Mualaf.. Shalat Jum'at.. Pemilukada Gila..
Alkisah, seorang expatriate yang sudah lama tinggal di Indonesia mempunyai satu masalah yang teramat mengganggu. Insomnia. Penyakit ini telah menghantuinya selama 5 tahun terakhir. Kurang tidur menyebabkan tubuhnya kurus, gelisah, sulit konsentrasi, dan emosi mudah meledak.
‘shalat jumat..?’
‘Ya.. mereka bilang khutbah jumat bisa membuat tidur. Dan setelah saya coba, its work..!! luar biasa.. baru pertama kali dalam 5 tahun terakhir saya bisa merasakan saat-saat dimana saya bisa tidur dengan nikmat dan lelap. Amazing..’.
*****
Haha.. cerita di atas tentunya hanyalah fiktif dan guyon belaka. Namun ini memang menggambarkan realita yang ada. Terlepas dari tidur saat khutbah jumat adalah tidak baik, namun itu adalah hal yang secara factual memang terjadi. Dan saya alami sendiri. Mungkin anda semua merasa hal yang sama.
Dan yang hebatnya. Kantuk secara kilat akan datang, bahkan baru 2 menit pertama khutbah dimulai. Saking hebatnya kantuk menyerang, kita sanggup tertidur dengan posisi duduk bersila. Suara khatib lantang memekakkan telinga, justru menjadi dendangan nina bobo yang mujarab. Dan kita baru tersentak bangun ketika khatib membacakan doa terakhir penutup khutbah. Dibangunkan oleh gema ‘amiin..’ para jamaah.
Ya, itu yang saya rasa. Tentunya tidak setiap jumat saya tertidur. Usaha susah payah menahan kantuk berhasil menjaga mata ini agar tetap terbuka.
Tapi jumat kemarin terasa beda. Kantuk tak sempat datang. Khatib mengajak jamaah ikut berpikir dan merenung. Khatib menghadirkan satu tema yang menarik. Tentang Negara. Tentang bangsa yang semakin tak karuan. Tentang fenomena Pemilukada yang gila.
Nah.. sekarang ganti saya yang ingin mengajak anda merenung. Sebentar saja, so jangan khawatir membuat pusing lan mumet.
Mari kita berpikir. Para calon bupati, walikota, yang ikut dalam Pemilukada, sudah menjadi rahasia umum kalau mereka harus mengeluarkan kocek hingga miliaran rupiah. Untuk kampanye, Tim Sukses, untuk partai pengusung, sogok sana sogok sini, serangan fajar, dan tetek bengek lainnya.
Modal yang diperlukan berbeda tergantung daerah masing-masing. Daerah yang surplus dan penghasilan daerahnya besar, akan membutuhkan modal kampanye yang juga besar. Begitu juga sebaliknya.
Sebagai contoh saja. Modal kampanye untuk menjadi gubernur pada salah satu pemilukada adalah 11 miliar. Wow.. 11 miliar. Tak heran kalau banyak calon pemimpin daerah yang gagal hilang akal dan harus mondok di pesantren kejiwaan alias RSJ.
11 miliar, ck..ck..
Sekarang coba kalkulasi yuk. Gaji gubernur terkait contoh di atas adalah 8,95 juta/bulan. Ya.. mungkin ada tunjangan ini itu sehingga total 15 juta/bulan. Anggap saja begitu. Dalam setahun ada 12 bulan. Plus 1 bulan dari gaji ke-13. Sehingga total pendapatan setahun 15 x 13 = 195 juta. Masa jabatan gubernur adalah 5 tahun, sehingga total pendapatan selama masa jabatan adalah 975 juta.
Coba lihat. 975 juta. Bahkan 1 miliarpun tidak ada. Sangat jauh dibandingkan dengan modal kampanye yang dikeluarkan sampai 11 miliar. Dan ingat, pendapatan tadi belum dikurangi biaya hidup. Sehingga dengan kalkulasi sederhana ini saja sudah bisa dilihat bahwa pekerjaan menjadi gubernur adalah pekerjaan yang rugi dan tidak menguntungkan. Tapi kenyataannya, banyak yang berebut ingin menjadi gubernur. Dan anehnya, banyak para gubernur tadi yang bertambah kaya raya setelah menjabat.
Padahal secara hitung-hitungan harusnya merugi. Hebat bukan..!
Tentu saja kita sudah mahfum bahwa ‘pendapatan’ mereka bukanlah dari gaji bulanan sebagai pejabat. Namun penghasilan lain di balik jabatan itu. Uang proyek, sogokan pelicin para pengusaha, hasil korupsi, dan lain-lain.
Jika betul demikian, maka betul-betul gila dan gila betul. Itu berarti mereka para calon pemimpin daerah memang sudah berniat untuk melakukan korupsi. Sekali lagi, memang sudah berniat. Pantas saja negeri ini tak bisa maju.
Gila..
Dan jumat kali itu, saya tidak bisa tidur.. Gila..













