Thursday, November 20, 2008

Orang 'pintar' bekerja untuk orang 'bodoh'

Hal yang paling saya nikmati adalah saat berkumpul dengan tetangga setiap sabtu sehabis shalat magrib. Kebetulan mesjid tepat di depan rumah. Alhasil, halaman depan-pun kerap menjadi tempat berkumpul bapak-bapak menunggu adzan isya sembari bergosip.

Berbeda dengan gosip para wanita yang di dominasi isu selebritis, perselingkuhan, arisan, sampai harga sembako yang semakin mahal. Gosip kaum lelaki tidak jauh seputar olah raga, berita, politik, keadaan negara, sampai pada pembahasan tentang pergantian pengurus RT dan agenda acara ke-RT-an. Tidak jarang gosip berkembang menjadi rapat warga dadakan.

Entah bagaimana awalnya, saat obrolan sampai pada tema mahalnya pendidikan, seorang tetangga melemparkan pernyataan menarik.

Ah.. tak perlulah itu sekolah tinggi-tinggi. Menghabiskan biaya saja. Iya kalau setelah lulus bisa dapat kerja. Kalau tidak? Malah bikin malu”, kata seorang tetangga dengan logat Medan yang kental sembil mengibaskan tangan di depan wajah. “Sekolah tinggi-tinggi juga UUD. Ujung-ujungnya duit. Lulus, melamar sana melamar sini mengobral ijazah, jadi buruh, kuli, akhirnya kerja jugalah sama orang”, tambahnya.

Sekolah itu sebagai modal Bang. Dengan pendidikan kita bisa mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang layak. Hitung-hitung berinvestasi. Coba hitung. Kerja selama 5 tahun dengan ijazah SMA penghasilan mentok di 2 jutaan. Coba bandingkan bila melanjutkan kuliah. 5 tahun selesai. Begitu masuk kerja penghasilan langsung sama dengan yang 5 tahun kerja. Bahkan bisa lebih. Belum lagi jabatan yang lebih tinggi dan kemungkinan kenaikan gaji yang lebih besar. Hitung-hitung bersusah-sudah dahulu, bersenang-senang kemudian. Tak apalah berkorban sedikit waktu dan uang. Kalau hasil akhirnya lebih menguntungkan.”, jawab saya berusaha menjelaskan keuntungan melanjutkan kuliah. Atau lebih tepatnya, sebagai bentuk usaha membela diri. He..he..

Begini ni.. seperti ini nih isi otak anak muda zaman sekarang. Pantas saja kalau banyak sarjana pengangguran. Dalam otaknya yang namanya kerja itu hanya kerja di perusahaan. Jadi buruh yang menerima upah bulanan. Tak heran pula kalau begitu selesai kuliah para sarjana sibuk mencari info lowongan di koran, bursa kerja, internet. Berlomba-lomba mengirimkan lamaran sebanyak mungkin. Sementara jumlah lowongan tidak sebanding dengan jumlah lulusan baru. Pangangguran-pun membludak. Karena yang pikirnya kerja itu hanya kerja sama orang. Jadi kacung orang lain”, sambar tetangga medan saya itu. Bapak-bapak yang lain senyum-senyum sambil memperhatikan saya yang bingung berkata apa. Asem tenan..

Maka tak heranlah aku kalau banyak orang pintar yang justru bekerja pada orang bodoh. Coba lihat itu bos microsoft, Bill gates. Dia itu orang bodoh. Tidak tamat kuliah. Tapi banyak orang pintar yang bekerja sama dia. Tak usah jauh-jauh lah. Pemilik restoran yang di dekat kecamatan itu. Dia itu tidak pernah kuliah. Tapi salah seorang pekerjanya itu sarjana ekonomi. Orang pintar bekerja untuk orang bodoh”. Pintar juga tetangga medan saya ini. Dari mana juga dia tau Bill gates.., Microsoft.. Sial. Pikir saya.

Ahh.. jangan-jangan bos kau. Pemilik perusahaan tempat kau bekerja sekarang, dia juga tidak pernah kuliah. Kasian benar kau Yu, kerja jadi kuli-nya orang bodoh. Ha..ha..”. Tawanya yang langsung diikuti oleh tawa bapak-bapak yang lain.

Adzan isya berkumandang. “Selamat..”, pikir saya. Langsung saya masuk ke dalam mesjid diikuti para tetangga yang masih tertawa-tawa.

Setelah shalat isya, segera saya masuk ke dalam rumah menghindar pembiacaraan lanjutan. Tapi tetap saja obrolan tadi masih terus terpikirkan.

Betul juga. Selama ini banyak pengangguran karena definisi kerja hanya terbatas pada kerja di perusahaan. Kerja di instansi formal. Kerja sebagai buruh dengan upah bulanan. Padahal jika saja pikiran lebih terbuka. Lebih luas. Banyak yang bisa dilakukan oleh para pengangguran. Membuat usaha. Wiraswasta. Tidak tergantung pada lowongan pekerjaan.

Saya teringat pada tukang buah yang mengontrak di rumah. Dia tamatan SMA. Awalnya berjualan buah keliling dengan gerobak. Lalu menyewa kios di pinggir jalan raya tepat di depan sebuah pabrik tekstil. Sekarang dia sudah mampu kredit mobil pick up untuk membantu berjualan.

Mungkin beberapa tahun lagi dia mampu membeli dan memperbesar kios buahnya. Membuka cabang di tempat lain. Dan jika kiosnya semakin besar dan banyak. Perlu pembukuan dan administrasi yang tidak sederhana, dia mempekerjakan seorang sarjana untuk membantunya. Orang ‘pintar’ bekerja untuk orang ‘bodoh’. Panas kepala saya.

6 comments:

wisnoe said...

Setuju dengan kondisinya, tapi tidak dengan istilah "orang bodoh" nya. Sebab jika mereka bodoh, bagaimana mungkin mereka bisa mengelola roda bisnis dan SDMnya.
Bisa jadi mereka tidak pandai secara formal, karena di lingkungan kita pandai itu diukur dari angka-angka yang tertera di kertas yang disebut raport, kartu hasil studi, atau istilah lain semacamnya.
Sedangkan "orang bodoh" dalam konteks ini justru orang-orang yang cerdas (smart) secara non-formal, hanya karena mereka tidak punya bukti secara legal tentang kecerdasan mereka. Bukti-bukti yang dituangkan dalam lembar-lembar suci itu.
Namun secara de facto, setuju atau tidak, saya menganggap mereka sebagai orang pandai juga.
Sebetulnya masih ada missing link dari argumen mas Wahyu dengan jawaban si tetangga. Mas Wahyu menekankan sekolah sedang si bapak berfokus ke pekerjaan. Nah, hubungannya di sini adalah sekolah yang seperti apa yang bisa sebagai modal pekerjaan?
Banyak parameternya dan terlalu subjektif jika diuraikan.
"Pantas saja kalau banyak sarjana pengangguran..."
Hehe... banyak itu berapa, berapa persen dari sarjana, berapa persen dari angkatan kerja, dll.
Dibandingkan dengan yang bukan sarjana, bagaimana realitasnya?
Soale banyaknya sarjana yang nganggur, lebih karena harga diri kesarjanaan menyebabkan secara tidak sadar mereka mempersempit ruang gerak mereka sendiri.
Sangat berbeda dengan strata di bawahnya yang waton dapat kerja dulu, sebagai batu loncatan.
Namun, memang begitulah adanya, kahanan dunia pendidikan dan pekerjaan kita. Masih banyak celah yang harus direkatkan.
Good opinion, mas.

wahyu said...

Tepat mas.
Oleh karena itu saya beri tanda petik pada istilah pintar dan bodoh.

Sebetulnya memang tidak bisa dijustifikasi bahwa sarjana itu pintar dan cerdas.Namun seperti
yang mas wisnu tahu, masyarakat, terutama di pedesaan, menganggap bahwa orang yang bergelar sarjana sebagai orang yang lebih pintar.

Gelar sudah begitu kuat terbentuk menjadi parameter kecerdasan yang berakhir pada penilaian tingkatan status sosial. Tambahan gelar sarjana, doktor, apalagi profesor, dapat mengangkat image seseorang sebagai orang yang lebih pintar, lebih cerdas, lebih tau, untuk selanjutnya menjadi lebih terhormat. Meskipun pandangan ini secara prinsip tidak benar, tapi inilah yang berkembang dan sudah menjadi pendapat umum masyarakat.

Maka tak heran kan kalau ada orang yang mati-matian ingin mendapat gelar, meski dengan cara alternatif yang instant. Dengan sawer sana sawer sini.

Dan hal ini merembet pada pandangan tentang pengangguran. Menjadi sesuatu yang luar biasa jika seorang sarjana, orang yang (di klaim) lebih pintar, tidak dapat mendapatkan pekerjaan. Beban yang dirasakan juga akan lebih besar.

Melanjutkan kuliah memakan waktu, biaya, dan tenaga lebih banyak. Sehingga espektasi masyarakat pada para lulusan bangku kuliah lebih besar di banding lulusan sekolah menengah. Mereka berpikir waktu, biaya, dan tenaga yang telah dikeluarkan untuk melanjutkan study seharusnya mampu memberikan kemudahan bekerja dan penghasilan lebih banyak.

Hal ini dapat tercermin dari alasan para orang tua mengusahakan putra-putrinya melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan universitas. Sebagian besar didominasi harapan mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan berpenghasilan besar.

Sedemikian besarnya harapan dan espektasi masyarakat terhadap para sarjana sehingga mereka seolah tidak bisa menerima jika sarjana-sarjana tersebut hanya menjadi para penganggur tak berpenghasilan. Bahkan tidak jarang sang sarjana penganggur menjadi bahan olok-olok warga sekitar. Buat apa susah-susah melanjutkan sekolah kalau pada akhirnya hanya menganggur.

Hal inilah yang ingin saya cermati. Pola pikir sebagian besar para sarjana dan masyarakat yang memandang bahwa orang dikatakan bekerja kalau sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan, instansi pemerintah, swasta. Keterbatasan cara berpikir ini juga yang membuat para sarjana kita kurang kreatif dan terlalu mengandalkan lowongan pekerjaan. Selain itu juga faktor ego yang mas wisnu sebut sebagai harga diri kesarjanaan, yang justru membatasi ruang gerak mereka sendiri.

Banyak lho mas sarjana kita yang menganggur. Memang secara persentasi masih lebih banyak penganggur SMP dan SMA. Dari total penganggur, lulusan sarjana hanya sekitar 10%. Namun dari tahun ke tahun penganggur sarjana ini terus mengalami kenaikan. Tahun ini saja total penganggur lulusan perguruan tinggi mencapai 740.206 orang.

Jumlah yang besar ini karena pemikiran para sarjana sendiri yang terlalu terpaku pada pekerjaan formal di instansi swasta dan pemerintah. Mereka saling berebut mengisi jumlah lowongan yang terbatas jumlahnya. Mereka yang tidak kebagian tempat jadilah menganggur.


Jika saja pengetahuan kesarjanaannya dimanfaatkan untuk berwiraswasta dan menciptakan lapangan kerja baru. Mungkin tidak ada sarjana yang menganggur.

Let's Learn English said...

Kalau saya lebih memandangnya dari sisi karakter orangnya. Ada orang yang berkarakter 'Kerja untuk orang lain'. Ada juga yang berkarakter sebaliknya. Tinggal memilah-milah pekerjaan seperti apa yang cocok dengan karakter diri kita.

Tapi sungguh, 'Bekerja untuk diri sendiri' belum merupakan pilihan yang populer di sini. Tantangan dari lingkungan terutama orang tua adalah tantangan terbesar.

gasgus said...

Wekekekeke...jadi ikutan kesindir neh. Tapi saya setuju dengan artikel ini dan komen Mas Wisnoe.

Menurut saya, ini hanya masalah tergantung dalam konteks apa kita menyebut seseorang itu 'orang pintar' atau 'orang bodoh'.

Tapi saya teringat dengan beberapa tulisan yang pernah saya baca; umumnya orang-orang yang meraih sukses di bidangnya adalah orang-orang yang bukan karena cerdas intelektualnya, tapi karena cerdas emosionalnya yakni memiliki kepribadian ulet, gigih, sabar, tahan banting, gak kenal menyerah, dan sebagainya.

Nah, justru kebanyakan 'orang pintar' secara intelektual, jarang sekali memiliki kepribadian seperti itu, sehingga cenderung mencari jalan yang tak terlalu menantang dan berisik :smile:

om budi said...

bedanya orang "bodoh" dalam berusaha adalah mereka cuman tahu satu peluang aja, dan dia kerjakan itu mati-matian, bahkan mati beneran, karena dia tahu cuman itu yang bisa dia lakukan untuk bertahan hidup, makanya dia bisa sukses..
lha kalo orang pinter yang katanya lulusan sarjana, itu terlalu kritis, terlalu banyak pilihan untuk bisa hidup, dan akhirnya cenderung untuk main aman aja, gak berani nanggung resiko, dan yang paling aman ya jadi kacung itu.. ndompleng sama yang udah terlanjur sukses, walaupun yang sukses itu orang bodoh tadi...
tapi banyak sekali contoh orang pintar yang sukses, karena dengan ilmunya dan keberanian ambil resikonya dia bisa berhasil..
jadi masalahnya adalah, kalo orang bodoh berani ambil resiko karena sudah gak punya apa-apa lagi.. dan dia bisa sukses..
kalo orang pintar berani ambil resiko maka dia akan berhasil juga..
jadi masalahnya kowe wani pora Yu..?
nek wani, ayo melu aku.. nyemplung kali ciliwung..!

wahyu said...

om budi..
memang betul juga analisis om budi. Orang pinter terlalu berhati-hati, lebih tepatnya terlalu milih-milih. Kalau dilihat resiko dan tingkat keberhasilannya rendah, dia tidak akan mengambil peluang usaha tersebut. Dan kalau tidak di ambil, bagaimana bisa berhasil.

aku wani, tapi ogah ikut nyemplung. sampeyan aja sendiri yang nyemplung, ntar ta tonton.. hehe..