, maka maafkan kalau hanya copas dari http://www.ahmadheryawan.com/.


PEMILIHAN PRESIDEN DAN POLITIK PRIMORDIAL
Friday, 10 July 2009 13:28
Oleh: Saiful Mujani

Politik primordial adalah politik yang tumbuh dan berkembang atas nama asal-usul sosial individu atau kelompok, seperti ras, suku, kedaerahan, agama, dan lain-lain. Semua orang punya asal-usul ini bukan karena pilihan, melainkan merupakan takdir hidup. Orang atau kelompok mengejar kekuasaan atas dasar kesamaan asal-usul atau secara sadar mengakui keberagaman asal-usul tersebut dan kemudian menghimpunnya menjadi kekuatan bersama. Bukan atas pertimbangan kemampuan, tanpa mempertimbangkan asalusul itu sebagai faktor utama (meritokratisme).

Dalam masyarakat kita, salah satu bentuk politik primordial adalah politik aliran: sikap dan perilaku politik yang tumbuh dan hidup dari keyakinan atau paham keagamaan. Diyakini bahwa dalam masyarakat kita ada dua aliran keagamaan (Islam) utama: santri dan abangan. Yang pertama dinilai taat menjalankan perintah agama Islam; yang kedua dinilai tidak atau kurang.
Politik elektoral

Pada 1950-an, kaum santri membangun dan mendukung partai-partai Islam, seperti Partai NU dan Masjumi; kaum abangan partai-partai “nasionalis”, seperti PNI dan PKI. Tema dikotomis “Islam” vs “nasionalis” mungkin kurang pas. Yang lebih pas mungkin “partai-partai sekuler” versus “partai-partai Islam”. Pada 1950-an, kekuatan partai Islam sekitar 43 persen di tengah- tengah penduduk yang hampir semuanya beragama Islam. Ini mengindikasikan bahwa, sejak awal politik kepartaian, umat Islam umumnya berorientasi politik sekuler. Setelah 44 tahun (pada Pemilu 1999), dukungan terhadap partai-partai Islam menurun menjadi sekitar 37 persen. Ini pun kalau PKB dan PAN dimasukkan dalam kelompok partai Islam. Dalam Pemilu 2004, kekuatan partai Islam tidak banyak berbeda dengan hasil Pemilu 1999. Tapi, pada Pemilu 2009, kekuatan partai Islam merosot cukup tajam, menjadi sekitar 26 persen.

Politik Islam/santri semakin menurun dalam 60 tahun perjalanan bangsa kalau dilihat dari perkembangan politik kepartaian. Politik aliran menjadi semakin tidak penting di tengah-tengah umat Islam yang kelihatan semakin taat menjalankan agamanya, di tengah-tengah jilbab dan baju koko.

Semakin tidak signifikannya politik santri ini terlihat lebih jelas dalam politik presidensial, yakni pilihan warga atas caloncalon presiden dalam pemilihan presiden. Pada pemilihan presiden 2004, ada dua calon yang biasa diidentifikasi sebagai calon santri, yakni Amien Rais dan Hamzah Haz. Dalam pemilu tersebut, Hamzah Haz mendapat suara sekitar 5 persen, dan Amien Rais sekitar 14 persen. Keduanya tersisih di putaran pertama. Yang masuk putaran kedua, SBY dan Megawati, biasa dianggap sebagai tokoh dari kaum abangan. Sekali lagi, politik Indonesia dikuasai oleh tokohtokoh abangan di tengah-tengah lautan jilbab dan baju koko.

Tapi, menjelang pemilu presiden 2009, sejumlah elite dan partai berusaha melawan arus politik elektoral Indonesia yang semakin menjauh dari konsep politik aliran tersebut. Amien Rais, misalnya, menjelang deklarasi calon presiden- wakil presiden SBY-Boediono, secara terangterangan menolak Boediono sebagai calon wakil presiden bagi SBY karena pilihan terhadap ekonom ini bertentangan dengan pakem klasik politik Indonesia. Memilih Boediono berarti mengabaikan aspirasi umat Islam dan representasi luar Jawa. Sejumlah elite PKS juga beretorika dengan bahasa yang sama. Dikatakan bahwa pemilihan Boediono sebagai calon wakil SBY tidak menampung aspirasi politik umat Islam.

Menjelang pemilu presiden

Tidak sedikit pula pengamat sosial-politik yang masih terpaku pada konsep politik aliran ini. Tiap calon presiden dan wakil presiden dipreteli asal-usulnya, bahkan anak-istrinya, apakah mencerminkan kombinasi aliran atau tidak. JK, misalnya, ditafsirkan lebih mewakili umat Islam karena lebih santri, pernah menjadi aktivis HMI, misalnya. Asal sukunya Bugis dan daerahnya wilayah timur Indonesia. Istrinya berasal dari wilayah barat Indonesia. Wakilnya, Wiranto, lebih mewakili kaum abangan dan etnis Jawa. Tapi istrinya dari daerah timur Indonesia (Gorontalo) dan mencerminkan kaum santri. Karena kombinasi- kombinasi seperti ini dalam pasangan JK-Wiranto, tim suksesnya menyebut pasangan ini “Pasangan Nusantara”.

Justifikasi bahwa perilaku keagamaan masyarakat sangat penting dalam menentukan pilihan, Wiranto secara eksplisit menyatakan bahwa istri pasangan JK-Wiranto ini berbeda dengan istri pasangan SBYBoediono, karena istri JK-Wiranto berjilbab, sedangkan istri SBY-Boediono tidak. Apa yang diharapkan dari ungkapan itu adalah menarik pemilih muslim, karena jilbab dinilai positif dan penting secara politik. Jilbab sebagai bahasa politik juga digunakan sebagian elite PKS ketika mereka melakukan bargaining untuk menolak Boediono sebagai calon wakil presiden bagi SBY.

Walaupun tidak bertumpu pada konsep aliran, pasangan Mega-Prabowo dinilai cukup mencerminkan keberagaman Nusantara. Keduanya dinilai abangan, tapi masingmasing berasal-usul dari suku bangsa dan daerah yang cukup beragam. Mega adalah seorang putri dari pasangan Jawa- Bali (ayahnya) dan Bengkulu (ibunya). Sedangkan Prabowo berasal dari seorang ayah Jawa dan ibu Manado, abangan dan Katolik. Jadi lebih mencerminkan keberagaman dibandingkan dengan pasangan SBY-Boediono.

Pasangan SBYBoediono dinilai sangat homogen dari sisi aliran politik, suku bangsa, dan kedaerahan. Keduanya dianggap berasal dari kaum abangan, etnis Jawa, dan daerah Jawa Timur. Bahkan Jawa Timur “pedalaman” atau “Majapahitan”. Pilihan SBY terhadap Boediono, menurut Amien Rais, bertentangan dengan pandangan yang sudah baku atau klasik tentang pembelahan politik Indonesia.

Indonesia. Amien dan politikus-politikus lain, serta para pengamat politik yang berkacamata politik primordial, mungkin benar bahwa pasangan SBY-Boediono mengabaikan pakem klasik politik Indonesia. Namun, validitas klaim tersebut tidak terlihat dalam politik kepartaian dan dalam pemilu presiden 2004.

Apa yang dianggap sebagai pakem klasik politik Indonesia mungkin sudah luntur; tak mampu lagi menangkap dinamika sosial-politik yang sedang terjadi di masyarakat kita. Sekularisasi politik sedang berlangsung dalam masyarakat. Pada 1950-an, sekularisasi ini belum sekuat sekarang meskipun mayoritas kekuatan politik di parlemen sekuler (PNI, PKI, PSI, dan sejumlah partai kecil lain). Sekularisasi pada 1950-an lebih ideologis, terutama karena pertarungan ideologi politik yang tajam dalam konteks Perang Dingin, terutama antara Islam dan PKI. Pengaruh pertentangan ideologi ini berakar kuat dalam masyarakat, di mana santri versus abangan sangat kuat, setidaknya kalau kita baca karya tahun-tahun itu.

Sekarang sekularisasi politik berlangsung dalam pengertian bahwa masyarakat membedakan kehidupan individual dan sosial dari kehidupan politik. Polarisasi politik kurang ideologis. Ideologi politik sudah mati. Sejak Orde Baru hingga sekarang kita tidak bisa membedakan ideologi partai-partai politik tersebut. Deideologisasi politik ini dipercepat oleh Orde Baru, yang pada dasarnya anti-ideologi dan antipolitik dalam arti tidak menoleransi kebebasan dan keberagaman kekuatan politik. Tapi, di sisi lain, Orde Baru mendorong pembangunan kehidupan keagamaan di tingkat individu, keluarga, dan organisasi sosial. Berhenti sampai di situ. Maka kesalehan individual berkembang dan terpisah dari kekuatan politik.

Tempaan Orde Baru ini membentuk sekularisasi politik sekarang. Kita melihat muslimah-muslimah seperti istri Wiranto atau JK yang berkerudung. Tapi partai mereka bukan PKS atau PPP, melainkan Hanura atau Golkar, yang bukan partai Islam; tidak banyak berbeda dengan Demokrat atau PDI Perjuangan. SBY-Boediono, yang dianggap kurang santri, justru didukung oleh partai-partai Islam (PKS, PPP, PKB, PAN, PBB, PBR, dan lain-lain). Pertimbangan politik murni, misalnya keyakinan akan peluang menang lebih besar, lebih dikedepankan.

Bila pemilu presiden 2009 dimenangi pasangan SBY-Boediono, politik aliran dan lebih luas lagi politik primordial akan menjadi semakin tidak penting. Polarisasi agama, etnik, dan wilayah tidak lagi menjadi basis sosial untuk kepemimpinan nasional. Mungkin ia telah digeser oleh wawasan baru tentang makna agama dan wawasan Nusantara. Saleh secara individual dan sosial, dan tetap menjaga semangat kedaerahan secara sosial, tapi lebih mengedepankan pertimbangan yang lebih inklusif, beyond primordialisme, adalah faktor-faktor dalam menentukan kepemimpinan nasional. Memilih SBY-Boediono mungkin bukan karena sentimen kejawaan atau kejawen menguat, melainkan mungkin karena persepsi pemilih bahwa pasangan ini lebih baik untuk memimpin Indonesia menurut meritokratisme. Apakah akan begitu pemilih kita pada pemilu presiden 2009? Kita lihat.

Read more...

Wednesday, July 8, 2009

Rakyat Indonesia memang 'Over Kreatif..'


Hasil pilpres kali ini saya betul-betul kaget..get..get..!!
Bukan kaget mengenai siapa pemenang pilpres. Kalau itu sih saya sudah bisa menebak. Bahkan saya yakin, semua, baik kawan maupun yang bukan kawan, jauh di lubuk hati terdalam pasti sudah bisa memperkirakan siapa yang akan menang dalam pilpres kali ini. Tanda tandanya sudah jelas. Namun saya kaget justru pada hasil di posisi kedua dan ketiga. Kaget..! koq bisa ya..?

Sebelumnya saya perkirakan yang berada pada posisi kedua adalah pasangan JK-Wiranto. Dan jika seandainya terjadi pilpres dua putaran, yang akan maju melawan esbeye adalah capres no urut tiga ini. Tapi ternyata.. sungguh diluar dugaan. Tidak hanya JK-Wiranto berada pada posisi terakhir, namun selisih peroleh suarapun berbeda amat signifikan. Ck..ck..

Kalau saya saja bisa kaget dengan hasil pilpres ini, bagaimana dengan JK-Wiranto berikut tim suksesnya ya..?? apa ndak stress mereka. Atau para pendukung setia mereka seperti mas Harun ini. Apa ndak kecewa? Tapi.. itulah kenyataan bro. Terima saja. Haha..
Pak JK, selamat pulang kampung, hati-hati di jalan.. Pisss...

Saya ndak ngerti pulitik. Gelap. Maka saya tak berbicara banyak tentang kenapa fenomena ini bisa terjadi. Kenapa JK memperoleh suara sangat sedikit. Kenapa di Aceh 90% justru memilih SBY, bukan JK yang notabene berperan banyak dalam perdamaian di negeri serambi mekah itu.



Apa karena JK berpasangan dengan Wiranto, sehingga rakyat Aceh tidak memilih beliau karena trauma akan era zaman DOM dulu. Atau JK kalah karena sikapnya di masa kampanye dan debat presiden yang terlalu biyayakan.. terlalu agresif, ofensif dan sedikit narsis..? Sementara kultur kita masih belum bisa menerima sikap yang demikian. Budaya kita lebih toleran terhadap sikap yang rendah hati, kalem, bersahaja dan tidak terlalu menunjukkan ingin berkuasa dan menang. Yah.. mungkin karena itu.

Saya perhatikan juga banyak kejadian-kejadian yang sedikit nyeleneh di lapangan. Tentang pencontrengan surat suara. Tidak banyak surat suara yang tidak sah. Itupun tidak secara prinsip, hanya karena ketidaktahuan dan sikap iseng nyeleneh tadi.

Misalnya, ada yang mencontreng dua kali dalam satu kotak salah satu no urut capres, mencontreng capresnya, juga mencontreng cawapresnya. Meskipun sangat jelas maksud si pencontreng memilih yang mana, tapi tetap dianggap tidak sah.

Atau mencontreng satu kali, namun di atas gambar capres dia menulis 'I love you', pun.. ini dianggap tidak sah. Meskipun secara jelas dan gamblang tersirat siapa yang di pilih. Atau ada kejadian yang lebih nyeleneh lagi. Dia sudah mencontreng satu kali pada salah satu capres, tapi di atas kertas suara dia menulis, “Ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Michael Jackson”, ini juga dianggap tidak sah. Ya.. banyak fenomena alasan tidak sahnya surat suara hanya karena perilaku yang nyeleneh kalu tidak dibilang iseng.

Kenapa ini bisa terjadi..? jawab saya cuma satu. Karena orang Indonesia terlalu kreatif. Dalam bahasa lain di sebut iseng. Ya.. ISENG.

Ketika di dalam bilik suara terdapat pulpen/spidol dan kertas. Otak kita langsung bereaksi. Imaginasi kita mengembang memunculkan hasrat keisengan. Tangan kita gatal untuk menggunakan alat tulis lebih dari perlu. Hasilnya seperti yang saya sebut di atas. Menulis 'I love U', menulis pesan bela sungkawa untuk MJ.. Masih untung tidak ada yang mencoret-coret gambar para capres cawapres. Menambahkan kumis.. menambahkan janggut.. kacamata.. memberi anting-anting.. memberi taring.. haha.
Semuanya karena rakyat Indonesia adalah rakyat yang kreatif.

Mari kita terima hasil pilpres ini dengan lapang dada, kita jaga kedamaian, dan kita jaga dan kawal siapapun pemenangnya untuk mewujudakan semua program dan janjinya di masa kampanye.

Sekali lagi, atas kemenangan SBY-Boediono (versi quick count), saya ucapkan selamat.. semoga hal ini adalah yang terbaik untuk bangsa dan rakyat Indonesia. Amiinn...

Read more...

Monday, July 6, 2009

Pilih yang mana..?


Besok kita melaksanakan pemilihan presiden 2009-2014. Mungkin diantara kita ada yang sudah menentukan pilihan.. ada yang masih bingung.. atau ada yang sudah diniatkan untuk tidak memilih.

Yang menarik adalah teman saya. Seminggu sebelum hari H, dia masih belum menentukan pilihan. Bingung katanya. Untuk hal ini, dia bertanya pada mantan dosen kalkulus-nya. Saya sempat heran kenapa harus mantan dosennya?

Sebab karena dia aku mesti ngulang Kalkulus sampai tiga kali. Dan tetap saja mendapat C minus..”, jawabnya. Hah.. nyambung gak sih..? Seingat saya memang betul dia sempat mengulang kalkulus sampai tiga kali. Karena saking seringnya, sampai akhirnya akrab dengan dosennya itu. Tapi ya sudahlah.. Teman saya itu memang suka begitu, sedikit gemblung.. dan kalau diladeni malah tambah gak nyambung. Akhirnya dengan penasaran saya tanyakan bagaimana jawab dosennya.

Kata dosenku, pilihlah calon yang bisa memajukan bangsa dan mensejahterakan rakyat..”. Ya.. masuk akal..!

Setelah itu dia rajin sekali mengikuti acara debat capres cawapres. Rajin mengamati berita yang mengungkapkan visi dan misi masing-masing capres. Semuanya untuk mengetahui mana capres yang bisa memajukan bangsa dan mensejahterakan rakyat. Mana capres yang paling tepat untuk menjadi presiden bangsa ini. Salut dengan tekadnya. Niat kuatnya untuk ikut berpartisipasi dalam pilpres nanti.

Dua hari sebelum hari H saya tanya bagaimana haslinya, apakah sudah menentukan pilihan? “Tuambah bingung..”, jawabnya. “Semua capres mempunyai tujuan untuk memajukan bangsa, mensejahterakan rakyat, petani, guru, nelayan, menaikkan pertumbuhan ekonomi, bla..bla..bla... Memang waktu acara debat kemaren SBY paling baik cara penyampaiannya, JK paling narsis dan Mega ndledeh kemana-mana. Namun intinya semuanya sama, memajukan bangsa dan mensejahterakan rakyat. Yah.. entahlah nanti aku diskusi lagi dengan Pak Manto..”. Betul.. Pak Manto adalah mantan dosennya.

Sampai sekarang, H-1, saya belum bertemu lagi dengannya. Entahlah apakah dia sudah mempunyai pilihan atau belum. Atau malah memutuskan tidak memilih saking bingungnya..

Mendekati hari pemilihan dan memasuki masa tenang tidak berarti kampanye berhenti dilakukan. Memang di media sudah betul-betul tenang, namun dalam kesunyian ternyata kampanye masih terus berlangsung. Pagi ini saya mendapatkan suatu rumus matematika yang katanya mampu menunjukkan pilihan yang tepat berdasarkan usia. Hah.. apalagi ini.

Rumus tersebut adalah:

(U x 2) + 15 – 11 / 2 – U = No urut capres

Dimana, U adalah Usia.

Katanya hasil perhitungan rumus ini menunjukkan angka yang diperoleh adalah no urut capres yang paling sesuai. Entah benar atau tidak. Tapi lumayanlah untuk sekedar guyon ringan.

Baru saja saat menulis ini, saya mendapat email dari seorang kawan tentang guyon capres lainnya. Mudah-mudahan tidak kena UU ITE atau apalah namanya. Hihi..
(mau ikutan jadi seleb... siapa dikau..??)

Mega, JK, SBY dan seorang siswa sekolah sedang berada dalam pesawat yg sedang mengalami gangguan mesin. Hanya ada 3 parasut tersedia dalam pesawat.

Mega mengambil 1 tas parasut dan berkata: "Ladies first, saya satu2nya calon presiden wanita disini, wong cilik menantikan saya!" [Megapun] lalu melompat keluar.

JK cepat juga mengambil satu tas dan berkata: "Lebih cepat, lebih baik, siapa cepat, dia dapat, he he he" lalu melompat keluar.

SBY: "Nak, engkau masih muda, masa depanmu masih cerah. Saya sudah berbakti untuk negara, rakyat sudah sejahtera dan tenang, meskipun saya masih tidak puas, namun kamu generasi muda penerus bangsa, lanjutkanlah! Ambillah parasut terakhir"

Si anak sekolah menjawab: "Pak SBY presidenku, masih ada cukup parasut untuk kita berdua, Pak JK tadi mengambil tas sekolah saya". Mendengar kata-kata itu, SBY langsung tersedu haru. Begitu lama sampai akhirnya pesawat keburu menabrak gunung.



Hehe.. Piss....

Read more...

Monday, June 29, 2009

Uneg-uneg blogger kutu kupret..

Menyebalkan juga bila belanja ke suatu toko namun barang yang dicari tidak ada. ‘Sedang kosong mas..’, jawab sang pramuniaga. Satu dua kali masih bisalah dimaklumi. Namun ketika kembali untuk yang ketiga kali dan ternyata jawaban yang didapat masih sama, saya yakin, pada kesempatan berikutnya, anda tidak akan pergi ke toko tersebut. Rasa getun dan kecewa yang terakumulasi menyebabkan pilihan hijrah ke toko sebelah yang barang dagangannya lengkap dan selalu up to deit.

Mungkin seperti itulah yang dirasakan siapapun yang berkunjung ke blog ini. Entah itu manusia atau demit sekalipun. Waktu yang dikorbankan terasa sia-sia.. Mubajir.. “cape-cape sowan ke sini, ternyata masih itu-itu juga. Wiss.. Kapokkk..!!”. Mungkin begitulah perasaan mereka. Maaf dari saya..

Memang sudah lama saya tidak mengotak-ngatik gubuk saya ini. Banyak alasan. Dari mulai kesibukan kantor, persiapan pernikahan, proyek bersama yang sampai sekarang tak juga jelas juntrungannya, launching website sciencebiotech, sampai aktivitas di tempat tidur yang sekarang terasa menjadi sangat berharga untuk dilewatkan.

Setali tiga uang dengan terbengkalainya blog, jumlah pengunjung-pun menurun. Dari yang semula rata-rata 200 per hari, kini tinggal 50%-nya.

Ya.. blog ecek-ecek ini masih di seputaran 200/hari. Jangan ngece.. beruntung masih ada yang sudi berkunjung. Meski lebih karena kesasar ketimbang sengaja sowan. Mereka datang karena dituntun mesin pencari yang masih rela menempatkan blog ini pada urutan lima besar untuk keyword tertentu. Singgah sesaat dan langsung pergi setelah mengetahui tempat yang disinggahinya hanya kuburan suwung tanpa aktivitas. Blog ini pun semakin terjerembab ke sudut dunia maya yang sunyi dan tidak pernah dilintasi siapapun. Alhasil.. blog yang menurut pakar ideologi blog memenuhi syarat sebagai blog kutu kupret, sekarang makin turun peringkatnya menjadi blog kutunya kutu kupret. Makin kecil dan makin tak berarti..

Saya paham.. untuk menjadi blogger sejati yang mumpuni, tidak hanya cukup dengan niat. Parameter lain yang sangat penting adalah waktu luang (dan koneksi internet pribadi tentunya, malu rasanya kalau masih menumpang fasilitas kantor. Atau ngeblog dari warnet.. ck..ck..Parahh..!!). Sedangkan saya, waktu amat minim, malas berkunjung ke tetangga blogger, tidak aktif bertukar link, ditambah koneksi pribadi masih belum stabil. Semuanya menciptakan lingkungan yang kurang kondusif untuk memacu motivasi dan gairah.

Untuk rutin menulis postingan, membalas komen yang masuk, berkunjung ke sesama blogger lalu meninggalkan jejak dengan harapan dikunjungi balik, tebar pesona sana sini. Semuanya menguras waktu dan energi yang lumayan.

Saya salut dengan para blogger yang juga mempunyai pekerjaan di dunia nyata namun masih mampu mengurus blog yang top markotop.

Seorang blogger yang juga seorang pengajar SMA. Begitu aktif.. Setiap hari tulisan baru meluncur, semua komen di balas, selalu ‘membayar’ tunai kunjungan, lengkap dengan satu paket komen tanda apresiasi, satu aturan tak tertulis dunia blogosphere. Padahal.. pengunjungnya hampir sepuluhratus per hari. Sementara dia pun mempunyai tugas dan tanggungjawab di dunia nyata.

Bukan bermaksud berpikiran buruk, su'uzon, sekali-kali tidak..
Hanya penasaran bagaimana cara mengatur, misalnya, kapan kegiatan belajar mengajar, kapan waktu mempersiapkan bahan ajar, mengoreksi jawaban, membuat soal-soal.. Sungguh manajemen waktu yang hebat. Saluut...!

Postingan ini sebetulnya kurang tepat bila di bilang tulisan, artikel. Karena tulisan ini hanya limpahan rasa mangkel tehadap ketidakproduktifan saya dalam menulis blog, sekaligus rasa iri terhadap keberhasilan teman para blogger kelas kakap, pada pak marsudiyanto dengan daya kreatifitas yang tak habis-habis, bung suryaden yang selalu berapi-api dalam setiap tulisannya, dan blogger-blogger kelas atas lainnya (dua pertama saya sebut karena sudah bertukar link, haha..)

Saya juga malu dengan om Noe yang selalu mengintip ke sini namun menemukan blog yang belum juga up date, sementara miliknya makin terus eksis dan makin populer. Terlebih saat Guskar mampir, beliau memberi komen yang saat tulisan ini diposting, komentnya yang membuat muka saya merah masih dapat dilihat di shoutbox sebelah.

Oleh karena itu, meskipun tanpa bahan dan konsep yang jelas, akhirnya saya tulis semua ini sebagai bahan posting anyar. Sebagai curahan ketidakbecusan saya, sebagai ungkapan rasa iri dan kesal pada diri ini, sebagai alasan pembenaran kevakuman saya, dan sebagai awal tulisan sebagai pribadi yang baru..

Read more...

Wednesday, April 29, 2009

Perjalanan Sejarah Nama 'Indonesia'



Tahukah anda dari mana asal kata ‘Indonesia’ yang digunakan untuk nama tanah air kita ini??

Kata ‘Indonesia’ muncul pertama kali pada tahun 1847 dalam majalah ilmiah tahunan Journal of The Indian Archipelago and Eastearn Asia (JIAEA) yang dikelola oleh seorang Skotlandia bernama James Richardson Logan.

Dalam JIAEA Volume IV, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan.

"... I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago".

Berpuluh tahun kemudian kata ini digunakan oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) untuk menyebut secara spesifik tanah air kita sekarang. Makna politis kata 'Indonesia' muncul pada dasawarsa 1920-an, ketika kata yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna baru, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Sampai sekarang..

Sebelum kata ‘Indonesia’ populer, lalu nama apa yang dipakai untuk menyebut kepulauan tanah air kita ini?

Berikut perjalanan nama tanah air kita sebelum digunakan nama Indonesia.

-Bangsa Tionghoa dahulu menyebut tanah air kita dengan nama Nan-hai yang berarti kepulauan laut selatan.

-Bangsa India menyebut tanah air kita dengan nama Dwipantara (kepulauan tanah seberang), nama Suwarnadwipa (pulau emas) juga digunakan dan muncul pada kisah legendaris Ramayana untuk menyebut Sumatera sekarang.

-Saat kemunculan bangsa eropa, tanah air kita disebut Indian archipelago (kepulauan hindia).

-Pada masa penjajahan Belanda tanah air kita disebut Hindia belanda yang berubah menjadi Hindia timur pada masa pendudukan Jepang.

-Multatuli sempat mengusulkan nama Insulande yang ternyata kurang populer.

-Kata Nusantara diusulkan oleh Douwes Dekker yang diambil dari isi pararaton. Naskah kuno zaman majapahit. Nama ini dengan cepat menjadi populer.


Akhirnya kata Indonesia lahir saat dimunculkan oleh Ki Hajar Dewantara sehingga digunakan oleh para pejuang kemerdekaan dan resmi menjadi nama bagi bangsa kita tercinta ini.. Indonesia.


Sumber: Wikipedia

Read more...

Monday, April 20, 2009

Kartini..


Dalam rangka hari Kartini, yang namanya luar biasa harum dan dielu-elukan oleh tidak hanya bangsa Indonesia sendiri, namun juga dikagumi oleh dunia international, saya berusaha mencari informasi tentang Kartini.

Terus terang saya sampai sekarang masih belum bisa melihat dimana letak keistimewaan Kartini selain dia putri bangsawan, fasih berbahasa Belanda, dan mempunyai hobi surat menyurat. Sampai-sampai kumpulan suratnya dijadikan buku dan menjadi salah satu karya yang menghebohkan dunia.

Memang ini salah saya, meskipun sudah mengenal Kartini sejak duduk di sekolah dasar, membaca riwayat hidupnya sebagai anak dari bupati Jepara yang menikah dengan bupati Rembang, dan meninggal dalam usia yang sangat muda, 25 tahun. Bahkan lebih muda dari saya. Namun saya tidak pernah tergelitik untuk mengetahui lebih jauh tentang ide pemikirannya yang disebut-sebut melampaui pemikiran orang-orang di zamannya.. Tidak pernah tergugah untuk mengetahui mengapa Kartini begitu fenomenal.. intinya.. saya tidak pernah mau peduli.

Akhirnya saya menyempatkan diri untuk mencari informasi tentang Kartini. Terutama tentang buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang', yah minimal mengetahui apa sih yang dibicarakan buku tersebut.

Dan saya dapati satu tulisan yang meskipun masih sangat terbatas namun sudah bisa merubah dan membuat saya mengerti mengapa Kartini disebut sebagai gadis fenomenal pada masanya, dan menjadi Ibu emansipasi wanita Indonesia.

Salah satu surat Kartini yang ditujukan kepada sahabat penanya berbunyi:


"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?" [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]


"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902].


Meskipun saya sendiri seorang muslim, dan tulisan Kartini diatas terdengar minor, namun saya terus terang mengakui bahwa untuk ukuran seorang perempuan pada masa itu (bahkan ukuran zaman sekarang sekalipun) pendapat Kartini ini benar-benar sangat kritis dan sangat berani. Dan benar..

Suatu ketika, takdir membawa Kartini pada suatu pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat yang juga adalah pamannya. Pengajian dibawakan oleh seorang ulama bernama Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar(atau dikenal Kyai Sholeh Darat) tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertarik sekali dengan materi yang disampaikan (ini dapat dipahami mengingat selama ini Kartini hanya membaca dan menghafal Quran tanpa tahu maknanya). Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Berikut ini dialog-nya (ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat).

"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?"
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.

"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"


Setelah pertemuan itu nampaknya Kyai Sholeh Darat tergugah hatinya. Beliau kemudian mulai menuliskan terjemah Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada pernikahan Kartini , Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang, tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa.

Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALLAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari kegelisahan dan pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah (how amazing…).

Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. (Sayangnya, istilah "Dari Gelap Kepada Cahaya" yang dalam Bahasa Belanda adalah "Door Duisternis Tot Licht" menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang").

Sumber artikel di atas saya perloleh dari sini.


Nb: Baru saja dapat komplain dari seorang kawan. Dia memberitahukan sebuah artikel yang isinya bisa dijadikan imbangan atas tulisan yang saya buat. Artikel tersebut mempertanyakan kenapa Kartini yang dimunculkan sebagai tokoh emansipasi wanita Indonesia sementara masih ada tokoh lain yang lebih mempunyai peran nyata dalam memajukan wanita dan rakyat Indonesia pada masa itu. Tidak seperti Kartini yang hanya berhenti pada ide-ide dan tulisan suratnya tanpa aksi nyata. Lebih jelasnya silahkan lihat di sini. (April 23, 2009)


Read more...

Tuesday, March 31, 2009

Rokok Herbal; Rokok Yang Baik Bagi Kesehatan..???

Teman saya yang seorang perokok entah sudah berapa kali mencoba untuk berhenti merokok namun selalu saja gagal. Seminggu dua minggu pertama usaha untuk tidak merokok bisa tetap dipertahankan. Setelah mencapai minggu ketiga hasrat yang dipendam akhirnya meledak keluar dan gagallah niat berhenti merokok. Godaan selalu saja muncul, entah itu ledekan dan bujukan dari teman-teman se’perokok’an, rasa yang hilang setiap habis makan, dan banyak lagi godaan yang harus dihadapi yang pada akhirnya mengembalikan pada kebiasaan merokok.

Salah seorang teman yang sepertinya sudah putus asa pernah berkata. ‘Hah.. mau berhenti merokok saja susahnya minta ampun. Seandainya saja ada rokok yang menyehatkan, sungguh indah dunia ini’.

Haha.. tertawa saya mendengar ini. Mana ada rokok yang menyehatkan. Kalau rokok yang tidak merusak kesehatan mungkin masih bisa dibuat dengan teknologi. Tapi kalau rokok yang memberikan efek sehat pada tubuh dan mengobati berbagai penyakit, rasanya koq tidak mungkin ada. Karena yang namanya memasukkan asap sisa pembakaran ke dalam paru-paru, tidak secuilpun kelihatan manfaat kecuali justru meracuni tubuh.

Tanya-tanya ke mbah google akhirnya saya menemukan situs yang mengklaim dan mempromosikan produk rokok yang sehat dan menyehatkan. Bahkan rokok tersebut disebut dapat mengobati berbagai penyakit dan gangguan kesehatan. Terus terang saya ragu tentang apa yang diterangkan dalam artikel tersebut. Meskipun dijelaskan tentang kandungan bahan-bahan ramuan yang katanya didapat melalui ‘petunjuk’ spiritual dan juga formula berbagai ramuan rahasia. Berikut saya berikan sedikit cuplikan artikel yang saya maksud, lengkapnya anda bisa lihat di sini.

Rokok ini diciptakan oleh Ustadz KH. Abdul Malik berdasarkan petunjuk yang didapat oleh Beliau saat melakukan “istikharah” dan berdasarkan pengalaman dalam pengobatan alternatif, dari komposisi 17 jenis bahan ramuan yang diolah menjadi bahan campuran tembakau pilihan untuk rokok sehingga mampu menetralkan kandungan TAR dan NIKOTIN. Ramuan yang juga berfungsi sebagai jamu terapi kesehatan tersebut merupakan warisan leluhur tanpa bahan kimia maupun candu. Terdiri dari beberapa ramuan tradisional dan rempah-rempah rahasia yang berfungsi melancarkan peredaran darah, membersihkan racun dalam tubuh terutama pada saluran pernapasan, tenggorokan, dan paru-paru.

Rasa Rokok ini secara umum adalah khas rasa rokok yang pernah dibuat dan dinikmati oleh Raja-Raja Kerajaan Majapahit dan tersebar di seluruh dunia pada masanya. Sudah tentu sesuai dengan karakter cita rasa perokok Nusantara. Doa-doa yang dihembuskan pada bahan baku rokok berupa Energi Gelombang Pendek sangat halus, sehingga mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak akibat racun seperti infeksi, radang dan bakteri serta virus.

Pada awalnya rokok ini digunakan hanya sebagai sarana terapi pengobatan berbagai jenis penyakit. Karena banyaknya permintaan dari para pengguna yang merasakan efek positif dari rokok ini maka diputuskan untuk diproduksi secara massal.


Fantastik bukan..???
Bahkan dibagian selanjutnya artikel tersebut diterangkan tentang rahasia diantara 17 bahan ramuan diantaranya adalah daun sirih, (Piper Betle), kayu siwak (Salvadore Persica), dan madu. Dijelaskan juga khasiat dan manfaat dari ketiganya yang memang sudah terbukti secara ilmiah dan medis.

Meskipun demikian saya masih ragu akan kebenaran tulisan tersebut yang mengatakan bahwa menghisap rokok tersebut menyehatkan dan mengobati berbagai penyakit. Mungkin benar bahwa bahan-bahan yang telah disebutkan tadi mempunyai efek yang baik bagi tubuh. Namun apabila bahan tersebut dibakar, maka kandungan senyawa kimiawi akan berubah menjadi senyawa yang lain.

Selain itu juga, perlu diingat, yang dihisap masuk kedalam paru-paru adalah asap dari rokok yang dibakar. Apakah kandungan senyawa kimia yang berguna tadi ikut bersama asap rokok? Saya pikir tidak. Asap adalah hasil sisa pembakaran. Komposisi kimia asap berbeda dengan komposisi kimia bahan asal yang dibakar. Jadi menurut saya tetap saja rokok tersebut tidak memberikan manfaat kesehatan seperti yang digembor-gemborkan dalam artikel di atas.

Rokok ini dijual dengan beberapa merek dagang yang rata-rata harganya diatas Rp 50 ribu. Wuaah... harga yang mahal menurut saya. Kalo saya sih lebih baik buat makan sea food atau sate kambing. Haha...



Beberpa artikel tentang bahaya rokok:

1. http://rokok.komunikasi.org
2. http://www.geocities.com/pentagon_f/rokok1
3. http://one.indoskripsi.com


Read more...

Tuesday, March 24, 2009

Bisnis Rumah Sakit


Ketika sedang mengantri di kantor pos Jakarta kota untuk mengirimkan laporan tahunan pajak (entah kenapa koq ya banyak yang mengirimkan laporan pajaknya pada hari itu, padahalkan saya sengaja baru mengurus laporan pajak mendekati batas akhir waktu yang ditentukan supaya tidak antri seperti ini), tidak sengaja saya terpaksa mendengar obrolan dua orang wanita yang duduk dibelakang.

Awalnya saya sama sekali tidak tertarik pada pembicaraan mereka karena saat itu sedang berusaha keras untuk tidak melirik (memandangi) kumpulan gadis kantoran yang berdiri mengantri didepan loket. Sebagian diri ini merasa bersalah, sebagian lagi malah sumringah. Dan yang terakhir tampaknya lebih dominan. Ini kesempatan, tidak tiap hari bisa mendapatkan sajian seperti ini. Mumpung tersedia free di depan mata, nikmati saja. Tak usahlah banyak pertimbangan. Ah.. bisikan itu jelas memenuhi isi kepala. Tapi.. obrolan dua wanita dibelakang kembali menarik perhatian saya.

‘Jadi.. si Anto nerusin ke mana Bu?’, terdengar wanita pertama memulai pembicaraan. ‘Maunya sih ke Farmasi, tapi aku pikir tanggung. Mending langsung saja ke kedokteran. Dokterkan masa depannya bagus.. Sekarang dia lagi siap-siap ujian masuk ke UI’, Wanita kedua terdengar menjawab bangga.

‘Kedokteran ujian masuknya susah lho bu, lagian mahal’.

'Gakpapa mbak. Wajarlah kalo mahal. Kan kalo udah lulus duitnya juga cepet. Profesi yang paling menghasilkan sekarang dokter lho mbak. Gak kenal krisis..’, jawabnya. ‘Kalo masalah biaya sih udah disiapin. Ntar kalo kurang yah kita paksain minjem di bank. Itung-itung investasi kalo bapaknya anak2 bilang. Ntar kalo dah jadi dokterkan bisa impas..’. Sambungnya lagi.

Sampai sini pikiran saya melayang. Teringat dua minggu yang lalu ketika harus membayar 250 ribu untuk sekali suntik dan beberapa tablet obat antibiotik karena demam dan batuk yang tak kunjung reda. Tetangga saya habis 2,5 jt untuk dua hari menginap di RS. Yah.. betul memang biaya kesehatan itu mahal. Setuju saya dengan ucapan Ibu tadi bahwa dokter saat ini menjadi profesi yang paling menghasilkan. Jauh dibanding dengan apoteker, insinyur, apalagi chemist. Padahal lama study hampir sama. Haha.. sedikit menyesal kenapa dulu ndak kuliah di kedokteran saja..

Rumah sakit saat ini berlomba-lomba meningkatkan kenyamanan. Mereka sepertinya tidak mau kalah dengan hotel berbintang. Kamar AC, TV, DVD/VCD player, kulkas, line telephon, mini bar, sofa, meja makan, pemandian air panas, karaoke, bahkan fasilitas futsal dan kolam renang-pun ada. Tidak heran kalau tarif satu hari lebih dari 1,5 juta rupiah. Mereka menggunakan alasan itu untuk mematok tarif selangit. Tarif yang mustahil dijangkau kebanyakan rakyat kita.

Tapi apa iya sekarang ini motivasi untuk menjadi dokter hanya berhenti pada motif ekonomi dan profit semata. Pertimbangan masuk ke fakultas kedokteran hanya karena hitung-hitungan materi. Karena profesi dokter lebih menjanjikan dan lebih basah dari pada profesi lainnya. Entah kemana tujuan mulia menolong sesama manusia, apakah mereka lupa pada sumpah hippokrates yang pernah diucapkannya?

Tiba-tiba diri ini dilempar kembali pada percakapan dengan ibu teman saya sewaktu kuliah dulu.

‘Nak Wahyu, Ibu setiap hari berdoa agar keluarga kami dimudahkan rejekinya, tapi Ibu suka merasa nggak enak.. Ibu bingung.. Kalau Ibu minta dilancarkan rejekinya, berarti Ibu minta banyak pasien yang datang ke Bapak. Itukan sama saja berdoa supaya banyak orang yang sakit dan kena musibah..’. Ck..ck... Salut saya dengan rasa empati beliau.

Mungkin betul zaman berubah. Saat ini materi diatas segala-galanya. Tidak seperti dulu ketika para dokter betul-betul karena panggilan perikemanusiaan. Sekarang dokter dijadikan bisnis. Penderitaan orang lain dieksploitasi dan dimanfaatkan. Rumah sakit berubah menjadi ladang mengumpulkan harta. Menjadi institusi yang mengedepankan profit dan keuntungan.

Rumah sakit saat ini menjadi pilihan usaha yang lebih menggiurkan ketimbang apartemen dan usaha properti lainnya. Pasien yang memang butuh kesembuhan dan ingin terbebas dari penderitaan terpaksa ikut aturan mereka tanpa bisa berbuat apa. Bahkan sampai rela hilang harga diri pontang-panting mencari surat keterangan miskin dari desa agar mendapat secuil keringanan dari rumah sakit, institusi bernaung para dokter yang terhormat. Kalau melihat ini wajar bila fenomena Ponari bisa terjadi.

Cekikikan gadis kantoran yang berjalan pergi menyadarkan saya. Terlihat petugas loket sebelah yang baru kembali dari makan siangnya membuka loket dan mengambil papan bertuliskan ‘istirahat’ yang terletak di atas meja. Dengan cepat saya meluncur berpindah ke sana. Seraya menyerahkan amplop berisi laporan pajak saya bertanya, ‘sudah selesai pak makan siangnya?’.


‘Hmmm...’, jawab bapak petugas loket tanpa senyum.

Sekedar info, berbeda dengan di kita, Rumah sakit di Amerika sana adalah nama sebuah band beraliran rock instrumental asal California. Nama band yang aneh...


Read more...