Tuesday, July 20, 2010

Mualaf.. Shalat Jum'at.. Pemilukada Gila..


Ada satu cerita menarik tentang seorang yang menjadi mualaf karena shalat jumat.

Alkisah, seorang expatriate yang sudah lama tinggal di Indonesia mempunyai satu masalah yang teramat mengganggu. Insomnia. Penyakit ini telah menghantuinya selama 5 tahun terakhir. Kurang tidur menyebabkan tubuhnya kurus, gelisah, sulit konsentrasi, dan emosi mudah meledak.

Karena alasan terakhir inilah ia harus berpisah dengan istri tercinta.
Sudah berbagai metode pengobatan dicoba. Pengobatan modern, pijat refleksi, obat china, yoga, pijat plus plus.. semuanya nihil. Hanya obat tidur jualah andalan pamungkasnya. Itupun makin lama makin bertambah dosisnya.

Satu ketika saat makan siang dengan beberapa kolega yang pribumi muslim, ia mendengar obrolan mereka tentang shalat jumat.

Besoknya ia memutuskan menjadi mualaf. Ya.. langsung besoknya. Tentu saja ini mengejutkan semua teman kantor. Sejak saat itu ia berubah tenang, lebih segar, emosi lebih terkontrol. Luar biasa. Dan satu lagi perubahan lain. Ia sangat kecanduan shalat jumat. Sangat.

Hari Rabu ia sudah gelisah tak sabar menanti jumat datang. Hari Kamis ia sudah mengenakan sorban dan kupiah. Jumat tiba, jam 9 pagi ia sudah berwudhu, jam 10 pergi ke mesjid yang berjarak 300 meter dari kantor. Teman-teman bingung dan kagum. Hebat sekali semangatnya melakukan ibadah jumat.

Hal ini terus berlangsung. Dan obsesinya terhadap shalat jumat masih terus konsisten. Karena rasa penasarannya yang tak tertahankan, akhirnya teman sesama ekspatriat bertanya.

‘My brother, honestly.. I really couldn’t understand how you decided to become a Muslim. And you.. You are extremely changes. You more.. fresh’

‘Hmm.. Actually.. ini karena saya tak sengaja mendengar cerita tentang shalat jumat’. Jawab si ekspatriat mualaf.
‘shalat jumat..?’
‘Ya.. mereka bilang khutbah jumat bisa membuat tidur. Dan setelah saya coba, its work..!! luar biasa.. baru pertama kali dalam 5 tahun terakhir saya bisa merasakan saat-saat dimana saya bisa tidur dengan nikmat dan lelap. Amazing..’.


*****




Haha.. cerita di atas tentunya hanyalah fiktif dan guyon belaka. Namun ini memang menggambarkan realita yang ada. Terlepas dari tidur saat khutbah jumat adalah tidak baik, namun itu adalah hal yang secara factual memang terjadi. Dan saya alami sendiri. Mungkin anda semua merasa hal yang sama.

Dan yang hebatnya. Kantuk secara kilat akan datang, bahkan baru 2 menit pertama khutbah dimulai. Saking hebatnya kantuk menyerang, kita sanggup tertidur dengan posisi duduk bersila. Suara khatib lantang memekakkan telinga, justru menjadi dendangan nina bobo yang mujarab. Dan kita baru tersentak bangun ketika khatib membacakan doa terakhir penutup khutbah. Dibangunkan oleh gema ‘amiin..’ para jamaah.

Ya, itu yang saya rasa. Tentunya tidak setiap jumat saya tertidur. Usaha susah payah menahan kantuk berhasil menjaga mata ini agar tetap terbuka.

Tapi jumat kemarin terasa beda. Kantuk tak sempat datang. Khatib mengajak jamaah ikut berpikir dan merenung. Khatib menghadirkan satu tema yang menarik. Tentang Negara. Tentang bangsa yang semakin tak karuan. Tentang fenomena Pemilukada yang gila.

Nah.. sekarang ganti saya yang ingin mengajak anda merenung. Sebentar saja, so jangan khawatir membuat pusing lan mumet.

Mari kita berpikir. Para calon bupati, walikota, yang ikut dalam Pemilukada, sudah menjadi rahasia umum kalau mereka harus mengeluarkan kocek hingga miliaran rupiah. Untuk kampanye, Tim Sukses, untuk partai pengusung, sogok sana sogok sini, serangan fajar, dan tetek bengek lainnya.

Modal yang diperlukan berbeda tergantung daerah masing-masing. Daerah yang surplus dan penghasilan daerahnya besar, akan membutuhkan modal kampanye yang juga besar. Begitu juga sebaliknya.

Sebagai contoh saja. Modal kampanye untuk menjadi gubernur pada salah satu pemilukada adalah 11 miliar. Wow.. 11 miliar. Tak heran kalau banyak calon pemimpin daerah yang gagal hilang akal dan harus mondok di pesantren kejiwaan alias RSJ.

11 miliar, ck..ck..

Sekarang coba kalkulasi yuk. Gaji gubernur terkait contoh di atas adalah 8,95 juta/bulan. Ya.. mungkin ada tunjangan ini itu sehingga total 15 juta/bulan. Anggap saja begitu. Dalam setahun ada 12 bulan. Plus 1 bulan dari gaji ke-13. Sehingga total pendapatan setahun 15 x 13 = 195 juta. Masa jabatan gubernur adalah 5 tahun, sehingga total pendapatan selama masa jabatan adalah 975 juta.

Coba lihat. 975 juta. Bahkan 1 miliarpun tidak ada. Sangat jauh dibandingkan dengan modal kampanye yang dikeluarkan sampai 11 miliar. Dan ingat, pendapatan tadi belum dikurangi biaya hidup. Sehingga dengan kalkulasi sederhana ini saja sudah bisa dilihat bahwa pekerjaan menjadi gubernur adalah pekerjaan yang rugi dan tidak menguntungkan. Tapi kenyataannya, banyak yang berebut ingin menjadi gubernur. Dan anehnya, banyak para gubernur tadi yang bertambah kaya raya setelah menjabat.

Padahal secara hitung-hitungan harusnya merugi. Hebat bukan..!

Tentu saja kita sudah mahfum bahwa ‘pendapatan’ mereka bukanlah dari gaji bulanan sebagai pejabat. Namun penghasilan lain di balik jabatan itu. Uang proyek, sogokan pelicin para pengusaha, hasil korupsi, dan lain-lain.

Jika betul demikian, maka betul-betul gila dan gila betul. Itu berarti mereka para calon pemimpin daerah memang sudah berniat untuk melakukan korupsi. Sekali lagi, memang sudah berniat. Pantas saja negeri ini tak bisa maju.

Gila..

Dan jumat kali itu, saya tidak bisa tidur.. Gila..


11 comments:

asepsaiba said...

Mungkin hanya butuh masa jabatan 2 tahun sudah bisa 'balik modal' ya... Makanya banyak yang bela2in cari modal.. Pinjem sana-sini.. Ketika gagal.. ya gak heran pada 'sakit'....

budiarnaya said...

Kita ambil aja uangnya tapi jangan dipilih :)

Ifan Jayadi said...

Ceritanya bagus karena dipaparkan secara berurutan mulai dari mualaf, sholat jum'at sampai ke pemilukada. Yang mualaf dan sholat jum'at yang sering bikin ketiduran aku suka. Kalau pemilukada kayanya nggak berminat soalnya malas ngurus hal yang penuh anekdot kepura-puraan.

jabon said...

tapi emang banyak yang merasakan nikmat kecil dari shalat jum'at...

wahyu said...

@asepsaiba: wuihh.. baru 2 tahun sudah balik modal. berarti 11 miliar 2 tahun. 3 tahun dapat untung kurang lebih 16 miliar. ck..ck.. pantes banyak yg daftar..

@budiarnaya: setuju Bli, biasanya saya juga begitu. hehe..

@Ifan: makasih komennya mas Ifan, semoga ke depan pemilukada kita bisa lebih baik lagi..

@jabon: misalnya apa bro..? :)

Agung Pushandaka said...

Ndak semua calon pemimpin atau pemimpin yang sudah berniat untuk korupsi. Niat untuk korupsi itu justru paling kecil pengaruhnya menurut saya. Tapi sistem di instansi, peraturan perundangan dan budaya di masyarakatlah yang lebih besar pengaruhnya kenapa banyak orang yang korupsi daripada niat dari calon itu sendiri.

Tapi saya setuju dengan khotbahnya. Sebaiknya kita semua merenung, kenapa kita ndak bisa mengubah budaya di masyarakat yang berpeluang menciptakan dan membuka kesempatan kepada orang-orang yang ndak teguh pendirian menjadi seorang koruptor.

muamdisini said...

hahaha..
gak usah ikut gila mas...
kita ini kan hanya rakyat jelata, sudah susah karena tingginya harga, jangan tambah susah mikirin mereka..

tapi tulisannya keren kmas,,
salam kenal..

wahyu said...

@Agung: bila masyarakat dan budaya sudah seperti itu, yang menjadi kontrol adalah diri ini. mari mulai berubah dari diri sendiri.

Semoga para pemimpin kita nanti mempnyai hati yang bersih dan kuat menahan cobaan lingkungan.

@muamdisini: iya, saya ndak gila. hanya sedikkit kurang. hehe..
terimakasih apresiasinya..

Anonymous said...

Asw... k'wahyu,, kenalkan nama saya ghina.. saya juga seorang chemist!! yaa.. menujulah.. soalnya lg nyusun skripsi.. ghina baru baca2 bacaan k'wahyu,, sangat menarik n berguna tentunya,

wahyu said...

hai Ghina. namanya bagus.
makasih atas apresiasinya. dan maaf juga gak sempet update tulisan baru.

Sukses skripsinya.

pulsa elektrik murah said...

memang ini adalah kenyataannya sob,sering saya melihat banyak dari para jamaah yang sampai mendekur pas waktu pembacaan khotbah ini