Friday, January 16, 2009

Jambret..

*****

Dewi berjalan di gang pasar yang sempit. Kedua tangannya penuh dengan berbagai barang. ‘Permisi.. ’, ujarnya menembus arus manusia yang padat. Tubuhnya dimiringkan ke kiri dan kanan melewati celah manusia yang sempit. Pakaiannya basah oleh keringat. Kedua lengannya keram, kakinya pegal luar biasa sedari pagi berkeliling pasar.

Dewi baru dapat bernafas lega setelah keluar dari dalam pasar. Ruang terbuka membuatnya lebih tenang. Dia meletakkan barang-barangnya dan menarik nafas dalam-dalam. Aroma sampah dan asap kendaraan menyelinap masuk bersama udara yang dihirupnya. Sengak. Busuk. Tajam menggerus rongga hidung.

Matahari sudah tinggi dan panasnya terasa menyengat di wajah. Sudah cukup lama Dewi berbelanja. Padahal sewaktu berangkat tadi matahari masih mengintip di ujung cakrawala. Langit di sebelah barat masih gelap. Dewi menyapukan pandangannya, matanya menyipit silau oleh cahaya sang surya. Agus yang seharusnya menjemput tidak terlihat. ‘Kemana dia??’, pikir Dewi.

Dewi memutar badannya dan mamandang ke arah timur sepanjang jalan. Tangan kanannya diangkat ke atas dahi meneduhi mata dari silaunya cahaya matahari. Dia melihat deretan becak, kios-kios kaki lima, tukang ketoprak, angkot yang sedang menunggu penumpang, orang yang lalu lalang. Tapi Agus tak nampak.

Sementara itu di depan warung kopi di seberang jalan tampak seorang lelaki memperhatikannya. Pandangannya lurus menatap Dewi. Jari-jari tangannya sibuk memain-mainkan sebatang rokok. Diputarnya rokok tersebut diantara jari telunjuk dan jari tengah. Asap putih menari-nari keluar dari ujungnya yang membara.

Gerakan berputarnya tiba-tiba berhenti. Rokok dihisapnya. Dihembuskan. Dihisap lagi. Kali ini lebih dalam. Lebih lama. Seolah ingin menghisap habis semua kenikmatan yang tersisa. Dibuangnya rokok ke tanah. Dilumatnya dengan gilasan kaki. Sambil menghembuskan asap tebal keluar dari mulutnya, lelaki itu bergerak mendekati Dewi.

Matahari semakin menyengat. Tampak udara kering berhembus berputar membentuk pusaran kecil, menari-nari sambil membawa debu dan sampah-sampah plastik, dan buyar di terjang becak yang penuh muatan sayur mayur.

Dewi merasa kepalanya pening. Dia teringat perutnya belum kemasukan makanan semenjak pagi tadi. Keringat dingin menetes dari keningnya, mengalir ke leher, dan masuk turun melalui belahan dadanya. Dewi mengangkat barang belanjaannya, melangkah menuju emperan toko untuk berteduh.

Seseorang tiba-tiba datang dari arah belakang. Aroma keringat bercampur bau rokok menghambur tajam menyergapnya.. “Mari saya bantu Bu’, Lelaki itu sudah berdiri di sampingnya, badannya membungkuk seraya tangannya berusaha meraih keranjang belanjaan.

Dewi terkejut. ‘Ah.. tidak usah’. Jawabnya singkat sambil cepat berjalan menghindar. Lelaki itu masih terus mengejar. ‘Tak apa-apa Bu. Ibu pasti kerepotan. Mari saya bawakan’. Tangan lelaki itu bergerak. Entah bagaimana tiba-tiba saja keranjang itu sudah di tangannya. Secara refleks Dewi berusaha merebut kembali keranjangnya. ‘ihh.. apa-apaan sih ini’. Gerutunya. ‘Saya mau bantu Ibu’, balas lelaki itu masih tetap memegang keranjang. Dewi melepaskan kantong plastik di tangan kirinya. Tangan yang bebas itu kini ikut menarik keranjang belanjanya. ‘Hei.. mau bapak apa sih..?!’, teriak Dewi. Instingnya mulai merasakan ada yang tidak beres. Kewaspadaannya muncul. Adrenalin mengalir deras. Adegan itu mulai menarik perhatian orang sekitar.

Perhatian orang banyak membuat lelaki itu sadar. Dilepaskan tangannya dari keranjang Dewi. Namun hal itu justru berakibat fatal. Dewi jatuh terjengkang karena momentum tarikannya sendiri. Barang-barangnya berhamburan ke segala arah. Orang-orang sontak menoleh.

Jambreeet..!!’, terdengar suara teriakan. Lelaki itu menoleh ke kanan dan ke kiri dan ketakutan jelas terpancar di wajahnya. ‘Jambreeet!! Tangkap..tangkap..!’, suara lain mulai menyahut. Entah siapa yang memulai, beberapa orang mulai bergerak mendekat. Para tukang becak yang sedang mangkal terlihat berlarian menghampiri.

Melihat gelagat yang tidak diinginkan, lelaki tadi mengambil langkah seribu. Meninggalkan keranjang dan Dewi yang masih belum bangkit dari jatuhnya. Tukang becak, pedagang kaki lima, calo dan preman langsung bergerak mengejar. Kumpulan pemuda pengangguran yang sedang nongkrong kongkow di bawah tenda kaki lima ikut bergabung. “Woii.. berenti lo..!!’. Teriak salah seorang dari mereka. ‘Jambreeet..!!, tangkap..tangkap..!!’.

Lelaki itu terus berlari. Berlari dan berlari. Jauh di depannya terbentang sungai ciliwung. Satu-satunya jalan di sisi sungai sudah dijaga beberapa orang, mengantisipasi sang jambret lari ke arah mereka. Semakin mendekati ujung jalan orang-orang sudah bersiap untuk menghalau. Bahkan ada yang membawa potongan bambu panjang. Tidak ada jalan keluar. Satu-satunya jalan adalah terjun ke dalam sungai. Dan dia melompat ke dalam sungai diiringi teriakan para pengejarnya yang riuh ramai.

Air sungai yang hitampun bergolak. Lumpur terangkat dahsyat. Gelembung besar membuyarkan air yang semula tenang. Mengangkat semua kotoran lumpur dan bau busuk ke udara. Orang-orang berhenti di pinggir sungai. Menunggu. Sementara air sungai yang hitam masih terus bergolak.

Setelah air kembali tenang, beberapa orang mulai menyisir sisi kali, melihat ke bawah jembatan, dan melongok ke dalam gorong-gorong. Tapi sang jambret tidak terlihat sedikit pun. Akhirnya seseorang berinisiatif menggunakan rakit yang biasa digunakan untuk membersihkan sampah sungai. Dua orang di atas rakit bergerak menusuk-nusukkan tongkat bambu ke bawah sungai, gelembung-gelembung hitam membuncah keluar bersama aroma tak sedap. Amoniak.

Diatas rakit, terlihat salah seorang membungkuk, sebagian tangannya sudah berada di dalam sungai. Temannya yang lain segera ikut membungkuk membantu menarik sesosok tubuh dari dalam sungai. Air sungai yang hitam dan beracun telah membunuhnya. Bahkan sebelum dia kehabisan nafas. Mayat itu lalu di bawa ke tepi. Diangkat beramai-ramai dan digeletakkan di pinggir jalan aspal. Matanya setengah terbuka dan tubuhnya masih terasa hangat, pertanda jejak nyawa yang baru saja pergi. Seseorang maju ke depan. Menutup mayat tersebut dengan beberapa lembar koran.

Perlahan-lahan kerumunan itu bubar. Kembali pada rutinitas kehidupan. Membawa satu bahan obrolan ringan. Hari itu. Seorang jambret tewas tenggelam..

*****

Sugeng duduk terpaku di amben depan rumahnya yang berada di pinggiran kali ciliwung. Tangannya memegang selembar kertas. Amplop yang telah terbuka tergeletak di sampingnya. Aroma tak sedap yang keluar dari sungai tak dirasakannya. Sudah sepuluh tahun dia tinggal di rumah tersebut. Hidungnya sudah tebal dan terbiasa.

Istrinya keluar sambil membawa secangkir kopi. ‘Bagaimana pak?’, katanya sembari meletakkan kopi di samping suaminya. Suaranya penuh harap, dan ada kepasrahan disana. Sugeng diam. Matanya masih terpaku pada kertas dihadapannya. Surat itu terasa berat. Membebani jari-jarinya. Lengannya. Membawa perasaan gelisah ke seluruh tubuhnya. Mengalir dan menumpuk berat di dada.

Kemaren pagi datang utusan dari sekolah membawa amplop berisi surat. Surat dengan cap sekolah di dalamnya. Yang menandakan surat itu resmi. Sah. Formal dan berkuasa. Surat itu adalah surat pemberitahuan sekaligus peringatan. Bila sampai tanggal sepuluh bulan ini dia tidak melunasi uang SPP, maka pihak sekolah terpaksa tidak mengijinkan Rani, anaknya, mengikuti ujian akhir.

Sugeng menarik nafas. Dilipatnya kembali surat itu ke dalam amplop. Diletakkannya di samping kopi yang mulai dingin. Dia berdiri., mengambil rokoknya yang tinggal setengah. Dan berjalan pergi meninggalkan istrinya.

’Kopinya tidak diminum Pak?’, tanya istrinya. Sugeng hanya menggeleng perlahan tanpa menoleh. Dilihatnya punggung suaminya itu menjauh. Meski suaminya tidak menjawab. Dia tahu. Dia tahu bahwa besok, Rani tidak akan ikut ujian akhir.

Sugeng duduk di sebuah warung kopi di depan pasar. Pikirannya penuh. Dalam seminggu dia harus berhasil mengumpulkan uang 200 ribu rupiah. Jumlah yang besar. Dengan pekerjaannya sebagai kuli angkat pasar yang berpenghasilan hanya 25 ribu perhari, itupun tidak tentu. Belum lagi biaya makan harian. Mustahil baginya untuk menngumpulkan uang sebanyak itu dalam seminggu.

Didepannya, dia melihat seorang wanita membawa begitu banyak barang. Dia tampak kelelahan. Matanya menoleh ke kanan dan kiri. Mungkin mencari kuli angkat untuk membantu mengangkat belanjaannya.

Saatnya kerja. Pikir Sugeng. Dia tak mungkin dapat membayar SPP anaknya hanya dengan melamun dan meratapi nasib. Dia harus bekerja lebih keras. Lebih giat. Demi masa depan anaknya. Demi menjauhkan buah hatinya dari jejak nasib orangtuanya yang terbelenggu kebodohan dan kemiskinan.

Tiba-tiba semangat menjalar di tubuh Sugeng. Dihisapnya rokoknya untuk yang terakhir kali. Dibuang dan diinjak dengan gilasan kakinya. Dan dia bergerak dengan sejuta harap dan bayangan wajah anaknya.

’Mari saya bantu Bu’, katanya seramah mungkin. ’Tidak usah’, tolak wanita itu. Tidak menyerah dia kembali menawarkan bantuannya. ’tak apa-apa, mari saya bawakan’. Tangannya bergerak mengambil alih keranjang yang berat.

Dengan keras wanita itu menarik kembali barangnya. Tanpa bisa berbuat apa Sugeng melepaskan peganngannya. Wanita itupun terjatuh ke belakang. Sugeng terkejut dan berusaha menolong. Namun terlambat. Wanita itu terjengkang jatuh . Seluruh barangnya buyar berantakan.

’Jambreeet!!’, satu suara terdengar.. ’Tangkaap.. jambreet!!’, suara lain menyusul. Kepanikan menyergap Sugeng. Dia melihat beberapa orang mulai bergerak mendekat. Siap menangkap dan menghakiminya. Dipimpin oleh insting menyelamatkan diri, Sugeng berlari. Berlari secepat mungkin, berlari pergi dari kenyataan.

Para pengejar bertambah banyak. Bahkan dilihatnya beberapa orang siap menghadangnya di depan. ’Mati aku,’ pikirnya. Sugeng terus berlari. Nafasnya tersengal. Tenggorokannya kering dan panas. Dia berlari dan terus berlari.

Tiba-tiba semua suara lenyap. Hening. Semuanya terlihat bergerak dalam gerakan lambat. Setiap gambar dan adegan dapat terlihat jelas olehnya. Dia melihat orang berteriak. Orang yang menunjuk-nunjuk ke arahnya. Orang berlari. Semuanya dalam gerakan lambat. Tanpa suara.

Tiba-tiba dia melihat dirinya sendiri berada dalam suatu perlombaan lari. Para penonton membludak di kanan dan kiri. Didengarnya suara orang-orang memberinya semangat. Dia menoleh dan melihat para pesaingnya berlari mendekat di belakangnya. Sugeng mempercepat larinya.

Di depan, dia melihat istri dan anaknya berdiri sambil melambai-lambaikan tangan. ’Ayo Pak.. Ayo..’, di dengarnya Rani berteriak memberi semangat. Ah.. mimpi. Ini pasti mimpi.. Pikirnya. Maka Sugeng-pun terus berlari. Berlari menikmati mimpinya untuk yang terakhir kali.

Sebentar lagi.. Ya.. Sebentar lagi dia akan memenangkan perlombaan. Kemudian dia melompat. Melompat menyongsong garis finis. Lalu gelap..

Sugeng mendapati dirinya dikelilingi kegelapan. Dan dia sulit bernafas. Sesak. Dia meronta-ronta, menggerakkan tangan dan kakinya ke segala arah. Dia masih merasa sesak. Sesak yang sangat. Seolah dia berada di ruang hampa udara. Sekuat apapun dia mencoba bernafas, sedalam apapun dia mencoba menghirup, tapi tetap tak ada udara. Dan dadanya berat. Seolah seekor gajah berdiri menghimpitnya..

Dia meronta, dan terus meronta. Akhirnya Sugeng diam. Dia merasa amat lelah. Lelah setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Dia ingin istirahat. Tidur.. Ya, Tidur..! Itulah yang dibutuhkannya. Lalu dia berbaring. Menutup kedua matanya dengan perlahan. Sosok istri dan anaknya mulai menghilang. Pudar menjadi bayang-bayang. Dan dia tidak merasakan apa-apa. Sugeng tertidur..

15 comments:

marsudiyanto said...

Selamat berkarya di bidang penulisan... Hidup Prosa

wahyu said...

haha..
coba-coba pak.

suryaden said...

bagus sekali cerpennya mas, aku seneng, dan melukiskan keadaan seakrang yang memang sudah seperti itu, orang saling memakan orang, karena rebutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya...

nice posting...

suryaden said...

salam kenal mas,
postingan lainnya kimia dan aneh-aneh juga ya...
kalo kimia mumet wis...

wahyu said...

Makasih comment-nya Mas Suryaden. Iya nih. Isinya memang macem-macem. Namanya aja cuma buat iseng..

Lam kenal juga.

sawali tuhusetya said...

cerpen yang berupaya utk memotret gejolak sosial ketika negeri ini sdh memasuki zaman kalabendu. cerpen yang bagus dan mencerahkan, mas wahyu. salam kreatif!

wahyu said...

makasih commentnya Pak Sawali.
salam kreatif..

delenger said...

Di bagian pertama, emosiku berkata : syukurin loe, mampus.
Di bagian kedua, aku tersadar betapa jahatnya pikiranku tadi.
Nice post,om.
Ternyata dirimu sangat berbakat juga. Cerita ini bisa membuat kita mawas diri terhadap cara pandang kita yg sempit.

wahyu said...

betul boss..
memang itu yang mau saya sampaikan.

Ah.. mas wisnu ini. bukannya sampeyan yang gaya tulisannya sudah cucok bikin karya sastra.

Kapan nih karyanya di 'publish' di blog?

wisnoe said...

karya yg mana seh...
tulisan pating carut cemarut gitu kok.

Rie Rie said...

lhah...ternyata ada cerpennya juga, menarik. Dua cara pandang yang berbeda dalam satu cerpen. Rupanya Rie bisa berguru banyak disini...makasih..

wahyu said...

ah.. mbak Lestari ini suka merendah.
Makasih dah mendapat kehormatan dikunjungi tamu jauh dari Hongkong..

Rie Rie said...

gpp khan kalo Rie mengambil ide cara penulisan cerpen ini, Rie pengin buat crikak(crita cekak-dlm bhs jawa) yang cara menulisnya kayak ini...boleh khan??

wahyu said...

Monggo mbak. maaf baru sempet bales. saya gak sempet ngutak ngatik blog lagi. hehe..

Anonymous said...

ini baru gaya penulisan cerpen yang menarik.
ga cuma melulu pake alur maju, mundur ato maju-mundur.
Salut buat ayahnya Adhil. Keren abizzz...