Thursday, July 30, 2009

'Life will find a way..'


Banyak anak banyak rejeki. Demikianlah pameo yang dipercaya masyarakat jawa. Dahulu tingkat kematian bayi saat proses melahirkan masih tinggi. Bayi yang bertahan hidup-pun masih belum sepenuhnya aman dari kematian masa kanak-kanak karena kesehatan yang belum semaju seperti sekarang. Oleh karena itu para orang tua waktu itu berlomba-lomba membuat banyak anak sebagai serep dan usaha ‘menaklukkan alam’. Jikalau satu harus meninggal, toh masih ada yang lain. Masih ada cadangan. Malah tak jarang dari sepuluh anak, yang mampu bertahan hidup hingga dewasa kurang dari setengahnya.

Sekarang pemahaman diatas sudah berubah. Banyak anak tak lagi banyak rejeki, justru sebaliknya, banyak pengeluaran. Banyak kesulitan. Pemerintah bersama masyarakat secara sadar sudah membatasi jumlah anak guna meningkatkan taraf hidup dan yang terpenting guna mengontrol laju populasi. Salah satu masalah utama manusia adalah laju populasi yang terus membengkak sementara bahan makanan semakin terbatas. Dikhawatirkan suatu saat nanti bahan makanan di bumi ini sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan manusia.

Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri kesadaran perlunya upaya mengontrol laju populasi sudah lama berkembang. Sejak tahun 1979, Pemerintah China memberlakukan kebijakan satu anak dalam keluarga di perkotaan. Untuk keluarga di pedesaan dan suku-suku minoritas, mereka diperbolehkan memiliki anak lebih dari satu. Keluarga yang mengabaikan kebijakan satu anak harus membayar denda tinggi, bahkan terkadang mengalami diskriminasi di tempat kerja.

Namun ternyata semua usaha tersebut tidak begitu berhasil. Seperti semua usaha rekayasa terhadap kehidupan, alam pasti tidak akan tinggal diam dan bereaksi guna mencapai keseimbangan. Seperti perkataan Dr Malcolm dalam Jurassic Park, ‘Life will find a way..’


Setelah berjalan, kebijakan itu menimbulkan masalah baru. Proporsi penduduk usia tua dengan usia produktif tidak seimbang. Hal itu juga menimbulkan ketidakseimbangan jender karena secara tradisi anak lelaki lebih disukai sehingga janin anak perempuan kadang dikorbankan. Karena hanya diberi jatah memiliki satu orang anak, maka para orang tua sangat memilih membesarkan anak terbaik. Akibatnya janin perempuan tidak mendapat tempat. Mereka disia-siakan. Tingkat aborsi pun meningkat. Para orang tua lebih memilih menunggu mendapatkan janin laki-laki.

Masalah lain, anak tunggal dalam keluarga cenderung egois dan manja. Banyak anak dijuluki ”Kaisar Kecil”. Selain itu, pendidikan anak dalam keluargapun tidak sehat. Tumbuh jadi anak tunggal juga tak selalu mudah. Banyak orangtua yang menginginkan anak mereka hebat dalam segala hal. Maka, anak satu-satunya harapan keluarga itu harus mengikuti seabrek kegiatan dan tekanan. Orangtua cenderung berharap terlalu tinggi kepada anak semata wayangnya.

Belakangan ini, kebijakan satu anak itu tampaknya akan dikendurkan. Pemerintah malahan mendorong pasangan orangtua agar memiliki anak kedua. Hal itu sebenarnya sejalan dengan harapan para perempuan di China yang menginginkan anak lebih dari satu. China Daily menyatakan, 70,7 persen perempuan China menginginkan anak lebih dari satu, 83 persen menginginkan seorang anak perempuan dan seorang anak lelaki.

Pemerintah Kota Shanghai sangat mendukung kebijakan dua anak. Kota itu memiliki penduduk paling padat di dataran China, 20 juta jiwa. Sebanyak 3 juta di antaranya berusia 60 tahun, sekitar 22 persen dari populasi. Tahun 2020, pangsa itu akan naik jadi 34 persen.

Kebijakan satu anak ini sudah menuai banyak kontroversi baik di dalam maupun di luar negeri karena penegakannya menggunakan kekerasan, seperti aborsi dan kekerasan lain.
Walaupun ada pelonggaran aturan, China tetap bertekad mencapai target menjaga jumlah penduduknya sebanyak 1,36 miliar tahun depan.

Artikel terkait: Kompas, Sabtu 25 juli 2009

12 comments:

~noe~ said...

iya betul.
di kompas.
soale rasa2nya diriku sudah membacanya.
sebetulnya kalo kebijakannya adalah satu anak untuk masing2 istri barangkali lebih bermanfaat. bermanfaat buat suami :-)
sudah sembuh to, om?
jadi dari db menuju ke db yang lain ya.
salam db (dobos) :-D

Wahyu Riyadi said...

huahaha..
satu anak dari masing2 istri..? saya ndak ikutan ah.
betul tulisan ini saya baca di kompas waktu merenungi nasib nasib di bangsal RS bersama para suster2 cuantik. hehe.

salam sehat om..
sehat itu tak terkira. :p

kawanlama95 said...

Sebenarnya bila banyak anak rezeki memang bisa saja. bila sang orang tua bekerja keras mengapai rezeki dan semua anak bisa menerima kekurangan orang tuanya dan anak ikut bekerja keras aku yakin keluarga mereka mendapa berkah . amien jadi yang pengen banyak anak gpp kan . asal berjuang dengan keras dan bisa bijak dalam menghadapi apapun

guskar said...

sebenarnya biarkan saja punya anak berapapun, biar berjalan sesuai sunatullah.. manusia akan jd kreatif di saat kepepet. ntar klo sumber daya alam nggak mencukupi hajat hidup penghuni bumi..pasti ada jalan keluarnya... :)

*bbrp saatlalu saya buka postingan saya ttg DR. Warsito.. piye, sampeyan sdh terkoneksi dng-nya belum?

KangBoed said...

Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku tersayang

Sekarang tambah mumet yaaa banyak anak segalanya mahaaaaaaaaaaaaalllll

KangBoed said...

hehehe.. Linknya dah saya adds balik yaaa

Salam Sayang

wahyu said...

@kawanlama: rejeki memang sudah ada yang mengatur, dan setiap makhluk sudah ditetapkan rejekinya masing2. Seharusnya memang kita tak usah khawatir tidak bisa makan selama mau berusaha. tapi ya itu, orang sering merasa khawatir dan was-was tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup kalau banyak anak. apalagi sekarang ini kebutuhan primernya tidak hanya sandang, pangan, papan. Kendaraan, Hp, sekolah.. semuanya sudah menjadi kebutuhan primer.

@guskar: yap.. life will find a way..
*belum kang Gus, mungkin beliau sibuk untuk nanggapi wong yg ndak jelas macam saya. hihi..

@Kangboed: Salam kasih sayang juga kang. hatur nuhun ah sudah berkenan me-link.. :D

Pasang Iklan Gratis said...

Wah mantap postingannya

casual cutie said...

"banyak anak banyak rejeki" kayanya udah ga jamannya lagi bang. banyak anak malah banyak pengeluran, kebutuhan, dll. yang jelas banyak anak bikin stress. huhhh....

wahyu said...

Banyak anak bikin stress..?? semestinya direncanakan dulu mungkin ya. intinya harus bijak dalam beranak. ;)

Pakde Cholik said...

Sebaiknya anak itu maksimal 3 saja, kecuali kalau Tuhan selalu memberinya. Terlalu banyak anak tentu merepotkan. Soal makanan,pakaian, kesehatan, pendidikan dan lain-lain.

Salam hangat dari pakde di Surabaya.

wahyu said...

setuju pakde, 3 memang sudah maksimal. Saya saja tiga bersaudara. Sebetulnya kalau mampu banyak anak tidak mengapa. Mampu mendidik, mampu memberi makan dan pakaian layak, menyekolahkan..

Makasih sudi mampir pakde.