Thursday, January 15, 2009

Development metode analisis

Pekerjaan saya mengharuskan untuk kerap bersinggungan dengan kebutuhan akan analisa senyawa yang tidak umum dan tidak biasa digunakan. Hal ini membawa satu permasalahan akan ketersediaan metode analisa yang harus digunakan. Sebagai contoh, baru-baru ini studi dan riset di tempat saya mengharuskan saya untuk melakukan analisa Lovastatin. Suatu senyawa golongan statin yang diketahui memiliki aktifitas sebagai anti kolesterol.

Karena analisa zat ini tidak umum dilakukan, maka ketersediaan metode analisa yang baku-pun sulit diperoleh. Atau bahkan belum ada. Terutama untuk sample produk bioteknologi yang saya hadapi. Oleh karena itu mau tidak mau saya harus mencari dan membuat metode analisa sendiri.

Kimia analisis berhubungan dangan metode untuk menetukan komposisi kimia dari suatu sample. Suatu zat/senyawa dapat diukur dengan menggunakan beberapa metode analisa seperti Spektoskopi, HPLC, GC, dan lainnya. Pemilihan metode analisa yang akan digunakan tergantung dari beberapa pertimbangan, misalnya sifat-sifat senyawa yang ingin di analisa, konsentrasi senyawa dalam sample, waktu analisa, biaya, tipe analisa, kualitatif atau kuantitatif, dan jumlah sample.

Analisa kualitatif bertujuan untuk mengetahui informasi tentang identitas kimia dari analat dalam suatu sample. Sedangkan analisa kuantitaif untuk mengetahui jumlah dan konsentrasi analat tersebut dalam sample. Tentu saja informasi kualitatif diperlukan sebelum dapat melakukan analisa kuantitatif. Proses separasi biasanya diperlukan baik untuk analisa kualitatif atau analisa kuantitatif.

Karena saya telah beberapa kali melakukan development metode analisa untuk HPLC, maka sedikit akan saya ceritakan apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan metode untuk analisa secara HPLC.

Sebelum memulai pembuatan metode analisa, perlu untuk mengetahui labih jauh tentang sifat-sifat sample, tujuan analisa, berapa jumlah sample yang nantinya akan dianalisa dengan metode terkait, serta perlu dilihat jenis instrument HPLC yang dimiliki.

Sifat-sifat sample, seperti apakah hidrophobik atau hidrofilik, apakah mempunyai fungsi protolitik, semua itu akan menentukan pemilihan sistem HPLC yang digunakan.

Terkadang tahapan preparasi sample jauh lebih rumit dan sulit. Hal ini karena sebelum sample diinjeksikan ke dalam column HPLC, diusahakan sample sebersih mungkin dan mengandung kotoran/impuritis seminimal mungkin. Ini diperlukan untuk mendapatkan signal yang bagus yang dapat meningkatkan akurasi hasil analisis. Selain itu juga, sample yang bersih akan memperpanjang life time dari column yang digunakan. Untuk sample yang mengandung analat dalam jumlah yang sangat sedikit, tidak jarang diperlukan proses pemekatan agar dapat terdeteksi oleh detektor.

Pemilihan detektor juga merupakan faktor penting lainnya.
Biasanya dalam mengembangkan suatu metode analisa HPLC, yang menjadi kunci pemilihan metode adalah detektor dan column yang tersedia. Oleh karena itu perlu di ingat detektor dan column apa yang kita miliki. Apabila alat HPLC kita hanya dilengkapi dengan detektor UV, maka carilah metode analisa dengan menggunakan detektor tersebut. Sehingga metode HPLC lainnya yang menggunakan detektor selain UV dapat dikesampingkan. Hal ini dapat mempersempit pilihan terhadap metode analisa yang akan di ambil.

Tahap terakhir yang harus dilakukan adalah validasi method. Namun ingat, biasanya metode analisa yang digunakan untuk research tidak memerlukan validasi sedetail sebagaimana metode analisa untuk Quality control. Karena fungsi analisa dalam research biasanya hanya untuk membandingkan dan melihat perbedaan. Bukan untuk menentukan kandungan secara akurat. Untuk sample bioteknologi syarat parameter dalam validasi, misalnya akurasi, presisi, dan lainnya, lebih longgar di banding syarat validasi untuk metode lainnya. pada farmasi misalnya.

3 comments:

Anonymous said...

mas wahyu,,saya rina mahasiswa brawijaya.saya bukan blogger, tetapi saya tadi baca di forum kimia indonesia yahoo group, ada nama wahyu riyadi disana yang melakukan derivatisasi menggunakan FMOC (dikirim tanggal 16 januari 2008). apa itu mas wahyu??

saya sedang mengalami kesulitan untuk analisa profil asam amino.saya sangat membutuhkan informasi keberadaan OPA (ortho phthaldehyde) dan FMOC(fluorenyl methyl chloroformate / Fluorenylmethyloxycarbonyl chloride) untuk analisa profil asam amino..apa mas wahyu tau di lab apa atau dimana saya bisa mendapatkan bahan tersebut ya??
sebenarnya saya juga sudah menanyakan dimana2, tentang analisa profil asam amino, tetapi kebanyakan kolom yang dipakai sedang rusak, ada juga yang hanya bisa keluar 13 asam amino saja..
saat ini penelitian saya sementara mandeg (tidak ada progress) karena saya blum mendapatkan bahan tersebut..
analisa profil asam amino ini sangat penting bagi penelitian saya, karena hanya analisa ini yang bisa menjawab fenomena penelitian saya,,,,
mohon bantuannya, mungkin mas wahyu mengetahui dimana saya bisa mendapatkan bahan2 tersebut....
informasi mas, sangat berarti bagi kelanjutan penelitian saya, terima kasih banget sebelumnya..
mohon bantuannya..

Anonymous said...

mohon bantuannya ya mas.
saya tunggu d blog mas, djawab di comment ni aja jg ndak apa apa..
tolong ya mas bisa diinformasikan segera..
saya sedang dikejar deadline...
terimakasih banyak (rina-brawijaya)

wahyu said...

Ini Rina yang Shanti Karinawatie bukan??

Kalo iya, jawaban udah saya kirim via email.

Maaf cuma bisa bantu segitu, semoga membantu..