Thursday, October 9, 2008

Lebaran dan bermaafan..

Lebaran oh lebaran.. Meski sudah lewat, kata minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin, masih sering kita dengar dan ucapkan. Sampai sekarang-pun inbox email saya masih menerima ucapan sejenis. Moment lebaran memang identik dengan maaf memaafkan.

Satu hal yang menarik yang saya amati. Dalam melakukan prosesi bermaafan, sebagian besar tampak dilakukan dengan begitu ringannya. Seperti tidak ada pemaknaan dan penghayatan. Tidak terlihat adanya ketulusan dan kesadaran penuh dari dalam hati. Seolah hanya lepas di ujung lidah. Hanya selintas. Tidak membekas.

Sekarang.. Coba tanya ke dalam diri sendiri. Apakah saat berpapasan dengan teman dan saling bermaafan lahir batin, anda meresapi dengan sungguh-sungguh dan menyadari bahwa saat itu anda sedang mengakui semua kesalahan yang mungkin telah dilakukan dan anda saat itu sedang meminta maaf atas kesalahan tersebut. Atau dilakukan secara spontan. Seolah hanya menjalani ritual lebaran.

Terkadang, karena sudah menjadi ritualitas, bermaafan yang sesungguhnya memiliki pemaknaan yang sakral menjadi begitu biasa dan tanpa kesan. Hambar. Orang yang memberi maaf-pun terkadang hanya sebatas lisan tanpa adaya kesadaran bahwa saat itu dia sedang mengikhlaskan dan memberikan maaf kepada orang yang mungkin telah melakukan kesalahan dan menyakiti perasaannya. Padahal sama seperti prosesi meminta maaf, memberikan maaf-pun mempunyai makna yang dalam. Dilakukan dengan penuh kesadaran memberikan maaf.

“Sori..”, kata yang keluar spontan sesaat setelah menginjak kaki penumpang lain dalam busway. “Oh.. Maaf..”, saat menabrak pejalan kaki lain saat mengejar bus jemputan. Semuanya sambil lalu. Tanpa ada rasa menyesal dan bersalah. Yang sebetulnya merupakan inti dari permintaan maaf.

Dan saya khawatir, mudahnya meminta maaf akan membuat mudah juga untuk melakukan kesalahan. Kesalahan dan menyakiti perasaan orang lain dianggap hal yang biasa dan sepele yang akan dengan mudah dapat dibersihkan dengan permohonan maaf. Ringannya meminta maaf membuat kita tidak mejaga sikap dan tingkah laku dari menyakiti orang lain. Tidak adanya penyesalan dan pelajaran yang diambil.

Yuk.. sekarang kita lebih hayati dan perdalam makna prosesi bermaafan sehingga kita akan berpikir dan hati-hati untuk melakukan kesalahan. Tujukkan rasa penyesalan telah melakukan kesalahan dan tanamkan dalam hati untuk tidak mengulangi.

“Maaf ya kalo ada tulisan yang kurang berkenan..”.


1 comment:

Jean Alberti said...

Really Awesome………very nice post. You are Expert in your profession. It's very interesting in a post. I appreciate you keep do a posting. Jean Alberti